Tak Punya Rahim, Mengapa Vaksin HPV Juga Diberikan kepada Laki-laki?
Pemerintah berupaya menekan angka penularan kanker leher rahim atau serviks melalui vaksin HPV yang diperluas, diberikan pada laki-laki.
Penulis:
Rina Ayu Panca Rini
Editor:
Anita K Wardhani
Ringkasan Berita:
- Pemerintah berupaya menekan angka penularan kanker leher rahim atau serviks melalui vaksin HPV (Human Papillomavirus).
- Kankers serviks diketahui merupakan kanker tertinggi kedua setelah kanker payudara pada perempuan.
- Meski menyerang perempuan, mulai tahun ini vaksin HPV juga diperluas kepada laki-laki. Ini alasannya.
TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA -- Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin menyatakan, mulai tahun ini vaksin HPV (Human Papillomavirus) juga diperluas kepada laki-laki.
Selama ini, vaksin HPV lebih dikenal diberikan kepada perempuan.
Mengapa vaksin ini diberikan pada laki-laki, padahal kaum adam tak memiliki rahim?
Baca juga: Mengapa Vaksin HPV Diberikan Usia 11 Tahun? Pakar Jelaskan Alasan Ilmiah
Budi menyebut, laki-laki sebagai pembawa virus HPV sehingga bisa menularkan kepada virus kepada perempuan.
"Laki-laki ini sebagai pembawa (carrier) virus yang dapat menularkannya kepada perempuan. Mereka tidak terkena karena tidak punya serviks," ujar Budi dalam Rapat Bersama Komisi IX DPR RI, Selasa (21/4/2026).
Saat ini pemerintah tengah berupa menekan penyebaran HPV melalui vaksinasi secara lebih luas.
Sebelumnya, vaksin HPV difokuskan untuk anak perempuan.
Secara nasional, anak usia 9-14 tahun mendapatkan satu atau dua dosis dalam selang waktu 6-12 bulan bagi
Vaksin HPV bertujuan untuk mengurangi risiko terinfeksi kanker leher rahim atau serviks, yang merupakan kanker tertinggi kedua setelah kanker payudara pada perempuan.
"Kami fokus pada usia 9-14 tahun. Untuk usia 15–16 tahun juga sedang kami kejar. Selanjutnya, rencananya akan ditingkatkan ke kelompok usia 20–21 tahun yang belum sempat diimunisasi. Dan tahun ini juga akan mulai diberikan kepada laki-laki," ujar Menkes Budi.
Harapannya, dengan vaksinasi yang diberikan pada kedua kelompok, baik laki-laki dan perempuan, perlindungan menjadi lebih optimal.
Namun, pemberian vaksin saja tidak cukup, jika tidak disertai dengan edukasi perilaku serta informasi yang komprehensif mengenai skrining, diagnosis, dan tata laksana penyakit ini.
Terpisah, Direktur Imunisasi, Kementerian Kesehatan RI dr. Indri Yogyaswari, MARS, mengatakan, perluasan ini sedang dalam proses perencanaan.
Selain anak laki-laki, kelompok perempuan dewasa juga akan menjadi sasaran berikutnya.
Pemerintah tidak langsung menerapkan vaksinasi untuk semua kelompok.
Perluasan akan dilakukan secara bertahap melalui evaluasi di setiap tahapannya.
Baca tanpa iklan