WFH bagi ASN Bisa Berdampak Pada Kesehatan Mental, Ini yang Perlu Diperhatikan agar Tidak Stres
WFH setiap Jumat berisiko pada kesehatan mental. Menurut psikolog, tanpa pengaturan yang tepat, WFH bisa memicu stres.
Penulis:
Rina Ayu Panca Rini
Editor:
Anita K Wardhani
Ringkasan Berita:
- WFH setiap Jumat berisiko pada kesehatan mental.
- Menurut psikolog, tanpa pengaturan yang tepat, WFH bisa memicu stres, kelelahan mental, hingga perasaan terisolasi bagi individu tertentu.
- Ini tips dari agar tidak stres saat WFH.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Kebijakan Work From Home (WFH) setiap Jumat bagi ASN mulai April 2026 dianggap bisa meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Namun dari sisi kesehatan mental, kebijakan ini tidak sepenuhnya tanpa risiko.
Psikiater Lahargo Kembaren menyebut, tanpa pengaturan yang tepat, WFH bisa memicu stres, kelelahan mental, hingga perasaan terisolasi bagi individu tertentu.
Baca juga: Menengok Sudut-sudut Sepi Gedung KPK di Hari Pertama WFH ASN Tiap Jumat
"WFH ini bisa berdampak psikologis pada dua sisi bisa mencegah kesehatan mental tetapi pada kondisi tertentu juga dapat menjadi faktor risiko," urai dia saat dihubungi Tribunnews.com, Jumat (10/4).
Pada sisi positif, WFH dapat mengurangi stres akibat perjalanan ke kantor, kemacetan, dan kelelahan fisik.
Banyak pekerja merasa memiliki waktu lebih fleksibel untuk keluarga, istirahat, dan aktivitas personal.
Namun, pada sisi lain, WFH juga dapat menyebabkan batas antara ruang kerja dan ruang pribadi menjadi kabur.
Akibatnya, ada perasaan selalu bekerja, sulit berhenti dan kemudian mengalami kelelahan mental (mental fatigue).
Dampak Positif dan Negatif dari WFH
WFH memberikan dampak positif apabila jam kerja tetap terstruktur, target realistis, ada dukungan dari atasan, pekerja memiliki ruang kerja yang nyaman serta komunikasi tim tetap terjaga.
Sebaliknya, dampak negatif muncul bila jam kerja menjadi lebih panjang, ada tuntutan respons cepat sepanjang hari, rumah tidak kondusif, pekerja merasa terisolasi hingga muncul tekanan untuk selalu online.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan stres, burnout, dan penurunan kesejahteraan psikologis.
Lebih jauh, WFH dapat meningkatkan risiko kecemasan, kesepian, bahkan gejala depresi pada sebagian individu, terutama bila berlangsung dalam jangka panjang tanpa interaksi sosial yang memadai.
Secara psikologis, manusia memiliki kebutuhan dasar untuk terhubung secara sosial.
Ketika interaksi tatap muka berkurang, seseorang dapat mengalami social isolation dan loneliness.
Selain itu, WFH juga memicu kecemasan pada sebagian orang karena takut dinilai tidak produktif, ketidakjelasan target kerja, tekanan kamera meeting dan respons pesan serta rasa khawatir karier atau promosi.
"Pada individu yang sudah memiliki kerentanan psikologis, kondisi ini bisa memperburuk gejala ansietas dan depresi," ungkap dia.
Tips Jaga Mental saat WFH agar Tak Stres
Lahargo pun membagikan tips agar tetap sehat mental saat menjalani WFH.
1. Tetapkan batas waktu kerja yang jelas.
Mulai dan akhiri pekerjaan pada jam yang konsisten. Hindari budaya “selalu online”.
2. Buat ruang kerja khusus.
Pisahkan area kerja dengan area istirahat agar otak dapat membedakan mode kerja dan mode relaksasi.
3. Jadwalkan jeda mikro
Istirahat 5–10 menit setiap 1–2 jam untuk peregangan, minum, dan mengistirahatkan mata.
4. Pertahankan interkasi sosial
Lakukan komunikasi rutin dengan rekan kerja, keluarga, dan teman untuk mencegah rasa kesepian.
5. Jaga ritme hidup sehat
Tidur cukup, olahraga ringan, makan teratur, dan batasi doom scrolling atau paparan berita berlebihan.
6. Kenali tanda burnout
Jika mulai muncul sulit tidur, mudah marah, kehilangan motivasi, atau merasa lelah emosional berkepanjangan, segera konsultasi ke profesional.
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.