Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Virus Hanta Bisa Berbahaya pada Pengidap Penyakit Jantung

Kelompok dengan komorbid disebut lebih rentan mengalami kondisi yang lebih berat ketika terkena infeksi virus hanta atau hantavirus.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Virus Hanta Bisa Berbahaya pada Pengidap Penyakit Jantung
Learn Worthy
ilustrasi hantavirus. Kelompok dengan komorbid disebut lebih rentan mengalami kondisi yang lebih berat ketika terkena infeksi virus hanta atau hantavirus. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

Ringkasan Berita:
  • Kelompok dengan komorbid disebut lebih rentan mengalami kondisi yang lebih berat ketika terkena infeksi hantavirus.
  • Pasien dengan penyakit jantung memang perlu lebih waspada terhadap infeksi, termasuk Hantavirus.
  • Ini mirip dengan komplikasi jika terkena covid-19, risiko akan lebih tinggi dibanding orang tanpa penyakit bawaan.

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Munculnya kasus Hantavirus di Indonesia membuat sebagian masyarakat mulai khawatir, terutama mereka yang memiliki penyakit bawaan seperti gangguan jantung.

Pasalnya, kelompok dengan komorbid disebut lebih rentan mengalami kondisi yang lebih berat ketika terkena infeksi virus hanta ini. 

Baca juga: Kemenkes Pastikan Infrastruktur Kesehatan Nasional Siap Hadapi Hantavirus

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Subspesialis Aritmia RS Pondok Indah – Pondok Indah, dr. Dony Yugo Hermanto, Sp.JP, Subsp.Ar(K), FIHA mengatakan pasien dengan penyakit jantung memang perlu lebih waspada terhadap infeksi, termasuk Hantavirus.

Menurutnya, kondisi ini mirip seperti yang terjadi saat pandemi Covid-19, ketika pasien komorbid memiliki risiko komplikasi lebih tinggi dibanding orang tanpa penyakit bawaan.

KEWASPADAAN - Kasus virus hanta yang dilaporkan di kapal pesiar internasional dan sejumlah negara menjadi perhatian, termasuk di Indonesia.

 Data kasus Kemenkes RI 2024-2026 ada 23 kasus positif
, 3 Kematian
, tersebar di 9 provinsi
, 2 kasus suspek terbaru
 (DKI Jakarta dan DI Yogyakarta). TRIBUNNEWS/AKBAR PERMANA
KEWASPADAAN - Kasus virus hanta yang dilaporkan di kapal pesiar internasional dan sejumlah negara menjadi perhatian, termasuk di Indonesia. Data kasus Kemenkes RI 2024-2026 ada 23 kasus positif , 3 Kematian , tersebar di 9 provinsi , 2 kasus suspek terbaru (DKI Jakarta dan DI Yogyakarta). TRIBUNNEWS/AKBAR PERMANA (TRIBUNNEWS/Akbar Permana)
Rekomendasi Untuk Anda

“Kalau misalnya kita punya penyakit jantung sebagai baseline, ya itu sama kayak zaman Covid, ya itu jadi komorbid,” ujarnya pada media briefing yang diselenggarakan di Jakarta Selatan, Kamis (14/5/2026). 

Ia menjelaskan, pada orang sehat infeksi tertentu mungkin hanya menimbulkan gejala ringan. 

Namun pada pasien dengan gangguan jantung, tubuh bisa lebih sulit beradaptasi ketika melawan infeksi.

Karena itu risiko kondisi memburuk menjadi lebih besar.

“Tapi ya tetap aja dia apapun itu di orang formal pun dia berisiko fatality-nya cukup tinggi walaupun kecerahan apalagi yang dengan penyakit baseline-nya misalnya jantungnya ada masalah,” jelas dr. Dony.


Pengidap Jantung Bawaan Dinilai Lebih Rentan

Menurut dr. Dony, risiko komplikasi juga bisa berbeda tergantung jenis penyakit jantung yang dimiliki pasien.

Salah satu kondisi yang perlu mendapat perhatian adalah penyakit jantung bawaan tertentu yang membuat kadar oksigen dalam tubuh tidak optimal.

“Tapi secara general kalau memang baseline-nya sakit jantung sudah ada sakit jantung yang tipe tertentu. Misalnya sakit jantung yang biru, dimana saturasi oksigennya gak bisa sampai 100 persen itu pasti akan lebih prone terhadap any infection bukan cuma si hanta doang,” katanya.

Kondisi tersebut membuat tubuh pasien lebih mudah mengalami gangguan bila terserang infeksi virus atau bakteri.

Karena itu, kelompok komorbid diminta lebih menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari risiko paparan penyakit menular.


Penularan Hantavirus Masih Dipantau

Meski demikian, dr. Dony mengatakan hingga kini para ahli masih terus memantau perkembangan Hantavirus, termasuk pola penularannya dan dampaknya pada pasien komorbid.

Ia menilai penelitian masih terus berjalan sehingga belum semua karakter virus dapat dipastikan sepenuhnya.

“Tetap aja selama ini kita masih merumbun dari WHO nih karena WHO kemarin melihat baru penyebarannya yang very close contact tapi kan ini masih ongoing,” ujarnya.

Menurutnya, situasi ini mengingatkan pada awal pandemi Covid-19 ketika para peneliti masih mempelajari pola penyebaran virus secara bertahap.

Karena itu masyarakat diminta tetap waspada namun tidak panik berlebihan.

Dr. Dony menekankan langkah paling penting saat ini adalah menjaga daya tahan tubuh dan mengurangi risiko infeksi. 

Terutama bagi orang dengan penyakit bawaan seperti gangguan jantung.

Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas