Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Program Cek Kesehatan Gratis Capai 43 Juta Peserta, Prabowo Soroti Kekurangan Dokter di Indonesia

Temuan terbanyak adalah masalah gigi, mendorong pemerintah menambah fakultas dan beasiswa kedokteran.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Content Writer
zoom-in Program Cek Kesehatan Gratis Capai 43 Juta Peserta, Prabowo Soroti Kekurangan Dokter di Indonesia
Humas Otorita Ibu Kota Nusantara
CKG DI IKN - Antusiasnya penerima manfaat dalam program cek kesehatan gratis (CKG) di Kantor Balai Kota Otorita IKN, KIPP, Nusantara, Kamis (09/10/2025). Presiden Prabowo Subianto menyebut 43 juta warga telah mengikuti program Cek Kesehatan Gratis sepanjang 2025. 

TRIBUNNEWS.COM – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mengungkapkan sebanyak 43 juta warga telah memanfaatkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digelar pemerintah sejak awal tahun 2025. Program ini disebut sebagai yang pertama kali dalam sejarah Indonesia.

“Sebanyak 43 juta orang sudah menggunakan program Cek Kesehatan Gratis. Ini, saya kira, program pertama kali juga di sejarah republik kita. Setiap warga negara berhak cek kesehatan gratis sekali dalam setahun, pada hari ulang tahun,” kata Prabowo dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (20/10/2025).

Menurut Presiden, program CKG bertujuan agar masyarakat bisa mendeteksi penyakit lebih dini dan segera mendapatkan pengobatan. Dari hasil pemeriksaan massal tersebut, pemerintah menemukan salah satu masalah kesehatan yang paling sering ditemui adalah kesehatan gigi.

Baca juga: Unboxing Kado dari Pemerintah: Menjajal Cek Kesehatan Gratis, Anugerah atau Sekadar Gimmick Semata?

“Walaupun ini juga menjadi PR besar bagi kita, karena ternyata hasil cek kesehatan gratis menunjukkan sebagian besar rakyat kita punya masalah di gigi,” ujarnya.

Prabowo menilai temuan tersebut menjadi sinyal penting bagi pemerintah untuk memperkuat sektor tenaga medis, terutama dokter gigi, dokter umum, dan dokter spesialis.

“Kita tahu dokter umum saja kita masih kekurangan, dan kekurangan kita sangat besar. Kalau tidak salah, di atas 140 ribu dokter. Kita juga kekurangan spesialis,” jelasnya.

Presiden menambahkan, kekurangan tenaga medis bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga dialami banyak negara lain. Bahkan, negara maju seperti Inggris pun harus merekrut dokter dari luar negeri dengan bayaran tinggi untuk menutupi kekurangan tersebut.

Rekomendasi Untuk Anda

Namun, Prabowo menegaskan, Indonesia harus mencari solusi dari dalam negeri melalui kebijakan pendidikan yang adaptif. Salah satunya dengan memperbanyak fakultas kedokteran dan meningkatkan jumlah mahasiswa kedokteran di universitas yang sudah ada.

“Kebijakan pendidikan kita harus disesuaikan. Kita harus menambah fakultas-fakultas kedokteran, dan jumlah mahasiswanya juga perlu ditambah. Kalau perlu, kita tambah beasiswa. Mungkin LPDP bisa menjadikan kedokteran sebagai salah satu prioritas utama,” tutupnya.

Baca juga: Daftar Temuan CKG di Tahun Pertama Pemerintahan Prabowo–Gibran, Masalah Kesehatan Bayi sampai Lansia

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas