Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Pakar Ungkap Manfaat Kesehatan Tersembunyi di Balik Penerapan WFH

WFH ternyata memiliki sejumlah manfaat dari sisi kesehatan. Manfaat WFH ini tidak bersifat mutlak dan sangat bergantung pada konteks penerapannya.

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Pakar Ungkap Manfaat Kesehatan Tersembunyi di Balik Penerapan WFH
Freepik
Foto ilustrasi WFH 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

Ringkasan Berita:
  • WFH ternyata memiliki sejumlah manfaat dari sisi kesehatan.
  • Manfaat WFH ini tidak bersifat mutlak dan sangat bergantung pada konteks penerapannya.

 

 


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kebijakan work from home (WFH) kembali menjadi sorotan.

WFH bagi aparatur sipil negara ditetapkan pemerintah sebagai langkah penghematan energi di tengah kenaikan harga minyak global. 

Baca juga: WFH bagi ASN Bisa Berdampak Pada Kesehatan Mental, Ini yang Perlu Diperhatikan agar Tidak Stres

Di balik perdebatan soal penerapan kerja dari rumah ini, WFH ternyata memiliki sejumlah manfaat dari sisi kesehatan, baik fisik maupun mental.

Dokter, peneliti Global Health Security, dan pakar epidemiologi Dr. Dicky Budiman, B.Med., MD., MScPH., Ph.D. menegaskan bahwa manfaat WFH memang ada, namun tidak bersifat mutlak dan sangat bergantung pada konteks penerapannya.

Rekomendasi Untuk Anda

“Jadi bicara WFH tentu kalau manfaat dari sisi kesehatan ada ya, yang tentu ini didukung oleh literatur, ada menunjukkan manfaat namun bersifat kontekstual artinya bergantung pada desain kebijakan dan kondisi dari si individu yang mengalami WFH ini,” ujarnya.

Menekan Risiko Penyakit Menular

Salah satu manfaat paling nyata dari WFH terlihat saat pandemi COVID-19.

Pembatasan mobilitas membuat interaksi fisik berkurang, sehingga penularan penyakit juga ikut menurun.

Baca juga: Sosok Hadianto Rasyid Wali Kota Palu Terapkan WFH ASN Kamis & Jumat, Harta Rp 266,5 M, Tak Ada Utang

“Artinya kalau bicara manfaat ada potensi pengurangan risiko penyakit menular karena WFH seperti yang kita lihat di masa pandemi itu terbukti efektif menurunkan transmisi atau penularan penyakit saluran pernapasan ya seperti COVID-19, influenza misalnya ya,” jelas Dicky pada Tribunnews, Minggu (12/4/2025). 

Selain itu, pengurangan mobilitas juga berdampak pada penurunan kontak antarindividu.

Dalam perspektif epidemiologi, hal ini berkontribusi pada menurunnya contact rate atau tingkat interaksi yang menjadi faktor utama penyebaran penyakit.

Stres Berkurang, Kesehatan Mental Lebih Terjaga

Ilustrasi
Ilustrasi (Verywell Mind)

Tidak hanya dari sisi fisik, WFH juga memberikan dampak pada kesehatan mental.

Fleksibilitas waktu menjadi faktor penting yang membantu mengurangi tekanan sehari-hari.

Tanpa keharusan menghadapi kemacetan atau perjalanan panjang, pekerja memiliki ruang lebih untuk mengatur ritme hidup.

Dicky menyebut kondisi ini dapat menurunkan stres, bahkan berkontribusi pada penurunan burnout ringan hingga sedang.

WFH juga meningkatkan rasa kontrol terhadap pekerjaan (perceived autonomy) dan membantu menciptakan keseimbangan antara kehidupan kerja dan pribadi (work-life balance).

Namun, manfaat ini tidak selalu terjadi pada semua orang, karena sangat bergantung pada kondisi individu dan lingkungan kerja.

Paparan Polusi Udara Menurun

Manfaat lain yang sering luput dari perhatian adalah berkurangnya paparan polusi udara.

Aktivitas commuting yang berkurang membuat paparan terhadap polutan seperti PM2.5 dan NO2 ikut menurun.

Kondisi ini berdampak langsung pada kesehatan.

Risiko penyakit kardiovaskular dapat berkurang, begitu juga dengan kekambuhan penyakit pernapasan seperti asma.

Selain itu, pengurangan mobilitas juga berdampak pada lingkungan secara luas.

Emisi karbon dari sektor transportasi menurun, yang turut berkontribusi pada kesehatan lingkungan atau planetary health.

Fenomena ini sempat terlihat jelas saat pandemi, ketika kualitas udara di berbagai kota besar dunia membaik secara signifikan.

Bantu Pengelolaan Penyakit Kronis

WFH juga memberi manfaat bagi individu dengan penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi.

Dengan lebih banyak waktu di rumah, mereka memiliki kesempatan lebih besar untuk mengatur pola makan, minum obat, dan menjaga gaya hidup.

Selain itu, angka ketidakhadiran kerja (absenteeism) cenderung menurun.

Meski demikian, kondisi ini juga bisa menjadi “pedang bermata dua” karena sebagian orang tetap bekerja meski dalam kondisi tidak optimal.

WFH Jadi Tren Global, Tapi Tidak Sepenuhnya Diterapkan

Dalam konteks global, WFH kini menjadi bagian dari pola kerja modern.

Banyak negara menerapkan sistem kerja fleksibel atau hybrid, bukan WFH penuh.

Dicky menjelaskan bahwa tren ini sudah berkembang sejak sebelum pandemi dan semakin menguat setelahnya.

Negara seperti Belanda, Inggris, dan Australia bahkan telah memiliki regulasi terkait fleksibilitas kerja.

Sementara di negara lain seperti Amerika Serikat dan Jepang, penerapan WFH lebih banyak dilakukan dalam bentuk hybrid, misalnya 2–3 hari kerja dari rumah.

“Dari tren kebijakan global ini sebetulnya tidak ada negara yang mempertahankan WFA penuh secara universal itu. Nggak ada ya atau belum ada ya. Yang saat ini dirujuk, diacu kecenderungannya dan dianggap model terbaik adalah hybrid adaptive model,” jelasnya.

Perlu Desain Kebijakan yang Tepat

Meski memiliki banyak manfaat, WFH tidak bisa diterapkan secara sembarangan.

Kebijakan ini perlu dirancang dengan mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk kondisi pekerja dan jenis pekerjaan.

Tanpa desain yang tepat, manfaat yang diharapkan justru bisa tidak optimal.

Karena itu, WFH sebaiknya dipandang sebagai bagian dari strategi kesehatan masyarakat yang berbasis konteks.

Dengan pendekatan yang tepat, WFH dapat menjadi solusi yang tidak hanya mendukung produktivitas, tetapi juga menjaga kesehatan masyarakat secara lebih luas.

Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas