Kemenkes Peringatkan Cara Penularan Virus Nipah, Masyarakat Diminta Waspada
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menjelaskan bahwa virus Nipah bukan penyakit baru.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Erik S
Ringkasan Berita:
- Virus Nipah kembali menjadi perhatian setelah muncul kasus di India, meski Indonesia masih belum melaporkan adanya kasus.
- Virus ini menular dari hewan terinfeksi seperti kelelawar atau babi, memiliki tingkat kematian tinggi, dan belum memiliki vaksin khusus.
- Kemenkes mengimbau masyarakat menjaga kebersihan, menghindari konsumsi makanan berisiko, serta waspada terhadap gejala dan riwayat perjalanan.
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Virus Nipah kembali menjadi perhatian global setelah muncul laporan kasus di India.
Meski hingga kini belum ditemukan kasus di Indonesia, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap pola penularan virus nipah.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menjelaskan bahwa virus Nipah bukan penyakit baru.
Virus ini pertama kali ditemukan di Malaysia pada 1998 dan telah muncul di sejumlah negara Asia lainnya, termasuk India, Bangladesh, Singapura, dan Filipina.
“Sumber penularan umumnya berasal dari kelelawar atau hewan lain seperti babi,” jelas Aji dalam keterangannya, Senin (26/1/2026).
Penularan Lewat Kontak dengan Hewan Terinfeksi
Aji memaparkan, manusia dapat terinfeksi virus Nipah melalui kontak dengan hewan yang terinfeksi, terutama melalui urin, air liur, darah, dan sekresi.
Masa inkubasi virus ini berkisar antara 4 hingga 14 hari. Pada kondisi berat, tingkat kematian dapat mencapai 40 hingga 75 persen.
“Belum ada vaksin atau obat spesifik untuk penyakit virus Nipah,” ungkap Aji.
Kondisi tersebut membuat pencegahan dan kewaspadaan masyarakat menjadi sangat penting.
Imbauan Kemenkes untuk Masyarakat
Untuk meminimalkan risiko penularan, Kemenkes mengeluarkan sejumlah imbauan yang perlu diperhatikan masyarakat dalam aktivitas sehari-hari.
Baca juga: Kemenkes: Belum Ada Kasus Virus Nipah di Indonesia, Pengawasan Diperketat Usai Temuan di India
Masyarakat diminta tidak mengonsumsi buah dengan bekas gigitan kelelawar, serta mencuci dan mengupas buah secara menyeluruh sebelum dikonsumsi.
Selain itu, daging ternak harus dimasak hingga matang dan nira atau aren tidak dikonsumsi langsung dari pohonnya tanpa dimasak terlebih dahulu.
“Hindari kontak dengan hewan terinfeksi atau sakit terutama kelelawar atau babi,” imbau Aji.
Perkuat Imunitas dan Waspadai Gejala
Kemenkes juga mengingatkan pentingnya memperkuat imunitas tubuh dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti mencuci tangan dengan sabun, mengonsumsi makanan bergizi, istirahat cukup, dan rutin beraktivitas fisik.
Bagi masyarakat yang melakukan perjalanan ke India atau negara lain yang melaporkan kasus virus Nipah, disarankan untuk mengikuti protokol kesehatan dari otoritas setempat.
Apabila mengalami gejala seperti demam, batuk, pilek, sesak napas, muntah, penurunan kesadaran, atau kejang hingga 14 hari setelah kepulangan dari negara terjangkit, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat serta menerapkan etika batuk dan bersin.
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.