Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Mengerikan, Makanan Sehari-hari Bisa Picu Penyakit Serius pada Anak Kecil

Kata WHO Diare menjadi salah satu penyakit yang paling sering menyerang sekaligus masih menjadi ancaman serius bagi anak-anak di usia rentan tersebut.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: willy Widianto
zoom-in Mengerikan, Makanan Sehari-hari Bisa Picu Penyakit Serius pada Anak Kecil
El Pais
BALITA RENTAN SAKIT - Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebut anak usia di bawah lima tahun menjadi kelompok paling rentan mengalami penyakit akibat makanan yang tidak aman. Risiko yang dihadapi bahkan hampir tiga kali lebih tinggi dibanding anak yang lebih besar maupun orang dewasa. 
Ringkasan Berita:
  • Perubahan iklim meningkatkan risiko kontaminasi, sementara resistensi antimikroba membuat infeksi akibat makanan semakin sulit diobati.
  • Isu keamanan makanan kini tak lagi sekadar persoalan teknis, melainkan bagian penting dari perlindungan kesehatan publik.
  • Apa yang tersaji di meja makan setiap hari bisa menjadi penentu penting bagi kesehatan jangka panjang.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Makanan yang tampak biasa di meja makan ternyata bisa menyimpan risiko serius bagi kesehatan, terutama bagi anak-anak.

Baca juga: WHO Ungkap 190 Serangan ke Sektor Kesehatan Lebanon, 128 Nakes Tewas

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyoroti bahwa anak di bawah usia lima tahun menjadi kelompok paling rentan terhadap penyakit akibat makanan yang tidak aman, dengan risiko hampir tiga kali lebih tinggi dibandingkan anak yang lebih besar maupun orang dewasa.

Temuan ini menegaskan bahwa keamanan pangan bukan sekadar persoalan kebersihan makanan, tetapi juga berkaitan langsung dengan masa depan kesehatan generasi muda.

Dalam estimasi terbarunya, WHO menyebut anak-anak di bawah usia lima tahun hanya mencakup sekitar 9 persen populasi dunia.

Namun, kelompok usia ini justru menanggung hampir sepertiga dari seluruh kasus penyakit bawaan makanan.

Diare menjadi salah satu penyakit yang paling sering menyerang, sekaligus masih menjadi ancaman serius bagi anak-anak di usia rentan tersebut.

Rekomendasi Untuk Anda

Selain infeksi, anak juga menghadapi risiko dari paparan zat kimia berbahaya dalam makanan. Zat seperti metilmerkuri dan timbal disebut dapat mengganggu perkembangan otak serta memicu gangguan neurologis jangka panjang.

WHO memperkirakan, makanan tidak aman menyebabkan sekitar 866 juta kasus penyakit dan 1,5 juta kematian setiap tahun di seluruh dunia.

Angka ini menunjukkan bahwa isu keamanan pangan masih menjadi tantangan besar kesehatan global.

“Makanan yang tidak aman selalu menjadi perhatian utama kesehatan masyarakat, tetapi hingga sekarang kita kekurangan gambaran yang lebih besar tentang dampak buruknya terhadap manusia dan ekonomi. Perkiraan baru ini mengubah hal itu,” kata Direktur Jenderal WHO Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, dikutip Kamis (4/6/2026).

Baca juga: 20 Persen Pelajar Konsumsi Tembakau, WHO Desak Putus Siklusnya di Anak Muda

Meski secara global beban penyakit disebut menurun sejak tahun 2000, ketimpangan antarwilayah masih terlihat jelas. Afrika dan Asia Tenggara tercatat sebagai kawasan dengan beban penyakit akibat makanan yang paling tinggi.

Menariknya, laporan WHO juga menunjukkan bahwa meski sebagian besar kasus penyakit dipicu oleh bakteri, virus, dan parasit, justru kematian paling banyak disebabkan oleh paparan bahan kimia.

Pada 2021, sekitar 73 persen kematian akibat makanan terkontaminasi dikaitkan dengan bahan kimia berbahaya. Beberapa di antaranya adalah arsenik anorganik, timbal, dan metilmerkuri, yang diketahui dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, kanker, hingga gangguan perkembangan otak.

WHO mencatat, arsenik anorganik dan timbal saja berkaitan dengan lebih dari satu juta kematian dalam satu tahun.

Kontaminasi makanan sendiri dapat terjadi melalui berbagai jalur, mulai dari aktivitas industri, pencemaran lingkungan, praktik pertanian, air yang tercemar, hingga rantai distribusi pangan yang panjang. Setelah masuk ke dalam rantai makanan, zat berbahaya ini sering kali sulit dihilangkan.

Karena itu, WHO menekankan pentingnya pencegahan sejak dari sumbernya, termasuk melalui air bersih dan sanitasi, praktik keamanan pangan yang baik, pasteurisasi, pengawasan industri yang lebih ketat, serta regulasi lingkungan yang lebih kuat.

Dampaknya tidak hanya dirasakan di sektor kesehatan. WHO juga memperkirakan kerugian ekonomi akibat makanan tidak aman mencapai sekitar US$310 miliar per tahun akibat hilangnya produktivitas. Jika dihitung berdasarkan biaya hidup antarnegara, angka tersebut bahkan dapat meningkat hingga US$647 miliar.

Hal ini menunjukkan bahwa keamanan pangan bukan hanya isu rumah tangga, tetapi juga menyangkut stabilitas ekonomi global.

Di sisi lain, WHO memperingatkan bahwa tantangan keamanan pangan kini semakin kompleks. Perubahan iklim meningkatkan risiko kontaminasi, sementara resistensi antimikroba membuat infeksi akibat makanan semakin sulit diobati.

“Laporan ini merupakan peringatan tetapi juga peta jalan. Data menunjukkan bahwa penyakit bawaan makanan tidak hanya terus berlanjut tetapi juga diperburuk oleh perubahan iklim, yang meningkatkan risiko kontaminasi, dan oleh resistensi antimikroba, yang membuat infeksi lebih sulit diobati,” ujar Yuki Minato, Petugas Teknis WHO untuk keamanan pangan.

Baca juga: WHO: Wabah Ebola di Kongo Diduga Sudah Menyebar Selama Dua Bulan

Dengan meningkatnya konsumsi makanan olahan, makanan siap saji, serta semakin panjangnya rantai distribusi pangan, isu keamanan makanan kini tak lagi sekadar persoalan teknis, melainkan bagian penting dari perlindungan kesehatan publik.

Bagi keluarga, terutama yang memiliki anak kecil, apa yang tersaji di meja makan setiap hari bisa menjadi penentu penting bagi kesehatan jangka panjang.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas