Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Wamenkes Dante Bicara Inovasi Diabetes Molekuler & Artificial Pancreas: Masa Depan Pengobatan

Wamenkes dr. Dante Saksono Harbuwono mengungkapkan pendekatan revolusioner dalam penanganan diabetes di Indonesia.

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Wamenkes Dante Bicara Inovasi Diabetes Molekuler & Artificial Pancreas: Masa Depan Pengobatan
Tribunnews.com/Rina Ayu
DIABETES - Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Prof. Dante Saksono Harbuwono mengungkapkan pendekatan revolusioner dalam penanganan diabetes di Indonesia. 
Ringkasan Berita:
  • Wamenkes ungkap pendekatan revolusioner dalam penanganan diabetes di Indonesia.
  • Pendekatan diabetes molekuler dinilai mampu menjawab tantangan pengobatan diabetes dengan lebih personal dan efektif.
  • Iktuti petikan wawancara dengan Direktur Pemberitaan Tribun Network Febby Mahendra Putra.

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Menteri Kesehatan RI, dr. Dante Saksono Harbuwono mengungkapkan pendekatan revolusioner dalam penanganan diabetes di Indonesia yang dikenal dengan sebutan diabetes molekuler. 

Pendekatan ini dinilai mampu menjawab tantangan pengobatan diabetes dengan lebih personal dan efektif.

Baca juga: Satu dari 4 Orang Dewasa di Indonesia Obesitas, Diabetes Pun Mengancam, Saatnya Kendalikan 

Menurut Dante, bidang diabetes memiliki tiga aspek utama: klinis, laboratorium, dan kombinasi keduanya. Posisinya sendiri berada di titik temu antara dunia klinis dan laboratorium.

Hal itu disampaikan Wamen Dante saat sesi wawancara dengan Direktur Pemberitaan Tribun Network Febby Mahendra Putra di Studio Tribun, Palmerah, Jakarta, pada Rabu (19/11/2025).

“Dalam hal ini, waktu itu studi yang saya ambil adalah studi molekuler diabetes, karena waktu itu memang belum ada tenaga ahli yang menggabungkan antara kejadian real dan kebutuhan real yang ada di klinis, diterjemahkan ke dalam laboratorium, dan hasil laboratorium diterapkan lagi di klinis. Itulah yang disebut diabetes molekuler,” kata Dante.

Rekomendasi Untuk Anda

Dante menjelaskan, diabetes molekuler adalah sebuah disiplin ilmu yang menjembatani temuan di lapangan dengan penelitian mendalam di laboratorium, untuk kemudian hasilnya diaplikasikan kembali ke pasien.

“Ini berkaitan dengan genetika, berkaitan dengan stem cell (sel induk), berkaitan dengan uji laboratorium molekuler. Semuanya dikemas dalam bentuk uji laboratorium yang nanti akan bisa diterapkan di klinis atau pelayanan pasien,” jelasnya.

Salah satu wujud nyata dari penerapan ilmu diabetes molekuler ini adalah pengembangan artificial pancreas atau pankreas buatan, yang menjadi fokus studi doktoralnya.

Artificial pancreas adalah sebuah sistem teknologi canggih yang dirancang untuk meniru fungsi organ pankreas dalam mengatur kadar gula darah secara otomatis. Sistem ini umumnya terdiri dari monitor pemantau glukosa terus-menerus (continuous glucose monitor/CGM) dan pompa insulin yang terintegrasi melalui sebuah algoritma cerdas.

Algoritma inilah yang menjadi "otak" dari sistem, yang secara real-time menganalisis data gula darah dari sensor dan secara otomatis mengatur pemberian insulin yang tepat dari pompa, tanpa memerlukan intervensi manual dari pengguna.

Baca juga: Ada Radioaktif pada Produk Sepatu yang Diekspor, Ini Respons Wamenkes Benny dan Kepala BPOM

Pengembangan artificial pancreas merupakan terobosan besar bagi pasien diabetes, terutama Diabetes Mellitus tipe 1, karena dapat mengurangi frekuensi suntik insulin manual, meminimalkan risiko hipoglikemia (gula darah terlalu rendah) dan hiperglikemia (gula darah terlalu tinggi), serta secara signifikan meningkatkan kualitas hidup pasien.

Dengan pendekatan diabetes molekuler, penelitian seperti artificial pancreas dapat dikembangkan lebih lanjut dengan mempertimbangkan profil genetik dan respons biologis spesifik setiap individu, menuju pengobatan diabetes yang lebih personal dan presisi.

Inovasi ini diharapkan dapat menjadi masa depan pengobatan diabetes di Indonesia, menuju pelayanan kesehatan yang lebih akurat dan berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan pasien.

Berikut petikan wawancara dengan Wakil Menteri Kesehatan RI, dr. Dante Saksono Harbuwono terkait diabetes molekuler dari bahan ini serta tambahan soal pengembangannya terkait artificial pancreas:

Tanya: Tentu orang ingin bertanya, Pak Wamen, pakar diabetes molekuler itu apa? Bisa dijelaskan lebih dulu supaya orang awam, pembaca kita, pemirsa kita itu paham?

Jawab: Aspek diabetes itu kan banyak. Ada aspek klinis yang mengobati pasien, ada aspek laboratorium, dan ada kombinasi antara klinis dan laboratorium. Saya masuk kombinasi antara klinis dan laboratorium.

Dalam hal ini, waktu itu studi yang saya ambil adalah studi molekuler diabetes, karena waktu itu memang belum ada tenaga ahli yang menggabungkan antara kejadian real dan kebutuhan real yang ada di klinis, diterjemahkan ke dalam laboratorium, dan hasil laboratorium diterapkan lagi di klinis. Itulah yang disebut diabetes molekuler.

Ini berkaitan dengan genetika, berkaitan dengan stem cell, berkaitan dengan uji laboratorium molekuler. Itu semuanya dikemas dalam bentuk uji laboratorium yang nanti akan bisa diterapkan di klinis atau pelayanan pasien.

Tanya: Sebagai satu ilmu, gunanya langsung kepada pasien diabetes ini apa, terkait dengan diabetes molekuler?

Jawab: Waktu itu, saya melakukan studinya dengan topik artificial pancreas.

Tanya: Artificial pancreas? Kalau artificial artinya buatan, ya? Jadi, pankreas buatan? Bisa dijelaskan?

Jawab: Pada dasarnya orang diabetes, diobati sekalipun, pankreasnya akan mengalami penurunan fungsinya dari waktu ke waktu. Dari awal diabetes mungkin dapat satu obat, kemudian perjalanannya gula darahnya cenderung naik, dia dapat dua obat, kemudian naik lagi dapat tiga macam obat, terus dosisnya juga harus dinaikkan dari masa ke masa. Kenapa begitu? Karena ada satu missing link secara genetik yang belum bisa terpecahkan, bahwa kelenjar pankreas yang ada dalam tubuh manusia pada pasien-pasien diabetes itu makin menurun.

Kenapa pankreas penting? Karena pankreas memproduksi insulin, dan insulin itu adalah kunci untuk membawa gula bisa masuk ke dalam sel. Kalau insulinnya rendah karena pankreasnya rusak, maka kuncinya menjadi sedikit dan gula darah tidak bisa masuk ke dalam sel, maka gula darah akan menumpuk di dalam darah.

Kalau diambil darahnya, dicek kadarnya tinggi. Itu artinya diabetesnya makin lama makin tinggi, butuh kunci baru dengan menstimulasi sel pankreasnya tersebut. Dan kalau pankreasnya sudah sedikit rusak, maka harus pakai insulin dari luar untuk membuat gula darahnya yang tadinya beredar banyak di dalam darah menjadi menurun.

Tanya: Artificial pancreas saat ini sudah bisa diterapkan?

Jawab: Dalam clinical trial sudah ada beberapa kemajuan yang mencoba menerapkan terapi genetik di dalam model artificial pancreas. Mungkin tidak terlalu berapa lama lagi, apalagi sekarang didukung oleh teknologi AI, molekuler diabetes yang semakin baik. Mudah-mudahan tidak terlalu lama lagi artificial pancreas ini bisa diimplementasikan.

Tanya: Jadi intinya sekarang ini masih dalam clinical trial. Dan kita prediksikan tidak akan lama lagi, model artificial pancreas ini akan bisa diterapkan bagi para pasien diabetes melitus?

Jawab: Kira-kira? Mungkin dua tahun lagi bisa.

Tanya: Ini kan informasi yang melegakan buat para diabetesi, untuk bisa menggunakan terapi ini. Nah, saya ingin dapat gambaran kondisi diabetes di negeri ini sekarang itu bagaimana?

Jawab: Satu, kondisinya semakin lama kejadian diabetes itu makin tinggi. Kalau tahun 2018 kita melakukan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), angka diabetes 10,3 persen.

Tanya: 10,3 ya? 10,3. Jadi artinya apa? 1 dari 10 orang dengan diabetes. Tahun 2018. Kemudian kita lakukan lagi studi di 2023?

Jawab: 2023 menunjukkan 11,3%. Artinya 1 dari 9 orang di Indonesia menderita diabetes. Persoalannya bukan cuma soal gula darahnya tinggi, dari 9 orang 1 itu tinggi. Tapi diabetes ini kan mother of disease, ibu dari segala penyakit. Yang penting itu komplikasinya.

Komplikasinya bisa kena stroke, bisa kena kelainan mata, bisa kena kelainan jantung, bisa cuci darah, bisa disfungsi ereksi, bisa diamputasi. Dan ini yang harus kita tekankan untuk dilakukan pengobatan secara komprehensif pada pasien-pasien diabetes.

Tanya: Dan implikasi dalam program selalu terkait juga dengan budget. Bagaiimana itu, penjelasannya?

Jawab: Kalau budget-nya itu ditangani pada saat dia komplikasi, sudah ada komplikasi, maka akan sangat mahal sekali.

Tanya: ketika sudah masuk ke tahap komplikasi, recovery-nya mahal? Pengobatannya jadi mahal. Makanya kita harus melakukan screening sedini mungkin supaya diabetes ini diketahui pada saat awal?

Jawab: Iya, itu yang pertama. Yang kedua, pengobatan diabetesnya dilakukan secara komprehensif, tidak saja berfokus pada kadar gula darah, tapi mendeteksi semua komplikasi yang mungkin timbul pada saat orang tersebut didiagnosis sebagai diabetes.

Tanya: Mengapa angka diabetes meningkat? Satu, karena pola hidup di masyarakat semakin tinggi. Apa contohnya itu?

Jawab: Sedentary life, obesitas semakin meningkat. Dan salah satu faktor risiko paling penting pada diabetes itu adalah obesitas.

Tanya: Oke, obesitas. Dan obesitas yang penting itu adalah obesitas sentral?

Jawab: Obesitas sentral itu obesitas yang timbul pada saat pengukuran dengan perut. Perutnya buncit.

Tanya: Oh, perut buncit itu punya risiko diabetes? Semakin buncit, semakin berisiko, ya? Ukurannya berapa?

Jawab: Kalau perempuan itu tidak boleh lebih dari 80 cm (lingkar perutnya). Kalau laki-laki, tidak boleh lebih dari 90 cm. Kalau dia lebih dari 80 atau lebih dari 90 cm, itu ada lemak viseral atau lemak di antara usus yang dapat menyebabkan terjadinya insulin resistance.

Tanya: Tadi kan disebutkan 2 tahun lagi bahwa akan ada artificial pancreas itu tadi ya. Bids dijelaskan, orang awam ini, artificial berarti ada pankreas palsu ini atau gimana ini? Anggapannya sel buatan?

Jawab: Kalau orang diabetes itu pankreas kan rusak. Di dalam pankreas itu ada 4 populasi sel. Salah satu selnya ada sel beta. Sel beta ini rusak karena sel beta ini yang memproduksi insulin, dan tidak bisa recovery lagi karena faktor transkripsinya, faktor yang menstimulasi dia itu bisa menjadi normal lagi, itu hilang setelah lahir.

Maka yang akan kita lakukan adalah transdiferensiasi, atau mengubah bentuk populasi sel lain, antara lain sel delta, sel alfa, dan sel duktal. Nah, sel duktal ini nggak rusak, tapi dia bisa distimulasi oleh faktor transkripsi khusus yang saya temukan untuk bisa menjadi sel yang memproduksi insulin. Jadi dia tetap ada selnya, tersebut tidak rusak, tapi kita stimulasi dengan substrat khusus supaya dia bisa memproduksi insulin. Gampangnya seperti itu.

Tanya: Oh, jadi itu dilakukan lewat operasi atau?

Jawab: Enggak, disuntik aja.

Tanya: Jadi kesimpulannya, orang sakit diabetes menggunakan metode artificial pancreas itu bisa sembuh total?

Jawab: Bisa.

Tanya: Kesimpulannya, menggunakan metode artificial pancreas ini, orang yang terkena diabetes bisa seperti orang yang tidak kena diabetes. Artinya sembuh, gitu kan, Dok?

Jawab: Betul.

Tanya: Pankreasnya digantikan dengan pankreas. Karena selama ini orang beranggapan bahwa penyakit diabetes nggak bisa sembuh, hanya bisa dikelola saja. Anggapan itu salah kan?

Jawab: Betul. Betul, ya? Betul. Tapi kan ini belum launching, jadi saya belum bisa melakukan declare secara terbuka bahwa ini pasti akan bagus, akan bisa dipakai.

Tanya: Yang selama ini harus kita tekankan bahwa pengetahuan masyarakat dan pemahaman masyarakat bahwa diabetes itu tidak sembuh, tetap harus digaungkan?

Jawab: Oh, iya, Karena sekali dia diabetes, dia dicap diabetes, dia akan terus diabetes. Dia akan terus diabetes. Terus diabetes itu, yang paling penting, dia bukan ngobatin diabetes saja dengan bagus saja, tapi yang penting dia harus melakukan monitoring efek-efek komplikasi yang timbul. Jangan nunggu keluhan.

Jadi setiap tahun dia harus periksa jantungnya, setiap tahun dia harus periksa ginjalnya, setiap tahun dia harus periksa sarafnya, setiap tahun dia harus periksa matanya. Supaya kalau ada komplikasi dini yang muncul lebih awal, kita bisa obati dengan lengkap.

Jadi walaupun pasien diabetes itu tidak sembuh, tapi dia bisa hidup normal, bisa sama sehatnya dengan orang yang tidak terkena diabetes. Bahkan umurnya bisa lebih panjang, karena dia dimonitor. Dia dimonitor, setiap tahun dia diperiksa kesehatannya, dan seterusnya. Jadi bahwa penyakit diabetes tidak bisa sembuh tetap harus dikawal supaya dia alert.

(Tribun Network/ Yuda).

Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas