Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Cara Ahli Kanker Dunia Tangani Pasien agar Punya Kualitas Hidup yang Lebih Baik

Studi berbasis populasi menyatakan bahwa kejadian kanker yang berat cenderung akan menimpa satu kelompok individu daripada kelompok lainnya.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Cara Ahli Kanker Dunia Tangani Pasien agar Punya Kualitas Hidup yang Lebih Baik
Rina/Tribunnews
ONCOLOGY SUMMIT - Kegiatan Siloam Oncology Summit ke-5 di Jakarta, Sabtu (17/5/2025) yang digelar MRCCC. Dibuka oleh Ketua IDI Wilayah DKI Jakarta, dr. Aldrin N. Pancaputra, Wakil kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKi Jakarta Dwi Oktavia, CEO Siloam Hospital Group, Caroline Riady, Executive Director MRCCC Siloam Hospitals Semanggi Dr Edy Gunawan, MARS. 

TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA -- Ahli kanker dari Cancer Center, di Houston, Texas, Amerika Serikat Prof. Dr. Deborah A. Kuban M.D dari MD Anderson membagikan pengalamannya, menangani pasien kanker agar mempunyai kualitas hidup yang lebih baik.

Penanganan itu, disebutnya perlu melibatkan tim multidisiplin.

Hal itu disampaikan dalam kegiatan Siloam Oncology Summit ke-5  yang digelar MRCCC di Jakarta, Sabtu (17/5/2025).

Ia menyampaikan, kolaborasi adalah kunci dalam penanganan yang dilakukan oleh tim multidisiplin.

Baca juga: Berjuang Melawan Penyakit Kanker, Nunung Sempat Diajak Meditasi oleh Mendiang Titiek Puspa

Perawatan ini berpusat pada pasien, dan memerlukan sebuah tim.

Ada beberapa interaksi dalam perawatan multidisiplin yang harus dipahami.

Seperti memerlukan pengalaman profesional yang beragam mulai dari ahli bedah onkologi, ahli onkologi, diagnostik, patologi, oncomedicine, radiasi.

Rekomendasi Untuk Anda

"Belum lagi perawat onkologi, riset, psikososial, yang akan bersinggungan dengan kebutuhan pasien untuk pengambilan keputusan terbaik. Perawatan ini harus dikoordinasikan dan tidak linier,” jelas Prof. Deborah.

Manfaat pendekatan multidisiplin dalam penanganan kanker berupa:

1. Pendekatan dilakukan secara tim yang merupakan gabungan dari berbagai ahli.

2. Mengurangi fragmentasi atau keputusan yang dilakukan secara terpisah.

3. Mengurangi tindakan dan layanan yang tidak perlu, termasuk biaya yang tidak perlu.

4. Memperbaiki komunikasi dokter dan pasien.

5. Mempersingkat waktu diagnosis hingga terapi potensi hasil yang lebih baik.

“Melalui pendekatan multidisiplin ini, hasilnya sangat luar biasa dan manfaatnya banyak sekali,” tegas Prof. Deborah.

Ditambahkan Principal Investigator Genome Diversity and Disease at Mochtar Riady Institute for Nanotechnology, Prof. dr. Herawati Sudoyo tim multidisiplin juga dibutuhkan dalam riset kanker.

Genomik adalah dasar dari penanganan kanker.

Studi berbasis populasi menyatakan bahwa kejadian kanker yang berat cenderung akan menimpa satu kelompok individu daripada kelompok lainnya. Riset di bidang genomik mencoba mencari apa penyebabnya.

Riset pun pasti akan berkolaborasi dengan berbagai ilmuwan atau periset dari berbagai multidisiplin.

“Jadi peran pendekatan genetik dalam penanganan kanker akan berlangsung terus menerus, dari sisi etiologi, prevalensi, skrining, diagnosis, pengobatan, bahkan sampai perawatan tahap akhir atau paliatif care,” jelas Prof. Herawati.

Pertemuan ilmiah ini berlangsung hingga 18 Mei 2025 dengan peserta 700 partisipan yang terdiri dari dokter subspesialis, dokter spesialis, dokter umum, radiologis, perawat, perwakilan rumah sakit, dan lain-lain yang terkait dengan manajemen kanker.

Data kanker 60-70 persen terdiagnosis dalam stadium lanjut inilah yang bikin berat beban pembiayaan. Pengobatan lebih kompleks, outputnya tidak sebaik jika deteksi dan penanganan sejak dini.

Data International Agency For Research on Cancer (IARC) menunjukkan kasus kanker baru di Indonesia setiap mencapai 108.000 kasus dengan lebih dari 24 ribu kematian.  

Di sisi lain, pembiayaan kanker mencapai 6,5 Triliun rupiah di tahun 2024 atau menempati urutan kedua dari klaim ke BPJS.

Dengan tema United by Unique, CEO Siloam Hospital Group, Caroline Riady menjelaskan, setiap pasien itu unik dan memiliki riwayat yang berbeda, kondisi biologis yang berbeda, dan harapan yang berbeda.

“Begitu pula para profesional yang terdiri dari ahli onkologi, ahli bedah, ahli patologi, ahli radiologi, perawat, peneliti, manajemen, semuanya membawa keahlian mereka yang berbeda kemudian dipersatukan oleh tujuan bersama dan berkolaborasi memberikan perawatan kanker terbaik. Melalui pendekatan multidisiplin. Diharapkan dapat menyesuaikan perawatan dengan kondisi unik setiap pasien, menyediakan perawatan kanker yang tidak hanya efektif, tetapi juga penuh kasih sayang, holistik, dan berkelanjutan,” kata Caroline.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas