Gejala Hantavirus yang Perlu Diwaspadai, Mulai Demam hingga Sesak Napas
Belakangan ini, pembahasan mengenai Hantavirus kembali menjadi perhatian publik, kenali gejalanya.
Penulis:
Farrah Putri Affifah
Editor:
Wahyu Gilang Putranto
Ringkasan Berita:
- Hantavirus adalah virus yang ditularkan hewan pengerat dan dapat menyerang paru-paru hingga jantung.
- Gejala awal hantavirus mirip flu biasa, seperti demam, nyeri otot, mual, dan sakit kepala, namun bisa berkembang menjadi sesak napas atau gagal ginjal.
- Pencegahan hantavirus dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari paparan kotoran maupun urin tikus yang terkontaminasi virus.
TRIBUNNEWS.COM - Belakangan ini, pembahasan mengenai Hantavirus kembali menjadi perhatian publik setelah sejumlah informasi mengenai penyebaran virus yang dibawa hewan pengerat ramai diperbincangkan di berbagai media dan platform kesehatan.
Munculnya kasus penyakit dengan gejala demam, hingga gangguan pernapasan, membuat masyarakat mulai mencari tahu lebih jauh tentang Hantavirus dan bagaimana cara mengenali tanda-tandanya sejak dini.
Hantavirus merupakan kelompok virus zoonosis, yaitu virus yang berasal dari hewan dan dapat menular ke manusia.
Virus ini umumnya dibawa oleh tikus atau hewan pengerat lainnya tanpa menimbulkan gejala pada hewan tersebut.
Namun ketika menginfeksi manusia, Hantavirus dapat menyebabkan penyakit serius yang menyerang paru-paru, jantung, hingga ginjal dan pembuluh darah.
Penularan hantavirus paling sering terjadi melalui paparan urin, air liur, atau kotoran tikus yang mengering lalu bercampur dengan udara dan terhirup manusia, dikutip dari cdc.gov.
Selain itu, penularan juga bisa terjadi akibat menyentuh permukaan yang terkontaminasi kemudian menyentuh wajah, atau melalui luka terbuka pada kulit.
Karena itu, seseorang tidak harus digigit tikus untuk bisa terinfeksi virus ini.
Di Indonesia sendiri, Hantavirus sebenarnya bukan penyakit baru.
Sejumlah penelitian menunjukkan virus ini sudah ditemukan sejak puluhan tahun lalu dan masih beredar di lingkungan dengan populasi tikus yang tinggi.
Namun, gejalanya yang mirip penyakit lain seperti flu, tifus, leptospirosis, atau demam berdarah membuat banyak kasus diduga tidak terdeteksi, dikutip dari badankebijakan.kemkes.go.id.
Baca juga: Cara Cegah Hantavirus Menurut WHO dan Kemenkes RI, Waspadai Risiko Penularannya Sebelum Terlambat!
Infeksi Hantavirus diketahui dapat memicu dua jenis penyakit utama.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan, di kawasan Amerika, virus ini lebih banyak menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) atau sindrom paru hantavirus yang menyerang sistem pernapasan dan jantung.
Sementara di Eropa dan Asia, Hantavirus lebih sering menyebabkan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), yaitu demam berdarah yang menyerang ginjal dan pembuluh darah.
Meski belum tersedia obat antivirus khusus untuk menyembuhkan hantavirus, penanganan medis sejak awal sangat penting untuk meningkatkan peluang kesembuhan pasien.
Oleh sebab itu, masyarakat perlu memahami gejala awal Hantavirus agar dapat segera mencari pertolongan medis sebelum kondisi berkembang menjadi lebih parah.
Gejala Awal Hantavirus yang Sering Dianggap Flu Biasa
Gejala hantavirus umumnya mulai muncul dalam waktu satu hingga delapan minggu setelah seseorang terpapar virus.
Pada tahap awal, tanda-tandanya sering menyerupai penyakit infeksi biasa sehingga kerap diabaikan.
Beberapa gejala awal yang umum terjadi meliputi:
- Demam tinggi
- Tubuh terasa lemas dan cepat lelah
- Nyeri otot, terutama pada paha, pinggang, punggung, dan bahu
- Sakit kepala
- Pusing
- Menggigil
- Mual dan muntah
- Diare
- Nyeri perut
Pada sebagian pasien, gejala awal tersebut dapat berkembang cepat menjadi gangguan serius, terutama pada paru-paru dan ginjal.
Gejala Hantavirus yang Menyerang Paru-Paru (HPS)
Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) merupakan bentuk infeksi berat yang menyerang sistem pernapasan.
Penyakit ini dapat berkembang hanya dalam beberapa hari setelah gejala awal muncul.
Gejala lanjut HPS meliputi:
- Batuk terus-menerus
- Sesak napas
- Dada terasa berat atau tertekan
- Penumpukan cairan di paru-paru
- Napas menjadi cepat dan pendek
Kondisi ini sangat berbahaya karena dapat menyebabkan gagal napas dalam waktu singkat.
Tingkat kematian akibat HPS bahkan dilaporkan cukup tinggi ketika pasien terlambat mendapatkan perawatan intensif.
Gejala Hantavirus yang Menyerang Ginjal (HFRS)
Selain menyerang paru-paru, hantavirus juga dapat memicu Demam Berdarah dengan Sindrom Ginjal atau HFRS.
Penyakit ini lebih banyak ditemukan di wilayah Asia dan Eropa.
Gejala yang sering muncul antara lain:
- Sakit kepala berat
- Nyeri punggung dan perut
- Demam disertai menggigil
- Penglihatan kabur
- Mata merah atau iritasi
- Ruam pada kulit
- Tekanan darah menurun
- Pendarahan internal
- Gangguan fungsi ginjal hingga gagal ginjal akut
Pada kondisi berat, pasien bisa mengalami syok akibat kebocoran pembuluh darah dan penurunan aliran darah ke organ tubuh.
Cara Penularan Hantavirus yang Harus Diwaspadai
Penularan hantavirus paling sering terjadi melalui lingkungan yang terkontaminasi tikus.
Risiko paparan meningkat pada area dengan sanitasi buruk atau banyak aktivitas hewan pengerat.
Beberapa cara penularan hantavirus meliputi:
- Menghirup udara yang tercemar partikel kotoran atau urin tikus
- Menyentuh benda yang terkontaminasi lalu menyentuh mulut atau hidung
- Kontak langsung dengan tikus terinfeksi
- Gigitan tikus, meski kasusnya lebih jarang
- Membersihkan ruangan tertutup yang lama tidak digunakan tanpa perlindungan
Aktivitas seperti membersihkan gudang, loteng, rumah kosong, atau area lembap tanpa ventilasi cukup dapat meningkatkan risiko infeksi.
Cara Mencegah Infeksi Hantavirus
Karena belum ada vaksin maupun obat khusus untuk Hantavirus, langkah pencegahan menjadi hal paling penting untuk dilakukan.
Beberapa langkah yang dapat membantu mengurangi risiko penularan antara lain:
- Menjaga kebersihan rumah dan lingkungan
- Menutup celah masuk tikus di rumah
- Menyimpan makanan dalam wadah tertutup
- Menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area kotor
- Membasahi area yang terkontaminasi sebelum dibersihkan agar debu tidak beterbangan
- Tidak menyapu atau menyedot langsung kotoran tikus yang kering
- Rajin mencuci tangan setelah membersihkan ruangan
Masyarakat juga disarankan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami demam disertai sesak napas atau gejala berat lain setelah berada di lingkungan yang banyak tikus.
Penanganan dini menjadi langkah penting untuk mencegah komplikasi serius akibat infeksi Hantavirus.
(Tribunnews.com/Farra)
Artikel Lain Terkait Hantavirus
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.