UPDATE Kemenkes: 2 Suspek Hantavirus Jakarta-Jogja Negatif, Pasien Sembuh
Lega! Hasil lab dua suspek Hantavirus negatif. Tapi awas, puluhan kasus hantui 9 provinsi. Cek daftar wilayahnya dan waspadai tikus rumah!
Penulis:
Rina Ayu Panca Rini
Editor:
Acos Abdul Qodir
Ringkasan Berita:
- Kabar baik! Dua suspek virus mematikan di Jakarta dan Yogyakarta akhirnya resmi dinyatakan negatif medis.
- Jangan lengah, ternyata puluhan orang sudah terinfeksi dan virus ini mengintai di sembilan provinsi besar.
- Waspada, kotoran tikus di rumah jadi ancaman nyata karena reservoir virus terdeteksi di dua puluh sembilan wilayah.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI memastikan dua kasus suspek Hantavirus di Jakarta dan Yogyakarta menunjukkan hasil negatif berdasarkan pemeriksaan laboratorium. Kabar ini menjadi angin segar di tengah pemantauan ketat penyakit zoonosis di tanah air.
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes RI, Aji Muhawarman, menyatakan kedua pasien tersebut kini telah dinyatakan sehat.
“Ya, sudah negatif dan sembuh,” ungkap Aji saat dikonfirmasi Tribunnews.com, Jumat (8/5/2026).
Data Nasional: 23 Kasus Terkonfirmasi
Meski dua suspek terbaru dinyatakan negatif, Kemenkes mencatat total ada 23 kasus positif Hantavirus di Indonesia sepanjang periode 2024 hingga Mei 2026.
Dari jumlah tersebut, tiga orang dilaporkan meninggal dunia, sementara sisanya berhasil sembuh.
Kasus-kasus tersebut tersebar di sembilan provinsi, dengan DKI Jakarta dan DI Yogyakarta mencatatkan angka tertinggi masing-masing 6 kasus.
Diikuti Jawa Barat (5 kasus), serta sejumlah wilayah lain seperti NTT, Kalbar, Sumbar, Sulut, Banten, dan Jawa Timur yang masing-masing melaporkan 1 kasus.
Baca juga: Belum Ada Vaksin, Hantavirus Jadi Sorotan Setelah Tewaskan 3 Orang, WHO Beri Peringatan
Waspada Tikus Rumah (Seoul Virus)
Berdasarkan pemeriksaan medis, semua kasus konfirmasi di Indonesia mengarah pada Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dengan strain Seoul Virus (SEOV).
Virus ini umumnya menyerang ginjal dan pembuluh darah dengan gejala demam serta pendarahan.
Aji menjelaskan, penularan penyakit ini sangat berkaitan dengan kontak manusia terhadap tikus rumah (Rattus rattus dan Rattus norvegicus) yang membawa virus.
“Faktor risiko berkaitan dengan kontak manusia terhadap tikus atau celurut yang terinfeksi, termasuk paparan ekskresi (kotoran) dan sekresi hewan tersebut,” jelas Aji.
Ada di 29 Provinsi
Studi Rikhus Vektora dari Balai Litbangkes Salatiga menunjukkan bahwa reservoir atau hewan pembawa Hantavirus telah ditemukan di 29 provinsi di Indonesia.
Karena tikus jenis ini hidup berdampingan dengan manusia, risiko penularan menjadi lebih tinggi.
Kemenkes mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan secara ketat dan menghindari kontak langsung dengan tikus guna mencegah potensi penularan lebih lanjut.
Baca tanpa iklan