Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Anak Harus Tiga Kali Suntik Imunisasi Campak Rubella, Ini Penjelasan Dokter Anak

Imunisasi campak rubella diberikan pada anak di usia 9 bulan, 18 bulan, dan kelas 1 SD (sekitar usia 7 tahun).

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Willem Jonata
zoom-in Anak Harus Tiga Kali Suntik Imunisasi Campak Rubella, Ini Penjelasan Dokter Anak
SURYA/SURYA/PUR
ILUSTRASI. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Tidak semua orang tua tahu, seorang anak yang mengikuti program imunisasi campak-rubella sesuai anjuran Kementerian Kesehatan akan mendapat tiga dosis vaksin.

Yaitu pada usia 9 bulan, 18 bulan, dan kelas 1 SD (sekitar usia 7 tahun). Tiga kali suntikan ini bukan tanpa alasan.

Ketua Satuan Tugas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Prof DR dr. Harono Gunardi, SpA, Subs TKPS(K) mengungkapkan vaksin pertama memang bisa membentuk antibodi, namun kadarnya akan menurun seiring waktu. 

Baca juga: Kemenkes: 46 Wilayah di Indonesia KLB Campak di 2025, Berikut Sebarannya

Ketika vaksin kedua diberikan, tubuh anak merespons lebih cepat dengan antibodi yang jauh lebih tinggi dan bertahan lebih lama. 

Dosis ketiga memperkuat perlindungan jangka panjang.

“Ini menerangkan mengapa anak-anak tersebut perlu mendapatkan 2 atau 3 vaksin campak, agar perlindungannya dapat berlangsung jangka panjang,” jelas dr Harsono pada diskusi media virtual, Rabu (27/8/2025). 

Efektivitas Terbukti Turunkan Kasus 99 Persen

Rekomendasi Untuk Anda

Fakta sejarah membuktikan, sebelum imunisasi campak digalakkan, Indonesia mencatat lebih dari 530 ribu kasus per tahun. 

Setelah program imunisasi berjalan, jumlahnya tinggal 122 kasus saja, turun lebih dari 99 persen.

“Jadi ini salah satu bukti bahwa vaksin campak sangat efektif dalam mengurangi penyakit campak,” ujarnya.

Sebagian orang tua masih khawatir soal efek samping. 

Padahal, data menunjukkan efek samping vaksin MR umumnya ringan, hanya 5–15 persen anak yang mengalami demam ringan, sekitar 2 persen mengalami ruam, dan 3 persen mengeluh nyeri sendi sementara.

“Artinya dapat sembuh sendiri tanpa pengobatan,” tegasnya.

Imunisasi bukan hanya soal jarum suntik, tetapi bentuk kasih sayang orang tua dalam melindungi masa depan anak. 

Dengan cakupan vaksinasi yang lengkap, generasi penerus Indonesia bisa tumbuh sehat dan terlindungi dari penyakit lama yang mestinya tak lagi jadi ancaman.

 

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas