Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Stres, Depresi, dan Obatnya Bisa Mengganggu Aktivitas Ranjang Pasutri

Selain mengganggu fungsi seksual secara langsung, obat-obatan antidepresan juga memiliki efek samping terhadap hasrat dan performa seksual. 

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Willem Jonata
zoom-in Stres, Depresi, dan Obatnya Bisa Mengganggu Aktivitas Ranjang Pasutri
Pexels
ILUSTRASI. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Stres dan depresi bukan hanya menurunkan semangat atau merusak suasana hati. 

Keduanya memiliki dampak besar terhadap kehidupan seksual, baik pria maupun wanita. 

Selain mengganggu fungsi seksual secara langsung, obat-obatan antidepresan juga memiliki efek samping terhadap hasrat dan performa seksual. 

“Obat-obatan untuk mencegah depresi itu akan menyebabkan ereksi hilang,” ungkap Medical Sexologist, dr. Binsar Martin Sinaga, FIAS dalam Talk Show Bugar Seksual akan membahas mengenai Stres dan Depresi: Pencetus atau Memperparah Problem Seksual pada kanal YouTube Tribun Health, Senin (7/7/2025). 

Baca juga: Stres dan Depresi Bikin Libido Drop, Ini Penjelasan Medical Sexologist

Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri dalam penanganan gangguan seksual. 

Di satu sisi, stres dan depresi harus segera ditangani secara medis, karena keduanya bisa memperberat gangguan seksual yang sudah ada. 

Rekomendasi Untuk Anda

Namun di sisi lain, pengobatan psikologis itu sendiri dapat membawa efek samping terhadap fungsi seksual. 

Meski demikian, menurut dr. Bincer, tidak cukup hanya mengobati depresinya. Problem seksual juga harus ditangani secara paralel agar kualitas hidup pasien meningkat.

Salah satu hal penting yang perlu diperhatikan adalah kadar hormon prolaktin dalam tubuh. 

Hormon ini dikenal sebagai hormon stres, dan bila kadarnya tinggi, dapat memblok proses ereksi, mengganggu mood, dan bahkan menyebabkan kemandulan. 

"Hormon prolaktin ini adalah hormon stres. Kalau seseorang itu stres, hormon prolaktinnya tinggi, dan itu harus diobati," jelasnya. 

Pemeriksaan laboratorium dibutuhkan untuk mengetahui apakah gangguan seksual berasal dari faktor psikologis, hormon, atau kondisi medis lain seperti kadar gula dan kolesterol tinggi. 

Dengan pengobatan yang menyeluruh, pasien bisa kembali menjalani kehidupan seksual yang sehat dan memuaskan.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas