Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Terlihat Gemuk dan Sehat tapi Kurang Gizi, Dokter Ingatkan Bahaya Pola Makan Anak yang Salah

Di banyak keluarga muda, pemandangan anak lahap makan dan bertubuh gemuk kerap menjadi sumber rasa lega. 

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

Ringkasan Berita:
  • Banyak yang lega karena anak lahap makan dan bertubuh gemuk.
  • Pandangan jika gemuk itu sehat belum sepenuhnya benar. 
  • Dokter Anak dr. Mesty Ariotedjo, Sp.A, MPH mengingatkan bahwa tubuh gemuk bukan jaminan anak mendapatkan zat gizi yang cukup. 

 

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Di banyak keluarga muda, pemandangan anak lahap makan dan bertubuh gemuk kerap menjadi sumber rasa lega. 

Baca juga: Mengenal Ciri-ciri Anak Gemuk Akibat Konsumsi Obat Steroid, Pipi Tembab hingga Muncul Stretch Mark 

Selama anak mau makan dan berat badan naik, urusan gizi dianggap aman. 

Namun pola pikir ini diam-diam menyimpan celah besar dalam pemenuhan nutrisi anak.

Rekomendasi Untuk Anda

Dokter spesialis anak dr. Mesty Ariotedjo, Sp.A, MPH mengingatkan bahwa tubuh gemuk bukan jaminan anak mendapatkan zat gizi yang cukup. 

Ia memaparkan realitas yang kerap luput dari perhatian orang tua. Salah satunya kekurangan gizi yang dibutuhkan tubuh seperti vitamin D. 

“Karena kan banyak orang tua yang mengidentikan gemuk itu sehat. Atau yang penting apa aja masuk deh, yang penting anak saya makan beratnya naik,"ungkapnya pada Live Podcast Boostopia by Expertboost Pahami Strategi Optimalkan Nutrisi Anak, Bekal Peace of Mind Orang Tua!” di Pondok Indah Mall, Jakarta Selatan, Senin (9/2/2026).

Ia menjelaskan, kekurangan gizi tersebut sering tidak terlihat dari luar. 

Anak bisa tampak aktif, ceria, bahkan memiliki berat badan ideal, namun tetap mengalami defisiensi zat gizi mikro yang berperan penting dalam tumbuh kembang.

Menurut dr. Mesty, kekurangan vitamin D dan zat besi menjadi masalah paling dominan. 

Vitamin D berkaitan erat dengan imunitas dan pertumbuhan optimal, sementara zat besi berperan besar dalam perkembangan otak anak. 

Di beberapa negara, skrining zat besi bahkan sudah menjadi prosedur standar sejak usia dini.

Namun di Indonesia, keterbatasan regulasi membuat pemeriksaan ini belum menjadi kebiasaan. 

Padahal, berdasarkan pengalaman klinisnya, kondisi anak sering kali menipu.

“Nah tapi ternyata pada pasien-pasien saya, saya selalu menyarankan untuk pemeriksaan zat besi. Karena banyak sekali pasien yang ternyata gemuk-gemuk, sehat-sehat, pas dicek zat besinya kurang. Nah ini sangat berhubungan dengan kebutuhan sarap-sarap otak,” katanya.

Selain vitamin D dan zat besi, dr. Mesty menyebut banyak anak juga mengalami kekurangan zinc dan vitamin A. 

Asupan makanan yang tampak banyak belum tentu memenuhi kebutuhan zat gizi mikro secara seimbang.

 

Akar Gizi Sejak Kehamilan

Masalah ini, menurutnya, sering berakar sejak masa kehamilan. 

Pola makan ibu hamil yang seadanya, terburu-buru, atau kurang bervariasi dapat memengaruhi preferensi rasa anak di kemudian hari. 

Anak mengenal rasa sejak dalam kandungan, sehingga kualitas nutrisi ibu menjadi fondasi awal kebiasaan makan anak.

Kesalahan lain yang kerap terjadi adalah pengenalan rasa manis terlalu dini saat MPASI. 

Rasa manis yang nyaman membuat anak enggan menerima rasa gurih atau tekstur makanan utama. 

Akibatnya, anak cenderung memilih snack, crackers, atau makanan instan yang mengenyangkan tapi minim zat gizi.

Di sisi lain, tren pemberian protein hewani berlebihan tanpa keseimbangan karbohidrat juga menjadi sorotan. 

Banyak orang tua beranggapan protein adalah kunci utama, sementara karbohidrat dianggap bisa dikurangi.

Padahal, dr. Mesty menegaskan tubuh anak membutuhkan karbohidrat sebagai sumber energi utama. 

Jika karbohidrat tidak cukup, protein justru akan dibakar menjadi energi, bukan disimpan untuk pembentukan massa otot dan fungsi tubuh lainnya.

Isu lain yang sering terlewat muncul pada anak usia 3–4 tahun. 

Setelah fase 1.000 hari pertama terlewati, banyak orang tua mulai merasa santai. Padahal, kebutuhan kalori anak usia ini justru cukup tinggi.

Rata-rata anak usia empat tahun membutuhkan sekitar 1.600 hingga 1.800 kalori per hari, hampir setara dengan kebutuhan orang dewasa. 

Namun karena tubuh anak terlihat kecil, porsi makan sering disamakan dengan “setengah orang dewasa”, yang akhirnya membuat asupan tidak tercukupi.

Dr. Mesty mengingatkan, kebutuhan karbohidrat anak usia empat tahun bisa mencapai sekitar 800 gram per hari, yang setara dengan kurang lebih empat mangkuk nasi.

Sumbernya pun tidak harus nasi, bisa berasal dari jagung, roti, atau sumber karbohidrat lain selama aktivitas anak tinggi.

Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas