Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Tutup 2025, Pakar Kesehatan Peringatkan Alarm Serius untuk Siap Hadapi Krisis Berikutnya

Tahun 2025 bukan akhir dari ancaman kesehatan.  |Perlu paradigma baru untuk siap hadapi krisis kesehatan

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Tutup 2025, Pakar Kesehatan Peringatkan Alarm Serius untuk Siap Hadapi Krisis Berikutnya
Dokumentasi Pribadi
Epidemiolog Universitas Griffith Australia Dicky Budiman 

 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

Ringkasan Berita:
  • 2025 bukan akhir dari ancaman kesehatan. 
  • Tahun ini menjadi cermin keras bahwa Indonesia dan dunia belum benar-benar siap menghadapi krisis kesehatan berikutnya.
  • Krisis akan terjadi jika masih memakai pola lama. Maka perlu perubahan paradigma. 

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Tahun 2025 bukan akhir dari ancaman kesehatan. 

Justru sebaliknya, tahun ini menjadi cermin keras bahwa Indonesia dan dunia belum benar-benar siap menghadapi krisis kesehatan berikutnya jika pola lama terus dipertahankan.

Baca juga: Krisis Kesehatan Pascabencana Aceh Terparah: Nyawa Ibu Hamil Terancam, Dokter Kelaparan

Dokter epidemiolog dan pakar global health security, Dicky Budiman, menegaskan bahwa pesan kesehatan paling penting di penghujung 2025 adalah perubahan paradigma. 

Rekomendasi Untuk Anda

Kesehatan tidak lagi cukup dipahami sebagai layanan rumah sakit, tetapi sebagai ketahanan bersama yang harus dibangun jauh sebelum krisis datang.

“Tahun 2025 bisa kita baca sebagai tahun transisi dari respon menuju ketahanan atau resilience,"ungkap Dicky pada Tribunnews, Selasa (30/12/2025). 

Menurut Dicky, dunia memang sudah keluar dari fase krisis akut pandemi. 

Namun, kondisi itu sering disalahartikan sebagai situasi aman. 

Baca juga: Menko PMK Minta Dunia Usaha Jadi Garda Terdepan Atasi TBC, Stunting dan Krisis Kesehatan Mental

Padahal, risiko kesehatan baru justru terus bermunculan, mulai dari penyakit infeksi, polusi, hingga dampak cuaca ekstrem yang makin sering terjadi.

Di tingkat masyarakat, ia melihat fenomena hidup berdampingan dengan risiko, tetapi tanpa perubahan perilaku yang kuat. 

Kepatuhan terhadap protokol kesehatan masih bersifat situasional, muncul saat ada lonjakan kasus atau isu viral, lalu menghilang ketika situasi dianggap normal.

Kebiasaan dasar seperti mencuci tangan, memakai masker saat sakit, atau waspada di kerumunan belum menjadi budaya yang melekat. 

Artinya, perilaku kesehatan masih reaktif, bukan berbasis kesadaran risiko jangka panjang.

Masalah lain yang mencuat sepanjang 2025 adalah literasi kesehatan yang rapuh. 

Informasi kesehatan memang semakin cepat beredar, tetapi tidak selalu semakin benar. Di ruang digital, suara influencer kerap lebih dipercaya dibanding tenaga kesehatan atau otoritas ilmiah.

Kondisi ini, menurut Dicky, justru memperbesar kerentanan masyarakat. 

Akses informasi tanpa kemampuan memilah dan memahami risiko berpotensi merusak ketahanan kesehatan itu sendiri.

Selain itu, kesehatan masih kerap dipandang sebagai urusan pribadi. 

Banyak orang memaknainya sebatas diet, olahraga, atau konsumsi obat, tanpa melihat faktor lingkungan, pekerjaan, sistem transportasi, hingga kebijakan publik sebagai penentu utama kesehatan.

Rendahnya kesadaran terhadap faktor sosial penentu kesehatan ini menjadi catatan penting Indonesia di 2025. 

Padahal, kesehatan bersifat kolektif dan saling terhubung antarindividu dan sistem.

Dari sisi pemerintah, Dicky menilai sistem kesehatan nasional masih terlalu bertumpu pada pendekatan kuratif. 

Meski istilah promotif dan preventif sering diucapkan, fokus anggaran dan kebijakan masih dominan pada rumah sakit, pengadaan alat kesehatan, dan pembiayaan pengobatan.

Investasi pencegahan, yang secara ekonomi jauh lebih murah dibanding biaya krisis, belum menjadi arus utama kebijakan. 

Di saat yang sama, kesiapsiagaan kesehatan masih berjalan terpisah-pisah. 

Data kesehatan belum terintegrasi lintas sektor, dan respon bencana kesehatan kerap berdiri sendiri tanpa keterkaitan dengan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi.

Padahal, pendekatan One Health dan Planetary Health sudah lama direkomendasikan secara global sebagai fondasi ketahanan kesehatan jangka panjang.

Catatan krusial lainnya adalah komunikasi risiko yang belum konsisten. 

Pesan kesehatan sering berubah tanpa penjelasan yang memadai, kurang transparan, dan belum sepenuhnya berbasis data terbaru. 

Dampaknya bukan sekadar kebingungan, tetapi penurunan kepercayaan publik.

Kepercayaan, menurut Dicky, adalah aset kesehatan yang sangat mahal dan mudah rusak jika komunikasi tidak dikelola dengan baik.

Menutup refleksi tahun 2025, ia menyampaikan pesan keras sekaligus peringatan bagi semua pihak.

“Untuk masyarakat saya pesankan hidup sehat bukan hanya soal gaya hidup, tapi tentang memahami risiko dan melindungi sesama. Dan untuk pemerintah ketahanan kesehatan tidak dibangun saat krisis, tapi jauh sebelum krisis datang,"tutupnya. 

 

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas