Cuaca Ekstrem Bikin Paru 'Drop', Ini Penyakit Paling Sering Muncul Saat Hujan dan Panas Berlebihan
Kondisi ekstrem ini bisa menurunkan daya tahan tubuh sekaligus memicu peradangan pada saluran napas.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Willem Jonata
Ringkasan Berita:
- Kondisi cuaca ekstrem menjadi salah satu pemicu utama gangguan pernapasan yang sering dianggap sepele
- Padahal, kondisi ekstrem ini bisa menurunkan daya tahan tubuh sekaligus memicu peradangan pada saluran napas
- Paparan debu dan polusi dalam jangka panjang tidak hanya berdampak pada paru, tetapi juga bisa memicu penyakit lain
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Perubahan cuaca yang makin tidak menentu belakangan ini ternyata bukan sekadar membuat tubuh tidak nyaman, tapi juga bisa berdampak langsung pada kesehatan paru.
Dokter Spesialis Paru, dr. Santi Rahayu Dewayanti, Sp.P, MM, FCCP, mengingatkan bahwa kondisi cuaca ekstrem menjadi salah satu pemicu utama gangguan pernapasan yang sering dianggap sepele.
“Kalau kita sebut ekstrim biasanya kadang dingin atau dingin sekali atau panas atau panas sekali, ya. Nah, kenapa berdampak tidak baik pada kesehatan paruh? Karena sesuatu yang ekstrim pasti tidak baik,” jelasnya pada talkshow kesehatan virtual yang diselenggarakan di akun Instagram Kementerian Kesehatan, Minggu (5/4/2026).
Baca juga: Demam Tinggi dan Gangguan Pernapasan? Waspada Deteksi Dini Infeksi Virus Nipah
Menurutnya, kondisi ekstrem ini bisa menurunkan daya tahan tubuh sekaligus memicu peradangan pada saluran napas.
“Karena cuaca yang ekstrem itu bisa mengganggu daya tahan tubuh atau imunitas kita,” lanjutnya.
ISPA hingga Pneumonia, Risiko Nyata di Sekitar Kita
Gangguan paru yang paling sering muncul akibat cuaca ekstrem adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Gejalanya sering dianggap ringan, seperti batuk pilek atau flu berkepanjangan.
Namun, jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini bisa berkembang menjadi lebih serius.
“Paling sering adalah seperti flu, ya, atau batuk pileg yang berkepanjangan atau demam-demam ringan atau bahkan infeksi paruh yang lebih berat atau penemoni,” ujarnya.
Selain ISPA, penyakit lain yang juga sering muncul adalah bronkitis hingga pneumonia, yang merupakan infeksi pada jaringan paru.
Musim Hujan vs Kemarau, Sama-sama Berbahaya
Banyak orang mengira hanya musim hujan yang berbahaya bagi kesehatan paru.
Padahal, menurut dr. Santi, musim kemarau dengan suhu panas ekstrem juga memiliki risiko yang sama.
Pada musim hujan, kelembapan tinggi dapat memicu penyempitan saluran napas, terutama pada penderita asma.
Sementara saat cuaca panas, partikel debu dan polusi meningkat drastis dan masuk ke dalam paru.
“Apabila PM 2,5 yang banyak masuk akan bisa menyebabkan gangguan pernafasan jangka panjang,” jelasnya.
Partikel kecil ini bahkan bisa mencapai bagian paru paling dalam (alveoli) dan memicu gangguan kronis.
Bisa Picu Penyakit Serius
Paparan debu dan polusi dalam jangka panjang tidak hanya berdampak pada paru, tetapi juga bisa memicu penyakit lain.
“Tidak hanya segala gangguan pernapasan, tapi juga gangguan jantung dan sebagainya,” tambahnya.
Fenomena “batuk bergantian” di kantor atau rumah sering dianggap hal biasa. Padahal, ini bisa menjadi tanda daya tahan tubuh sedang menurun akibat cuaca ekstrem.
Jika tidak diantisipasi, kondisi ini bisa berkembang menjadi infeksi yang lebih serius.
Kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan paru di tengah cuaca ekstrem menjadi kunci utama agar tidak jatuh pada kondisi yang lebih berat.
(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.