Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Waspadai Kanker Hati, Penyakit Mematikan Nomor 6 di Dunia

Kanker hati menjadi perhatian serius dunia medis lantaran angka kasusnya yang terus meningkat.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Febri Prasetyo
zoom-in Waspadai Kanker Hati, Penyakit Mematikan Nomor 6 di Dunia
Tribunnews/Rina Ayu
AHLI KANKER. Konsultan Senior Onkologi Medis di Parkway Cancer Centre, Singapura Dr. Foo Kian Fong menyebut, kanker hati menjadi perhatian serius medis dunia, lantaran angka kasusnya yang terus meningkat. Kanker hati menempati posisi ke-6 penyakit mematikan di dunia dan posisi ke-3 penyebab kematian akibat kanker secara global. Hal itu dia sampaikan saat temu media di Jakarta, Sabtu (21/6/2025). 

TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA – Dr. Foo Kian Fong, konsultan senior onkologi medis di Parkway Cancer Centre, Singapura, menyebut kanker hati menjadi perhatian serius dunia medis lantaran angka kasusnya yang terus meningkat.

Kanker hati menempati posisi ke-6 penyakit mematikan di dunia dan posisi ke-3 penyebab kematian akibat kanker secara global.

“Tingkat kematiannya tinggi karena gejalanya kerap tidak tampak diawal. Kebanyakan pasien datang sudah dalam keadaan stadium lanjut. Ini jadi tantangan terbesar dalam penanganan kanker hati,” tutur dia saat temu media di Jakarta, Sabtu (21/6/2025).

Tanda-Tanda Kanker Hati

Tanda-tanda yang perlu diwaspadai adalah nyeri di perut kanan atas, penurunan berat badan drastis, kehilangan nafsu makan, mual, muntah, kulit dan mata menguning (jaundice), pembengkakan perut akibat cairan (ascites), serta perubahan warna pada urine dan tinja.

Namun, untuk mendiagnosis kanker hati yang akurat, Dr. Foo mengatakan perlu ada kombinasi antara pencitraan radiologi dan uji laboratorium serta biopsi jaringan

Penyebab

Selain infeksi virus, faktor risiko lain berupa konsumsi alkohol jangka panjang, penyakit hati berlemak non-alkohol (NAFLD), paparan aflatoksin dari makanan yang terkontaminasi jamur, serta kondisi medis seperti obesitas dan diabetes tipe 2.

Karena itu, deteksi dini menjadi sangat penting, terutama bagi kelompok risiko tinggi seperti penderita hepatitis kronis atau sirosis.

Rekomendasi Untuk Anda

Pemeriksaan skrining yang umum dilakukan meliputi ultrasonografi (USG) hati, tes darah alfa-fetoprotein (AFP), serta pencitraan melalui CT scan atau MRI untuk menilai ukuran dan lokasi tumor. Konfirmasi diagnosis biasanya dilakukan melalui biopsi jaringan.

Baca juga: Pertama di Indonesia, Bio Farma Produksi Alat Pendeteksi Kanker

Metode Pengobatan dan Terapi

Pilihan pengobatan sangat bergantung pada stadium kanker, ukuran tumor, kondisi hati, serta kesehatan umum pasien.

Metode yang tersedia antara lain: pembedahan (reseksi hati), transplantasi hati, ablasi (radiofrekuensi atau microwave), TACE (Transarterial Chemoembolization), SIRT/TARE, terapi target dan imunoterapi.

Bisakah Pasien Disembuhkan?

Dr. Foo mengatakan jika kanker hati terdeteksi lebih awal, kemungkinan sembuh cukup tinggi melalui operasi atau transplantasi hati.

Namun jika tidak, kombinasi terapi sistemik dapat memperpanjang harapan hidup dan meningkatkan kualitas hidup pasien seperti terapi imun dan terapi target yang lebih spesifik dan minim efek samping.

Pendekatan multidisiplin yang melibatkan onkolog, hepatolog, dan ahli bedah kini menjadi standar dalam penanganan kasus kanker hati.

“Penanganan kanker hati kini dilakukan secara multidisiplin, melibatkan tim dokter dari berbagai spesialisasi agar rencana perawatan dapat disesuaikan dengan kondisi unik tiap pasien,” tutur dia.

Pencegahan

Pentingnya vaksinasi hepatitis B, pemeriksaan rutin bagi individu dengan infeksi hepatitis kronis, serta gaya hidup sehat seperti membatasi konsumsi alkohol dan menjaga berat badan ideal bisa menjadi strategi untuk menekan angka kejadian kanker hati.

Dengan meningkatnya kesadaran terhadap faktor risiko dan pentingnya deteksi dini, kanker hati bukan lagi vonis akhir.

Baca juga: Sakit Maag Bisa Jadi Tanda Awal Kanker Usus Besar, Segera Periksa ke Dokter

“Melalui pendekatan medis yang tepat dan kolaborasi lintas sektor, peluang pasien untuk bertahan hidup dan menjalani kehidupan yang berkualitas semakin terbuka lebar,” ungkap dia.

Merujuk data GLOBOCAN pada 2022 tercatat sebanyak 23.383 kematian akibat kanker hati di Indonesia, dengan angka kematian terstandarisasi (ASR) sebesar 7,9 per 100.000 penduduk.

Angka ini menunjukkan lonjakan signifikan dibandingkan tahun 2020, ketika tercatat sekitar 19.721 kematian akibat kanker hati.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas