Sering Dibilang 'Drama Bulanan'? Ini Penjelasan Psikolog Tentang Emosi Saat PMS
Perempuan sering kali dituntut untuk tetap stabil, tersenyum, dan produktif, bahkan ketika tubuhnya sedang bergejolak oleh perubahan hormon.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Choirul Arifin
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Di tengah kesibukan dan tekanan hidup yang semakin kompleks, perempuan sering kali dituntut untuk tetap stabil, tersenyum, dan produktif, bahkan ketika tubuhnya sedang bergejolak oleh perubahan hormon.
PMS atau premenstrual syndrome sering disalahpahami. Ada yang menganggapnya sekadar “drama bulanan”, padahal sebenarnya, tubuh sedang berkomunikasi lewat bahasa emosinya sendiri.
Psikolog Irma Gustiana mengingatkan, perubahan emosi yang muncul saat PMS bukanlah kelemahan.
Itu adalah sinyal alami tubuh yang butuh dikenali dan dipahami.
“PMS itu hormon yang mempengaruhi. Jadi di dunia perempuan itu memang tidak jauh-jauh dengan hormonal. Tapi bukan sesuatu yang harus dijadikan alasan ‘oh ini orang PMS nih’,” ujar Irma pada Media Gathering #TenangBersamaBluebird di Rumah Wijaya Jakarta, Kamis (16/10/2025).
Mengenali, Bukan Menyalahkan
Irma menjelaskan, kunci utama menghadapi perubahan suasana hati adalah awareness, mengenali apa yang sedang dirasakan, bukan menolak atau menghakimi diri sendiri.
“Justru disitulah kemampuan kita untuk pertama mengenali, jadi kalau rasanya gak enak, rasanya gak nyaman, dia kenali itu sebagai sesuatu yang mungkin oke, ini perasaan ini tidak enak buat saya,” ucapnya.
Dengan mengenali perasaan itu, seseorang bisa menemukan ruang untuk menenangkan diri.
Menarik napas panjang, beristirahat sejenak, atau sekadar duduk dalam diam bisa membantu otak kembali berpikir jernih.
Irma menggambarkan bagaimana sistem kerja otak saat seseorang berada dalam tekanan.
Ketika emosi sedang memuncak, bagian otak yang bertanggung jawab untuk membuat keputusan logis akan terganggu.
Baca juga: Viral Surat Izin Menstruasi di X, Ini Aturan Pekerja Wanita Boleh Libur saat Haid
Akibatnya, seseorang lebih mudah tersinggung atau bereaksi berlebihan. Maka, penting untuk mengambil jeda kecil.
“Kita perlu ambil tiga sebentar gitu ya, kenali dulu, terus kemudian kedua, mungkin kita cari tahu dulu, ini kenapa ya, kenapa saya punya masalah ini,” tutur Irma.
Latihan Sederhana untuk Ketenangan
Menurut Irma, ketenangan batin tidak datang secara instan.
Diperlukan kebiasaan kecil yang dilakukan berulang-ulang agar otak terbiasa mengenali pola stres dan mengatasinya dengan cara yang sehat.
“Latihan itu salah satunya, latihan itu gak bisa satu kali ya, barangnya ya mungkin barangnya juga lama aja itu perlu berkali-kali supaya apa, supaya otak kita punya kode,” katanya.
Baca juga: Khawatir Menstruasi Saat Lakukan Ibadah Haji? Dokter Beri Tips Ini
Beberapa latihan yang disarankan antara lain journaling, mindfulness, latihan pernapasan, dan berbicara dengan orang yang dipercaya.
“Latihannya journaling, latihannya mindfulness, latihannya breathing, latihannya dengan ngobrol. Itu banyak yang harus kita latih sehingga si otak ini punya kode saat ada masalah saya harus nyamain, karena begitulah cara otak itu bertransformasi” ungkap Irma.
Ngobrol, Salah Satu Bentuk Perawatan Diri
Menurut Irma, berbagi cerita dengan orang lain adalah salah satu bentuk terapi sederhana yang sering dilupakan.
Tidak harus dengan profesional, terkadang sekadar berbagi dengan sahabat atau keluarga bisa menjadi cara untuk memproses emosi.
“Jadi ngobrol itu sebenarnya juga bisa ngebantu ya,” tutupnya. Bagi perempuan, PMS bukanlah tanda kelemahan atau ketidakstabilan.
Ia adalah bagian dari siklus alami yang mengajak kita untuk lebih sadar pada tubuh, pikiran, dan perasaan.
Belajar memahami diri bukan hanya tentang menenangkan emosi, tapi juga menghormati tubuh yang setiap bulannya bekerja tanpa henti, untuk memberi tahu kita bahwa istirahat, empati, dan penerimaan diri juga penting.
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.