Fakta Ilmiah Influenza D yang Mulai Dipantau WHO, Akankah Jadi Wabah Baru?
Temuan virus Influenza D (IDV) di China kembali menjadi perhatian dunia. Bakal jadi wabah baru kah? Ini kata ahli.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Anita K Wardhani
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
Ringkasan Berita:
- Temuan virus Influenza D (IDV) di China kembali menjadi perhatian dunia.
- WHO hingga kini masih memantau IDV sebagai virus dengan prioritas riset, bukan sebagai ancaman darurat.
- Hingga saat ini tidak ada laporan resmi bahwa virus tersebut telah masuk ke Indonesia.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Temuan virus Influenza D (IDV) di China kembali menjadi perhatian dunia.
Virus ini mampu melakukan replikasi di sel saluran napas manusia dan menular antar hewan melalui udara, membuat para ahli menaruh perhatian pada risiko potensinya.
Baca juga: Influenza D Pada Hewan Ternak Jadi Sorotan Dunia, Pakar: Belum Ada Bukti Penularan Antar Manusia
Meski begitu, hingga saat ini tidak ada laporan resmi bahwa virus tersebut telah masuk ke Indonesia.
Hal ini diungkapkan oleh ahli kesehatan lingkungan dan peneliti Global Health Security, Dicky Budiman.
“Dari semua data yang bisa saya akses, baik publik maupun laporan resmi nasional dan internasional, belum ada laporan terverifikasi tentang isolasi IDV dari manusia di Indonesia. Namun, Kementerian Kesehatan dan pertanian perlu memeriksa hasil surveilans virologi veteriner terbaru,” kata Dicky pada Tribunnews, Senin (20/10/2025).
WHO Belum Tetapkan Status Darurat
Menurut Dicky, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO hingga kini masih memantau IDV sebagai virus dengan prioritas riset, bukan sebagai ancaman darurat.
Organisasi tersebut baru mengakui empat jenis influenza yaitu A, B, C, dan D, di mana fokus pengawasan dan vaksin masih diarahkan pada A dan B, karena keduanya telah terbukti menyebabkan penyakit serius pada manusia.
Baca juga: Polusi Udara dan Kasus Influenza Naik Warga Jakarta Masih Rajin Pakai Masker
“Untuk IDV, WHO belum mengeluarkan pernyataan darurat global ataupun rekomendasi vaksin. Artinya, belum ada bukti yang cukup untuk menyimpulkan IDV bisa menjadi wabah besar pada manusia,” jelasnya.
*Surveilans dan Proteksi Pekerja Ternak Jadi Kunci*
Meski belum berbahaya bagi manusia, potensi penularan dari hewan tetap harus diantisipasi.
Indonesia memiliki banyak wilayah peternakan aktif yang berisiko tinggi jika pengawasan lemah.
Dicky menilai, pemerintah harus menguatkan surveilans One Health agar deteksi dini bisa dilakukan sebelum muncul kasus pada manusia.
Pengawasan tak hanya di laboratorium, tapi juga di lapangan, dari peternak, pasar hewan, hingga tenaga medis hewan.
“Jangan menunggu ada penyakit baru lahir di Indonesia. Edukasi, literasi, dan surveilans harus dilakukan sekarang,” tegasnya.
Hindari Panik, Perkuat Komunikasi Risiko
Dicky menekankan pentingnya komunikasi risiko yang rasional dan bertanggung jawab, terutama di tengah arus informasi global yang cepat.
Banyak media luar yang menyebut angka paparan tinggi hingga 74 persen di satu wilayah, namun data tersebut belum memiliki dasar ilmiah yang kuat.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak pada kepanikan yang dibentuk oleh narasi sensasional.
“IDV jelas ancaman zoonosis potensial, tapi belum menjadi virus manusia yang menyebabkan pandemi. Yang harus kita lakukan sekarang adalah meningkatkan pengawasan, memperkuat riset, dan melindungi kelompok berisiko,” pungkas Dicky.
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.