Bukan Cuma Paru-paru, TB Bisa Serang Jantung pada Anak, Kenali Gejala Perikarditis
Ketika mendengar tuberkulosis atau TB, banyak orang langsung mengaitkannya dengan paru-paru dan dapat pula mengenai lapisan luar jantung.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Willem Jonata
Ringkasan Berita:
- IDAI ingatkan TB pada anak bisa sebabkan perikarditis atau peradangan pada lapisan pembungkus jantung.
- Di Indonesia, penyebab utama peradangan jantung (perikarditis) pada anak adalah infeksi tuberkulosis.
- Segera periksa ke dokter jika anak alami nyeri dada, sesak napas, dan demam lama agar deteksi dini.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketika mendengar tuberkulosis atau TB, banyak orang langsung mengaitkannya dengan paru-paru.
Padahal, pada beberapa kasus, infeksi ini juga dapat mengenai bagian lain tubuh, termasuk lapisan luar jantung.
Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Kardiologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr. Sarah Rafika Nursyirwan, Sp.A, Subsp.Kardio(K), menjelaskan bahwa kondisi tersebut disebut perikarditis.
Apa Itu Perikarditis?
Perikarditis merupakan peradangan pada lapisan pembungkus jantung atau perikardium. Lapisan ini terdiri dari bagian luar dan bagian dalam yang normalnya tipis.
Saat terjadi peradangan, cairan dapat terkumpul di antara kedua lapisan tersebut. Menurut Dr Sarah, pola penyebab di Indonesia sedikit berbeda dibanding global.
Baca juga: Komdigi Dorong Kesadaran Publik dan Hapus Stigma Soal Tuberkulosis
Baca juga: RI Peringkat 2 Kasus Tuberkulosis Tertinggi di Dunia, Wamenkes Dipanggil Prabowo ke Istana
“Penyebab tersering di seluruh dunia memang masih karena virus, tapi di Indonesia sejauh ini penyebab paling sering perikarditis ini adalah karena tuberculosis,"ungkapnya pada media briefing virtual, Selasa (2/6/2026).
Karena itu, orang tua perlu memahami bahwa TB tidak selalu muncul dengan gejala paru-paru saja.
Gejala yang Dapat Muncul
Beberapa tanda yang bisa ditemukan antara lain:
- nyeri dada,
- sesak napas,
- demam yang berlangsung lama,
- pembengkakan,
- rasa tidak nyaman saat berbaring.
Nyeri juga dapat terasa lebih ringan saat posisi duduk membungkuk. Diagnosis tidak hanya berdasarkan satu gejala.
Dokter biasanya melakukan:
- wawancara gejala,
- pemeriksaan fisik,
- pemeriksaan jantung,
- pemeriksaan EKG,
- USG jantung atau ekokardiografi.
Pemeriksaan tersebut membantu melihat apakah terdapat cairan di sekitar jantung. Pada akhirnya, penanganan akan disesuaikan dengan penyebab utama.
Karena itu, mengenali gejala lebih awal bukan untuk membuat orang tua takut, melainkan agar anak mendapat evaluasi yang sesuai bila memang diperlukan.
(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)