Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Yani Panigoro Ingatkan Bahaya TBC di Kawasan Padat Penduduk

Tingginya angka penyakit TBC di Indonesia dinilai memiliki korelasi kuat dengan tingkat kesejahteraan ekonomi masyarakat.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Yani Panigoro Ingatkan Bahaya TBC di Kawasan Padat Penduduk
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
PENDUDUK DKI - Suasana permukiman padat penduduk di kawasan Setiabudi, Jakarta, Kamis (9/4/2026). Badan Pusat Statistik mencatat DKI Jakarta menjadi provinsi terpadat penduduk pada 2026 dengan sebanyak 16.129 jiwa per kilometer persegi, jauh di atas angka nasional sebanyak 152 jiwa per kilometer persegi karena berperan sebagai pusat pemerintahan, ekonomi, dan bisnis nasional. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 
Ringkasan Berita:
  • Tingginya angka penyakit TBC di Indonesia dinilai memiliki korelasi kuat dengan tingkat kesejahteraan ekonomi masyarakat.
  • Kondisi kesehatan masyarakat yang tinggal di perumahan layak dengan warga yang bermukim di kawasan padat penduduk akan berbeda.
  • Realitas di lapangan menunjukkan masih banyak permukiman yang kumuh dan lembap, sehingga menjadi sarang perkembangbiakan bakteri.

 

 


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tingginya angka penyakit Tuberkulosis (TBC) di Indonesia dinilai memiliki korelasi kuat dengan tingkat kesejahteraan ekonomi masyarakat.

Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI), Ir. Yani Yuhani Panigoro saat sesi wawancara khusus dengan Direktur Pemberitaan Tribun Network, Febby Mahendra Putra di Studio Tribunnews, Palmerah, Jakarta, Selasa (19/5/2026).

Baca juga: VIDEO EKSKLUSIF Yani Panigoro: Kader Penyembuh TBC Bergerak Pakai Hati Meski Ekonomi Pas-pasan

Yani membandingkan kondisi kesehatan masyarakat yang tinggal di perumahan layak dengan warga yang bermukim di kawasan padat penduduk.

"Penderita TBC di kota kalau hidup sehat, makan cukup, gizi lengkap, dan rumah ada jendelanya, biasanya aman. Tapi coba lihat di daerah yang rumahnya mepet-mepet, tidak ada jendela, tidak ada ventilasi. Satu rumah bisa diisi 10 orang," ujar Yani.

PENYAKIT TUBERKULOSIS - Ketua Umum Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI), Ir. Yani Yuhani Panigoro, MM, saat podcast di Studio Tribunnews, Jakarta, Rabu (20/5/2026). Dia mengungkap perjuangan para kader TBC yang rela bergerak dari rumah ke rumah demi memastikan pasien minum obat selama 6 bulan tanpa putus. TRIBUNNEWS/LUTFI AKHMAL
PENYAKIT TUBERKULOSIS - Ketua Umum Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI), Ir. Yani Yuhani Panigoro, MM, saat podcast di Studio Tribunnews, Jakarta, Rabu (20/5/2026). Dia mengungkap perjuangan para kader TBC yang rela bergerak dari rumah ke rumah demi memastikan pasien minum obat selama 6 bulan tanpa putus. TRIBUNNEWS/LUTFI AKHMAL (TRIBUNNEWS/LUTFI AKHMAL)

Ia menegaskan, bakteri TBC sangat rentan mati jika terkena sinar matahari langsung.

Rekomendasi Untuk Anda

Namun, realitas di lapangan menunjukkan masih banyak permukiman yang kumuh dan lembap, sehingga menjadi sarang perkembangbiakan bakteri.

"Sinar matahari itu luar biasa pengaruhnya. Kalau kena matahari, bakteri itu mati. Tapi kalau rumah gelap dan lembap, ditambah gizi penderita yang tidak tercukupi, penyakit ini akan terus berputar di sana," jelasnya.

Selain faktor lingkungan, Yani menyoroti karakter TBC yang disebutnya sebagai penyakit ‘silent’ atau sunyi.

Berbeda dengan COVID-19 yang memicu kepanikan massal, TBC sering kali dianggap sebagai batuk biasa.

"TBC tidak gegap gempita seperti COVID, kanker, atau penyakit jantung. Orang merasa 'alah sudah pakai jahe saja selesai'. Padahal ini penyakit menular yang mematikan jika tidak ditangani secara medis," tegas Yani.

Melalui organisasi PPTI, Yani berupaya memberikan bantuan yang tidak hanya fokus pada obat-obatan, tetapi juga bantuan sosial bagi penderita yang kurang mampu.

"Kami sering memberikan sweetener berupa sembako saat pemeriksaan rontgen agar masyarakat mau datang dan diperiksa," tandasnya.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas