Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Ahli: Deteksi Dini Penyakit Saluran Cerna dan Hati Butuh Teknologi Presisi

Penyakit saluran cerna dan hati masih menjadi masalah kesehatan yang banyak dialami masyarakat Indonesia.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Ahli: Deteksi Dini Penyakit Saluran Cerna dan Hati Butuh Teknologi Presisi
Freepik
ILUSTRASI PENDERITA GERD - Foto ilustrasi penderita GERD yang diambil dari situs Freepik pada 22 Februari 2025.Penyakit saluran cerna dan hati masih menjadi masalah kesehatan yang banyak dialami masyarakat Indonesia. 
Ringkasan Berita:
  • Banyak masyarakat Indonesia alami pnyakit saluran cerna dan hati.
  • Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 mencatat peningkatan bermakna pada prevalensi penyakit lambung dan GERD di wilayah perkotaan.
  • Dokter spesialis penyakit dalam subspesialis gastroenterologi hepatologi Prof Rino Alvani Gani, menegaskan pentingnya pendekatan presisi dan modern 

 

 


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Penyakit saluran cerna dan hati masih menjadi masalah kesehatan yang banyak dialami masyarakat Indonesia.

 

Penyakit hati kronis, sirosis, hepatitis, kanker hati, GERD, dan kelainan saluran empedu terus tinggi seiring perubahan pola hidup masyarakat.

Baca juga: Sering Disamakan, Ini Perbedaan Mag dan GERD yang Perlu Diketahui

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 mencatat peningkatan bermakna pada prevalensi penyakit lambung dan GERD di wilayah perkotaan.

Lalu, Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) menempatkan penyakit hati kronis dan sirosis sebagai salah satu penyebab kematian tertinggi yang terkait organ dalam, menegaskan besarnya beban klinis kondisi ini.

Rekomendasi Untuk Anda

 

Sayangnya, banyak pasien baru terdiagnosis saat penyakit sudah memasuki tahap lanjut, sehingga penanganannya menjadi lebih sulit dan berisiko.

Baca juga: Benarkah GERD Bisa Menyebabkan Kematian Mendadak? Begini Penjelasan Dokter

Kondisi ini menimbulkan dampak klinis dan finansial yang besar, mulai dari keterlambatan penanganan, risiko komplikasi yang lebih tinggi, hingga meningkatnya angka rawat inap.

 

Melihat kondisi ini, dokter spesialis penyakit dalam subspesialis gastroenterologi hepatologi Prof Rino Alvani Gani, menegaskan pentingnya pendekatan presisi dan modern serta didukung dengan tim medis kompeten dalam diagnostik dan deteksi dini penyakit saluran cerna dan hati.

 

Hal ini disampaikan dia dalam RS Pondok Indah Clinical Excellence Forum ‘Precision, Progress, and Innovation in Gastroenterohepatology’, di Jakarta Selatan, Minggu (15/12/2025).

 

“Di tengah meningkatnya kasus penyakit hati dan saluran cerna, deteksi dini dan diagnosis yang presisi menjadi kunci untuk mencegah keparahan (progresif) penyakit,” kata Prof Rino.

 

Teknologi medis yang terus berkembang membawa perubahan besar dalam penanganan penyakit saluran cerna dan hati.

 

Kanker hati kini dapat dideteksi dini melalui pemeriksaan biomarker, sementara kondisi saluran empedu bisa dilihat lebih jelas dengan teknologi khusus seperti PIVKA-II dan SpyGlass.

 

Selain itu, pemeriksaan dan pengobatan saluran cerna dapat dilakukan tanpa operasi besar atau Endoscopic Ultrasound (EUS), begitu juga penanganan kanker hati yang bisa dilakukan tanpa pembedahan atau Microwave Ablation.

 

Berkat teknologi ini, diagnosis menjadi lebih akurat, pengobatan lebih efektif, risiko komplikasi berkurang, dan pasien dapat pulih lebih cepat.

 

Di sisi lain,  tenaga medis Indonesia juga perlu memperbarui wawasan dan keterampilannya.

 

Penanganan penyakit saluran cerna dan hati yang berkembang cepat menuntut adaptasi dan kompetensi baru dari para tenaga medis.

 

Chief Executive Officer RS Pondok Indah Group dr. Yanwar Hadiyanto, MARS berharap forum perdana ini memberikan dampak nyata, bukan hanya bagi peningkatan kompetensi tenaga medis, tetapi juga bagi masyarakat luas melalui layanan yang semakin akurat, modern, dan berbasis bukti.

 

“Ke depannya, kami ingin forum ini menjadi ruang diskusi berkelanjutan yang terus mendorong peningkatan kualitas layanan gastroenterologi dan hepatologi di Indonesia,” kata dr Yanwar.

 

Kenapa Gerd Harus Diwaspadai?

 

Di kesempatan berbeda, dokter spesialis gastroenterologi dr. Ari Fahrial Syam mengatakan, Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) adalah penyakit yang bisa dikendalikan dengan menghindari faktor risiko dan pencetus kekambuhan.

 

Hindari kebiasaan merokok, minum alkohol, konsumsi makanan dalam porsi besar sekaligus, makan terlalu malam, batasi konsumsi makanan berlemak serta minuman berkafein.

 

GERD termasuk penyakit kronis saat menyebabkan gangguan pada paru-paru.

 

GERD tidak bisa menyebabkan langsung terjadinya kematian.

ilustrasi GERD
ilustrasi GERD (Freepik)

Terdapat 2 gejala utama GERD yaitu nyeri dada dan bisa merasakan rasa panas di dada seperti dada terbakar.

 

Nyeri dada ini kemudian diikuti oleh mulut pahit karena ada asam yang naik (regurgitasi).

 

GERD dapat menimbulkan berbagai komplikasi.

 

Asam lambung yang naik dapat merusak dinding kerongkongan, awalnya berupa luka ringan, yang kemudian bisa meluas dan menyebabkan penyempitan kerongkongan.

 

GERD juga berisiko memicu penyakit Barrett’s, yaitu perubahan pra-kanker pada kerongkongan.

 

Selain efek pada saluran cerna, asam lambung dapat mempengaruhi organ lain, seperti gigi (erosi), tenggorokan (faringitis kronis), sinus (sinusitis), pita suara (laringitis), saluran pernapasan bawah (asma), dan paru-paru (fibrosis paru idiopatik).

 

Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas