Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Kesehatan
LIVE ●
Update Jadwal & Skor
Grup I - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 02:00 WIB
France
Prancis
3 - 1
Senegal
Senegal
Grup I - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 05:00 WIB
Iraq
Irak
Live
Norway
Norwegia
Grup J - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 08:00 WIB
Argentina
Argentina
VS
Algeria
Aljazair
Grup J - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 11:00 WIB
Austria
Austria
VS
Jordan
Yordania
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga

Waspada Fase Kritis DBD, Demam Turun Bukan Berarti Anak Sudah Sembuh

Pada fase kritis, suhu tubuh memang bisa turun mendekati normal. Namun justru pada saat itu risiko kebocoran plasma darah meningkat.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Willem Jonata
zoom-in Waspada Fase Kritis DBD, Demam Turun Bukan Berarti Anak Sudah Sembuh
Tribunnews.com/Aisyah Nursyamsi
TEKAN KEMATIAN DBD - Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan dr. Prima Yosephine Berliana Tumiur Hutapea, MKM memaparkan situasi terkini demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia dalam temu media ASEAN Dengue Day 2026, Senin (15/6/2026). Kemenkes menargetkan Indonesia mencapai nol kematian akibat dengue pada 2030 meski saat ini masih menjadi negara dengan jumlah kasus DBD terbesar kedua di dunia. 
Memuat video…
Ringkasan Berita:
  • Data tujuh tahun terakhir menunjukkan angka kematian dengue paling banyak terjadi pada anak usia 5 hingga 14 tahun.
  • Salah satu gejala paling khas DBD adalah demam tinggi yang muncul secara mendadak. Suhu tubuh bisa langsung mencapai 38 hingga 40 derajat Celsius tanpa diawali gejala ringan.
  • Salah satu kesalahan yang masih sering terjadi di masyarakat adalah menganggap anak mulai sembuh ketika demam turun. Padahal fase tersebut justru bisa menjadi periode paling berbahaya.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi ancaman serius bagi anak-anak Indonesia.

Kementerian Kesehatan mengungkapkan bahwa kelompok usia sekolah menjadi kelompok yang paling rentan mengalami kematian akibat penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti tersebut.

Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan dr. Prima Yosephine Berliana Tumiur Hutapea, MKM, mengatakan data tujuh tahun terakhir menunjukkan angka kematian dengue paling banyak terjadi pada anak usia 5 hingga 14 tahun.

"Kalau kita lihat kematian, dalam 7 tahun terakhir kematian dinggi yang paling banyak justru ada di 5-14 tahun," ungkapnya dalam temu media ASEAN Dengue Day 2026 secara virtual, Senin (15/6/2026). 

"Nah ini yang kita khawatirkan karena anak-anak itu biasanya selalu kelihatan ceria, nggak kelihatan mengeluh dengan sakitnya, eh tiba-tiba dia sudah masuk ke dalam fase shock sindromnya," lanjutnya. 

Demam Tinggi Mendadak Jadi Gejala Khas

Menurut Prima, salah satu gejala paling khas DBD adalah demam tinggi yang muncul secara mendadak. Suhu tubuh bisa langsung mencapai 38 hingga 40 derajat Celsius tanpa diawali gejala ringan.

Rekomendasi Untuk Anda

Demam biasanya berlangsung selama dua hingga tujuh hari.

Baca juga: Indonesia Nomor 2 Kasus DBD Terbanyak di Dunia, Kemenkes Kejar Target Nol Kematian pada 2030

Selain itu penderita dapat mengalami nyeri otot, nyeri sendi, sakit kepala, mual, muntah hingga diare. Karena gejalanya menyerupai penyakit lain, banyak orang tua yang terlambat menyadari bahwa anaknya terkena DBD.

Bahaya Ada di Saat Demam Mulai Turun

Salah satu kesalahan yang masih sering terjadi di masyarakat adalah menganggap anak mulai sembuh ketika demam turun. Padahal fase tersebut justru bisa menjadi periode paling berbahaya.

Menurut Prima, perjalanan penyakit dengue terdiri atas tiga fase yaitu fase demam, fase kritis dan fase penyembuhan.

Pada fase kritis, suhu tubuh memang bisa turun mendekati normal. Namun justru pada saat itu risiko kebocoran plasma darah meningkat.

"Kita masuk ke dalam fase yang disebut fase kritis. Dimana memang suhu tubuh kita bisa turun. Bahkan bisa menyentuh hampir suhu normal," ujarnya.

Bisa Menyebabkan Syok dan Kematian

Kebocoran plasma darah dapat menyebabkan cairan keluar dari pembuluh darah menuju jaringan tubuh.

Akibatnya darah menjadi lebih kental dan tubuh mengalami kekurangan cairan.

Kondisi tersebut dapat berkembang menjadi syok apabila tidak ditangani secara cepat.

Inilah yang menjadi salah satu penyebab kematian pada pasien dengue. Karena itu masyarakat diimbau tidak lengah ketika demam mulai turun.

Pemeriksaan dan pemantauan kondisi pasien tetap harus dilakukan hingga benar-benar memasuki fase pemulihan.

Lebih lanjut Prima menekankan pentingnya diagnosis dini agar pasien mendapatkan penanganan yang tepat.

Terutama pada anak-anak yang sering kali tidak mengeluhkan kondisi tubuhnya meski sedang sakit.

Dengan diagnosis yang cepat, dokter dapat memantau kondisi cairan tubuh dan perkembangan trombosit secara berkala.

Langkah tersebut menjadi kunci untuk mencegah komplikasi berat hingga kematian akibat DBD.

(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)

 

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas