Kemenkes: Hantavirus di Kapal Pesiar MV Hondius Belum Pernah Ada di Indonesia
Virus seperti hantavirus yang menyerang penumpang di kapal pesiar MV Hondius belum pernah dilaporkan ada di Indonesia.
Penulis:
Rina Ayu Panca Rini
Editor:
Choirul Arifin
Ringkasan Berita:
- Virus seperti hantavirus yang menyerang penumpang di kapal pesiar MV Hondius belum pernah dilaporkan ada di Indonesia.
- Jenis virus yang ditemukan dalam kasus hantavirus di kapal pesiar adalah strain Andes Virus dan banyak ditemukan di wilayah benua Amerika.
- Binatang pembawa penyakitnya ditemukan di berbagai habitat di benua Amerika, seperti alam liar (tikus padi ekor panjang) kabin dan gudang di pedesaan (mencit rusa).
TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA -- Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Andi Saguni menyatakan, jenis virus seperti hantavirus yang menyerang penumpang di kapal pesiar MV Hondius belum pernah dilaporkan ada di Indonesia.
Andi menjelaskan, jenis virus yang ditemukan dalam kasus hantavirus di kapal pesiar adalah strain Andes Virus. Jenis virus ini banyak ditemukan di wilayah benua Amerika.
“Distribusi virus ini tersebar di Amerika dan hingga kini belum pernah dilaporkan di Indonesia, baik pada manusia maupun tikus,” kata Andi dalam temu media via daring, Senin (11/5).
Ia menjelaskan, binatang pembawa penyakitnya ditemukan di berbagai habitat di benua Amerika, seperti alam liar (tikus padi ekor panjang) kabin dan gudang di pedesaan (mencit rusa).
Saat terinfeksi Andes virus maka kasus mengarah pada Hanta Pulmonary Syndrome (HPS) atau infeksi pernapasan akut yang parah dan sering kali berakibat fatal.
Gejala HPS meliputi demam, nyeri badan, lemas, batuk, hingga sesak napas. Masa inkubasi penyakit berkisar antara satu hingga delapan minggu, sedangkan untuk Andes Virus bisa mencapai 42 hari.
Tingkat kematian atau case fatality rate (CFR) penyakit ini dilaporkan mencapai sekitar 60 persen.
Baca juga: Cara Penularan Hantavirus Menurut WHO: Waspadai Partikel Debu yang Terkontaminasi
Ia menerangkan, penularan antar manusia jarang terjadi, dilaporkan terbatas hanya pada tips HPS (Andes Virus) di Amerika Selatan serta pada kontak intens dan berkepanjangan.
"Risiko penularan antar manusia sangat rendah dan terbatas. Hingga saat ini, penularan antar manusia sangat jarang terjadi," ungkap Andi.
Sementara itu, tipe Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dengan strain Seoul virus tersebar di kawasan Eropa dan Asia, termasuk Indonesia.
Virus tipe HFRS umumnya dibawa oleh tikus got dan mencit ladang yang hidup di wilayah perkotaan maupun area pertanian.
Baca juga: Dinkes Kulon Progo Konfirmasi Hasil Lab Warga yang Suspek Hantavirus Dipastikan Negatif
Gejalanya berupa demam, sakit kepala, nyeri badan, tubuh lemas, hingga ikterik atau kondisi tubuh menguning. Masa inkubasi penyakit sekitar satu hingga dua minggu dengan CFR berkisar 5 hingga 15 persen.
Kemenkes memastikan terus melakukan pemantauan dan pengawasan guna mencegah potensi penyebaran penyakit tersebut di Indonesia.
Baca tanpa iklan