Krisis Iklim Jadi Ancaman Kesehatan Anak, Dokter Soroti Mulai Ditinggalnya Adaptasi New Normal
Krisis iklim atau climate change kian nyata dan berdampak langsung pada kesehatan anak. Dokter ingatkan adaptasi harus dilakukan.
Penulis:
Wahyu Gilang Putranto
Editor:
Febri Prasetyo
Ringkasan Berita:
- Krisis iklim meningkatkan risiko penyakit anak, membuat mereka sering sakit dan berulang kali absen sekolah.
- Dokter menilai hilangnya adaptasi kebiasaan kesehatan memperparah dampak perubahan iklim terhadap anak.
- Sekolah dan pemerintah diminta menyesuaikan kebijakan demi melindungi kesehatan anak dari cuaca ekstrem.
TRIBUNNEWS.COM - Krisis iklim atau climate change kian nyata dan berdampak langsung pada kesehatan anak.
Cuaca buruk seperti hujan lebat, suhu ekstrem, serta tingkat kelembapan yang tinggi terbukti meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan, penyakit kulit, hingga menurunkan daya tahan tubuh anak.
Dampak tersebut kini terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari.
Anak menjadi lebih sering sakit, berulang kali tidak masuk sekolah, dan penularan penyakit antar anak terjadi secara berulang.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bersama Kementerian Kesehatan RI menegaskan bahwa anak merupakan kelompok paling rentan terhadap dampak perubahan iklim.
Edukator kesehatan anak sekaligus aktivis kemanusiaan nasional, dr. Ardi Santoso, menilai kondisi ini diperberat oleh hilangnya adaptasi kebiasaan kesehatan yang sempat diterapkan pada masa new normal.
Menurutnya, kebiasaan sederhana seperti menggunakan masker saat sakit, menerapkan etika batuk, dan menjaga kebersihan tangan kini mulai ditinggalkan.
“Dulu anak diajarkan masker saat sakit, etika batuk, dan kebersihan tangan. Di tengah krisis iklim yang membuat risiko penyakit meningkat, adaptasi itu justru ditinggalkan."
"Akibatnya anak mudah tertular, sering absen, dan tertinggal sekolah,” ujar Ardi kepada Tribunnews melalui keterangan tertulis, Minggu (8/2/2026).
Baca juga: Dirut BPJS Kesehatan: Peserta PBI Nonaktif Bisa Aktif Lagi Asalkan Penuhi 3 Syarat Ini
Ia menegaskan anak membutuhkan support system yang kuat dari keluarga, sekolah, dan pemerintah agar tidak terus menjadi korban krisis iklim yang berdampak pada kesehatan.
Dokter yang berpraktik di Klinik Utama Kasih Ibu Sehati Solo tersebut juga menekankan pentingnya peran sekolah dalam menjaga keselamatan siswa, khususnya terkait kegiatan luar ruang.
Ia meminta sekolah mengevaluasi dan menunda kegiatan outing class atau outbound saat cuaca ekstrem.
“Keselamatan anak harus di atas rutinitas. Risiko cuaca bisa dicek secara mudah dan real time melalui aplikasi resmi BMKG. Jika cuaca tidak aman, kegiatan luar ruang harus dibatalkan atau dipindahkan,” tegasnya.
Selain itu, Ardi mendorong pemerintah daerah segera menertibkan panduan operasional sekolah yang berbasis risiko iklim.
Menurutnya, krisis iklim sejatinya merupakan krisis kesehatan anak.
“Tanpa adaptasi kebijakan sekarang, anak akan terus sakit, absen sekolah, dan saling menularkan penyakit,” katanya.
(Tribunnews.com/Gilang P)
Baca tanpa iklan