Keguguran hingga Hamil di Luar Rahim, Kelainan Kehamilan yang Sering Terjadi Tapi Jarang Dipahami
Jika keguguran terjadi satu kali, biasanya masih dianggap wajar. Namun jika terjadi berulang, perlu pemeriksaan lebih lanjut.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Willem Jonata
Ringkasan Berita:
- Keguguran bisa terjadi karena masalah pada pembentukan genetik sejak awal pembuahan. kondisi ini tidak selalu berkaitan dengan faktor keturunan
- Salah satu kondisi yang paling berbahaya adalah kehamilan ektopik atau hamil di luar rahim. Kondisi ini terjadi ketika sel telur yang telah dibuahi tidak masuk ke rahim
- Selain keguguran dan ektopik, infeksi juga menjadi masalah besar dalam kehamilan. Yang membuatnya berbahaya adalah seringkali tidak menunjukkan gejala
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Tidak semua kehamilan berjalan mulus. Di balik kabar bahagia, ada berbagai risiko dan kelainan yang bisa terjadi sejak awal kehamilan.
Sayangnya, banyak perempuan belum memahami kondisi ini secara utuh, sehingga sering terlambat menyadarinya.
Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan Eka Hospital PIK, dr. Krisantus Desiderius Jebada, SpOG, mengungkap bahwa komplikasi kehamilan awal cukup beragam.
Mulai dari keguguran, kehamilan di luar rahim, hingga infeksi.
Baca juga: Gangguan Tiroid Bisa Sebabkan Sulit Hamil hingga Keguguran, Dokter Ingatkan Deteksi Dini
Keguguran menjadi salah satu ketakutan terbesar dalam kehamilan. Namun, fakta medis menunjukkan bahwa penyebabnya sering kali bukan karena aktivitas ibu.
“Mostly 70 persen itu adalah kelainan genetik si janinnya,” jelas dr. Krisantus pada media briefing virtual di Blok M, Selasa (6/5/2026).
Artinya, keguguran bisa terjadi karena masalah pada pembentukan genetik sejak awal pembuahan.
Menariknya, kondisi ini tidak selalu berkaitan dengan faktor keturunan.
“Tidak selalu. Biasa saja dari bapak ibunya sehat, tetapi pas dia bertemu pembelahan, genetiknya ada yang ngeflek,” ungkapnya.
Jika keguguran terjadi satu kali, biasanya masih dianggap wajar. Namun jika terjadi berulang, perlu pemeriksaan lebih lanjut.
Kehamilan Ektopik: Hamil Tapi Bukan di Rahim
Salah satu kondisi yang paling berbahaya adalah kehamilan ektopik atau hamil di luar rahim. Kondisi ini terjadi ketika sel telur yang telah dibuahi tidak masuk ke rahim.
“Jadi dia tidak di dalam rongga rahimnya. Dia hanya menetap di saluran tuba ini,” jelasnya.
Pada awalnya, kondisi ini mungkin tidak menimbulkan gejala serius.
Namun seiring pertumbuhan, risiko menjadi sangat tinggi. Jika kantong kehamilan membesar, saluran tuba bisa pecah.
“Ketika pecah, perdarahan hebat, itu yang diketahui kehamilan ektopik,” tegasnya.
Kondisi ini biasanya membutuhkan tindakan operasi segera.
Perempuan yang pernah mengalami kehamilan ektopik memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalaminya kembali.
“Perempuan yang lewat ektopik pertama, resiko dia untuk ektopik berikutnya itu akan tinggi,” ungkapnya.
Jika kedua saluran tuba mengalami kerusakan, maka peluang hamil secara alami menjadi sangat kecil. Dalam kondisi ini, metode seperti bayi tabung biasanya menjadi pilihan.
Infeksi: Ancaman yang Sering Tidak Disadari
Selain keguguran dan ektopik, infeksi juga menjadi masalah besar dalam kehamilan. Yang membuatnya berbahaya adalah seringkali tidak menunjukkan gejala.
“Biasanya infeksi saluran kemih itu tidak perlu gejala. Jadi asimptomatik tetap kita obatin,” jelasnya.
Infeksi ini bisa memicu berbagai komplikasi serius, termasuk kontraksi dini. Bahkan, kondisi sederhana seperti sakit gigi yang berulang pun bisa berdampak.
“Kadang ada pasien yang cuma sakit gigi doang, tapi sakit giginya berulang, bikin dia mulus-mulus terus,” ungkapnya.
Perubahan hormon selama kehamilan memengaruhi banyak fungsi tubuh, termasuk sistem kemih.
Salah satu dampaknya adalah berkurangnya keinginan untuk buang air kecil.
Akibatnya, bakteri lebih mudah berkembang. Hal ini membuat ibu hamil lebih rentan terhadap infeksi dibandingkan kondisi normal.
Keguguran yang Masih Bisa Dipertahankan
Tidak semua keguguran berakhir dengan kehilangan janin.
Ada kondisi yang disebut threatened abortion, di mana kehamilan masih bisa diselamatkan.
Biasanya ditandai dengan jantung janin yang masih ada dan mulut rahim yang masih tertutup. Namun, pada kondisi tertentu, keguguran tidak bisa dicegah.
Kehamilan bukan hanya soal hasil positif, tetapi juga proses yang penuh risiko.
Mulai dari keguguran, kehamilan ektopik, hingga infeksi, semuanya membutuhkan perhatian sejak dini. Dengan memahami berbagai kelainan ini, perempuan tidak hanya lebih siap secara fisik, tetapi juga mental.
Karena dalam banyak kasus, yang menentukan bukan hanya kondisi medis, tetapi juga seberapa cepat gejala dikenali dan ditangani.
(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.