Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Usia Berapa Idealnya Anak Sunat? Ini Saran Dokter Bedah

Perdebatan soal waktu sunat pada anak laki-laki masih sering terjadi di tengah masyarakat.  Kapan idealya? Ini kata dokter bedah.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Usia Berapa Idealnya Anak Sunat? Ini Saran Dokter Bedah
TRIBUN BATAM/ARGIANTO DA NUGROHO
Sejumlah anak mengikuti sunatan massal di Aula Sekolah Bina Nusantara Batam, Sabtu (24/6/2023). Sebanyak 120 anak mengikuti sunatan massal yang digelar Ikatan Keluarga Sumatera Selatan (IKBSS) Kota Batam bekerjasama dengan alumni Universitas Sriwijaya. Perdebatan soal waktu sunat pada anak laki-laki masih sering terjadi di tengah masyarakat.  Kapan idealya? Ini kata dokter bedah.TRIBUN BATAM/ARGIANTO DA NUGROHO 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

Ringkasan Berita:
  • Waktu ideal kapan sunat pada anak laki-laki dilakukan masih sering terjadi di tengah masyarakat. 
  • Tak sedikit orang tua yang memilih menunda dengan alasan anak masih kecil, takut nyeri.
  • Simak penjelasan dokter bedah.

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Perdebatan soal waktu sunat pada anak laki-laki masih sering terjadi di tengah masyarakat. 

Tak sedikit orang tua yang memilih menunda dengan alasan anak masih kecil, takut nyeri, atau menganggap sunat hanya urusan budaya dan agama.

Baca juga: Update Dugaan Malapraktik RS Mitra Sejati Medan: Pihak Korban Tolak Damai, Dokter Bedah Dilaporkan

Namun dari sisi medis, sunat atau yang kerap disebut khitan justru memiliki tujuan kesehatan yang sangat jelas, terutama untuk menurunkan risiko infeksi pada saluran kemih anak.

Dokter Spesialis Bedah Anak, dr. Andi Lestiono, Sp. BA, FIAPS, menjelaskan bahwa kondisi kulup yang masih panjang secara alami dapat menghambat aliran urine dan memicu penumpukan kotoran.

Rekomendasi Untuk Anda

“Karena kulup yang panjang atau prepotium itu akan menutupi air kencingnya itu atau buang air kencingnya itu jadi terhambat atau semakin kecil gitu loh,” jelas dr. Andi pada live streaming Healthy Talk pada kanal YouTube Tribun Health, Minggu (28/12/2025). 

Menurutnya, kondisi ini bersifat fisiologis pada anak laki-laki, tetapi perlu ditangani dengan tepat agar tidak menimbulkan masalah kesehatan di kemudian hari.


Bisa Jadi Sumber Infeksi Tersembunyi

Salah satu alasan medis utama sunat dianjurkan adalah mencegah penumpukan smegma, yaitu kotoran berwarna putih yang terbentuk dari sisa urine dan sel kulit mati.

Lebih lanjut dr. Andi mengungkapkan bahwa smegma tidak hanya terjadi pada perempuan, tetapi juga pada laki-laki, terutama bila kulup masih menutupi kepala penis.

Seorang anak mengikuti sunatan massal di Puskesmas Cilandak, Jakarta, Kamis (2/12/2021). Sebanyak 50 anak mengikuti kegiatan sunat massal secara gratis dalam rangka Hari Kesehatan Nasional yang ke-57 yang dilaksanakan mulai Selasa (30/11/2021) hingga Jumat (3/12/2021) yang digelar di 10 Puskesmas di wilayah Jakarta Selatan. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Seorang anak mengikuti sunatan massal di Puskesmas Cilandak, Jakarta, Kamis (2/12/2021). Sebanyak 50 anak mengikuti kegiatan sunat massal secara gratis dalam rangka Hari Kesehatan Nasional yang ke-57 yang dilaksanakan mulai Selasa (30/11/2021) hingga Jumat (3/12/2021) yang digelar di 10 Puskesmas di wilayah Jakarta Selatan. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN)

“Dimana ketika belum hitam itu kotoran yang dinamakan smegma itu bisa mengumpul di dalam,” ujarnya.

Karena kulup masih sempit, sisa urine bisa mengendap dan menempel di area glans penis. 

Jika kondisi ini bercampur dengan kuman atau bakteri, risiko infeksi pun meningkat.

Infeksi tersebut tidak hanya terbatas pada area luar, tetapi bisa menjalar ke saluran kemih bagian dalam, kandung kemih, bahkan hingga ureter.

Inilah yang membuat sunat tidak sekadar prosedur budaya, tetapi juga langkah pencegahan medis.


Sunat Bukan Sekadar Budaya atau Agama

Masih banyak anggapan bahwa sunat hanya berkaitan dengan faktor agama atau tradisi keluarga. 

Padahal, dari sudut pandang medis, manfaatnya bersifat universal.

Ia menegaskan bahwa meskipun faktor budaya dan agama memang ada, rekomendasi medis tetap berdiri sendiri.

“Ya terlepas dari budaya ataupun agama atau kultur itu juga memang dari segi medis sangat dianjurkan,” katanya.

Dengan sunat, risiko infeksi saluran kemih dapat ditekan, kebersihan organ intim lebih mudah dijaga, dan potensi masalah kesehatan jangka panjang bisa dicegah sejak dini.


Usia Ideal Sunat Menurut Medis

Soal waktu pelaksanaan, dr. Andi menyebut semakin dini dilakukan, justru semakin baik dari sisi penyembuhan luka. 

Pada usia bayi dan balita, regenerasi sel berlangsung lebih cepat sehingga proses pemulihan cenderung singkat dan minim komplikasi.

Bahkan, sunat bisa dilakukan sejak usia dua minggu setelah lahir, selama kondisi penis dinyatakan normal dan tidak memiliki kelainan bawaan. 

"Lebih cepat lebih baik,"ujarnya. 

Pimosis yang ditemukan pada bayi umumnya bersifat fisiologis dan merupakan kondisi normal.

Hal ini sekaligus mematahkan anggapan bahwa sunat sebaiknya ditunda hingga anak lebih besar. 

Berdasarkan pengalaman klinis, anak yang disunat sejak dini justru pulih lebih cepat dan beraktivitas normal tanpa gangguan.

Bahkan, jika tidak ada kelainan pada penis, sunat boleh dilakukan pada anak laki-laki yang baru berusia satu bulan. 

Penundaan sunat terlalu lama bisa meningkatkan risiko infeksi akibat kebersihan yang sulit dijaga pada kulup yang masih menutup.

Langkah kecil di awal kehidupan ini dapat memberi dampak besar bagi kesehatan saluran kemih dan kualitas hidup anak di masa depan.

 

Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas