Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Waka BGN Bantah Kematian Balita di Cianjur karena Program MBG

Ramai kabar kematian seorang balita berusia 2 tahun bukan karena MBG. BGN menegaskan kabar ini tidak benar. 

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Waka BGN Bantah Kematian Balita di Cianjur karena Program MBG
HO/IST
RAPAT KOORDINASI - Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik Sudaryati Deyang dalam acara Rapat Koordinasi dengan para Kepala SPPG, Pengawas Gizi, dan Pengawas Keuangan se Kota Pekanbaru, serta Para Koordinator Wilayah SPPG Se Provinsi Riau, di Pekanbaru, Rabu, 4 Maret 2026. 

Ringkasan Berita:
  • Ramai kabar kematian seorang balita berusia 2 tahun bukan karena Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
  • BGN menegaskan kabar ini tidak benar. 
  • Dari total  2.174 penerima manfaat yang menerima MBG pada 14 April di SPPG setempat, tidak ada satupun yang mengalami gangguan pencernaan.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan bahwa kematian seorang balita berusia 2 tahun bukan karena Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Hal ini merespons informasi yang beredar bahwa kematian balita bernama M. Abdul Bais di Cianjur karena konsumsi MBG.

Baca juga: Purbaya Minta Bos BGN Lebih Efisien Kelola Anggaran MBG

"Tidak benar meninggalnya bayi usia 2 tahun di Cianjur karena Program MBG," tegas Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang di Jakarta, Minggu (26/4/2026).

Ia menerangkan, makanan MBG diberikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukasirna 02 Leles kepada penerima manfaat pada 14 April 2026 dan langsung dikonsumsi pada hari yang sama.

Menu yang disajikan meliputi mi kecap, telur dadar, susu, dan buah.

Baca juga: BGN Prioritaskan Program MBG Buat Penduduk Miskin di 273 Kabupaten Kota

Rekomendasi Untuk Anda

Kemudian, pada malam hari dan esok harinya, orang tua anak memberikan tambahan makanan berupa apel dan susu formula yang dibeli secara mandiri, di luar program MBG.

Gejala baru muncul dua hari kemudian, tepatnya pada 16 April 2026, saat anak mulai mengalami muntah-muntah. 

Nanik menyebut, dari total 2.174 penerima manfaat yang menerima MBG pada 14 April, tidak ada satupun yang mengalami gangguan pencernaan.

"Ini menjadi indikator bahwa makanan yang disalurkan dalam kondisi aman dan layak konsumsi," ujarnya.

Ia menambahkan, korban terakhir mengonsumsi MBG pada Selasa, 14 April 2026. Pada hari berikutnya, Rabu (15/4/2026), korban tidak mengonsumsi MBG karena menolak makan. Gejala kemudian muncul pada Kamis (16/4/2026) sekitar pukul 06.00 WIB.

BGN juga menyampaikan duka cita atas meninggalnya balita tersebut.

“Kami turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya ananda M. Abdul Bais. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan,” kata Nanik.

Terpisah ayah korban, Sahjanudin (41) menegaskan kematian anaknya murni karena sakit dan tidak terkait Program MBG. BGN memastikan akan terus memantau dan mengevaluasi program untuk menjaga keamanan serta kualitas makanan.

"Saya orang tua dari Abdul Bais menyatakan kematian anak saya ini murni karena sakit. Tidak ada hubungannya dengan dapur MBG SPPG Sukasirna 02 Leles," ucapnya.

 

 

Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas