Psikolog Tekankan Pentingnya Keamanan Emosional Anak di Sekolah
Faktor penting yang sering luput diperhatikan, yaitu rasa aman dan kenyamanan emosional anak. Tanpa itu, anak justru bisa kehilangan semangat.
Penulis:
willy Widianto
Editor:
Wahyu Aji
Ringkasan Berita:
- Keamanan emosional menjadi fondasi belajar anak.
- Fokus berlebihan pada nilai berisiko merusak motivasi jangka panjang.
- Penekanan pada ranking dan capaian akademik dapat membuat anak merasa dirinya hanya berharga saat berprestasi.
- Pendekatan reflektif dan lingkungan sekolah yang aman memperkuat pembelajaran.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Di tengah tuntutan akademik yang kian tinggi, sekolah dan orang tua kerap berlomba mengejar nilai, ranking, dan target capaian.
Namun, di balik angka-angka tersebut, ada satu faktor penting yang sering luput diperhatikan, yaitu rasa aman dan kenyamanan emosional anak. Tanpa itu, anak justru bisa kehilangan semangat di sekolah.
“Otak anak tidak bisa belajar optimal saat ia sedang dalam situasi bertahan hidup secara emosional,” tegas psikolog anak Anastasia Satriyo, M.Psi. ditulis, Selasa (27/1/2026).
Menurutnya, situasi emosional ini menjadi kunci untuk memahami mengapa banyak anak tampak sulit fokus, mudah cemas, atau kehilangan minat belajar di sekolah.
Anastasia menjelaskan, rasa aman berarti saat anak merasa diterima, tidak dihakimi, dan tidak ditakuti, sehingga otaknya berada dalam kondisi siap belajar.
Di fase ini, bagian otak yang berperan dalam berpikir, memahami, dan memecahkan masalah dapat bekerja dengan baik. Anak lebih rileks, berani mencoba, dan tidak takut melakukan kesalahan.
Sebaliknya, ketika anak dalam tekanan dan kondisi takut salah, takut dimarahi, takut dibandingkan, atau merasa dirinya “tidak cukup pintar”, yang aktif justru adalah mode bertahan hidup.
“Di kondisi ini, anak mungkin terlihat malas, tidak fokus, atau menolak belajar. Padahal yang terjadi adalah otaknya sedang melindungi diri,” jelas Anastasia.
Karena itu, belajar sejatinya bukan hanya soal materi pelajaran.
Belajar adalah proses relasional. Ada pertanyaan emosional yang selalu berjalan di benak anak: Apakah di sini aku aman untuk mencoba?
Masalah muncul ketika sekolah dan lingkungan belajar terlalu menitikberatkan pada pencapaian akademik semata. Fokus berlebihan pada nilai, ranking, dan target sering kali tanpa sadar menanamkan pesan bahwa anak hanya berharga ketika berprestasi. Anak pun belajar mengejar hasil, bukan memahami proses.
Menurut Anastasia, efeknya bisa panjang. Anak yang kesulitan secara akademik akan cenderung merasa dirinya “bermasalah”, padahal mungkin hanya gaya belajarnya berbeda dibanding sistem pengajaran di sekolah.
“Dalam jangka panjang, ini bisa membuat anak sulit mengenal dirinya sendiri, cepat burnout (kelelahan mental), dan kehilangan rasa ingin tahu alami. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat mengikis rasa ingin tahu. Padahal rasa ingin tahu adalah bahan bakar belajar yang paling sehat,” papar Anastasia.
Di sinilah pendekatan pembelajaran reflektif memegang peran penting. Melalui refleksi, anak diajak memahami bahwa dirinya bukan sekadar hasil akhir.
Anak belajar mengenali kekuatan dan area yang masih perlu berkembang, serta memahami bahwa gagal tidak sama dengan tidak berharga. Dari proses inilah kepercayaan diri yang sehat terbentuk.
“Model reflektif mengajarkan anak satu hal penting bahwa ‘aku bukan hanya nilai, aku adalah proses’,” ujar Anastasia.
Pendekatan ini juga menjadi dasar bagi sekolah-sekolah yang berupaya membangun pengalaman belajar yang lebih baik.
Salah satunya adalah North Jakarta Intercultural School (NJIS), yang menempatkan kesejahteraan emosional (emotional wellbeing) sebagai faktor kunci dalam pembelajaran.
Head of School NJIS, Ezra Alexander, menegaskan bahwa pembelajaran yang bermakna tidak dapat dilepaskan dari kondisi emosional siswa.
“Kami melihat belajar adalah proses yang lebih dari pencapaian akademik, tetapi juga sebagai pengalaman hidup anak di sekolah,” ujarnya.
Menurut Ezra, kurikulum memiliki peran besar dalam membentuk pengalaman tersebut.
Karena itu, NJIS memilih Kurikulum International Baccalaureate (IB), yang sejak awal dirancang untuk menyeimbangkan tantangan intelektual dengan refleksi dan rasa aman emosional.
“Kurikulum yang kami terapkan memberi ruang bagi setiap anak untuk merasa cukup aman berkata ‘aku belum bisa’, lalu cukup percaya diri untuk mencoba lagi. Di situlah pembelajaran yang sesungguhnya terjadi,” kata Ezra.
Sekolah perlu hadir sebagai ruang aman yang menghargai proses, tidak memberi stigma pada kesalahan, serta tidak memuja capaian akademik.
Dalam pandangan Ezra, masa depan pendidikan harus dirancang untuk menjawab kebutuhan dasar emosional dalam membentuk pribadi anak secara menyeluruh.
Baca juga: Fokus Pendidikan Bergeser, Siswa Perlu Fokus pada Adaptabilitas, Bukan Sekadar Nilai Akademik
“Pendidikan ke depan tidak bisa berjalan timpang, ia harus menyeimbangkan kemampuan intelektual dengan kesadaran diri, kematangan emosional, dan nilai-nilai kemanusiaan agar anak benar-benar tumbuh sebagai manusia seutuhnya,” kata Ezra.
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.