Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Kesehatan
LIVE ●
Update Jadwal & Skor
Grup K - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 00:00 WIB
Portugal
Portugal
1 - 1
DR Congo
RD Kongo
Grup L - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 03:00 WIB
England
Inggris
4 - 2
Croatia
Kroasia
Grup L - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 06:00 WIB
Ghana
Ghana
1 - 0
Panama
Panama
Grup K - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 09:00 WIB
Uzbekistan
Uzbekistan
Live
Colombia
Kolombia
Grup A - Matchday 2
Kamis, 18 Juni 2026 | 23:00 WIB
Czechia
Ceko
VS
South Africa
Afrika Selatan
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga

Serangan Jantung Bisa Dicegah, Dokter Ingatkan Masyarakat Rutin Cek Kolesterol dan Gula Darah

Penyakit jantung hingga kini masih menjadi salah satu momok terbesar bagi kesehatan masyarakat di Indonesia. 

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Serangan Jantung Bisa Dicegah, Dokter Ingatkan Masyarakat Rutin Cek Kolesterol dan Gula Darah
tangkapan layar
DISKUSI - dr. Bayushi Eka Putra, Sp. JP (K) FIHA, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dan Rina Triana, Head of Product, Allianz Life Syariah Indonesia. Mereka bicara terkait cara pencegahan serangan jantung. 
Memuat video…
Ringkasan Berita:
  • Dokter spesialis jantung menegaskan penanganan baru dilakukan saat pasien harus pasang ring atau operasi bypass dinilai sudah terlambat.
  • Skrining jantung wajib dimulai sejak usia 20-30 tahun dengan cek tensi, gula darah, dan kolesterol rutin minimal 1-2 tahun sekali.
  • Guna cegah bengkaknya biaya medis, masyarakat diimbau geser pola pikir dari mengobati penyakit parah menjadi fokus pada pencegahan dini.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penyakit jantung hingga kini masih menjadi salah satu momok terbesar bagi kesehatan masyarakat di Indonesia. 

Ironisnya, kesadaran akan bahaya penyakit mematikan ini sering kali baru muncul ketika kondisi pasien sudah kritis atau saat serangan jantung telah terjadi.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, dr. Bayushi Eka Putra, Sp. JP (K) FIHA, mengungkapkan keprihatinannya terhadap fenomena ini, menurutnya, penanganan jantung baru dilakukan ketika pasien harus dipasang ring atau menjalani operasi bypass dinilai sudah sangat terlambat.

Lantas, bagaimana cara memutus rantai keterlambatan deteksi penyakit jantung di Indonesia agar nyawa bisa terselamatkan sebelum terlambat?

Menurut dr. Bayushi, kunci utama dalam mencegah fatalitas penyakit jantung adalah dengan memperketat screening atau medical check-upn(MCU) berkala. 

Baca juga: Update Kondisi Haji Bolot 14 Hari Dirawat di RS Fatmawati karena Serangan Jantung

Baca juga: Dikira Sakit Lambung karena Banyak Pikiran, Calvin Dores Kena Serangan Jantung

Deteksi dini ini harus dimulai jauh sebelum gejala klinis muncul, bahkan sejak usia muda.

Rekomendasi Untuk Anda

Panduan skrining kesehatan jantung yang disarankan berdasarkan kelompok usia.

"Usia di bawah 20 hingga 30 tahun, minimal harus melakukan pengecekan tensi darah, gula darah, dan profil kolesterol secara berkala 1 sampai 2 tahun sekali jika hasil awal aman," kata dr. Bayushi dalam wawancara virtual, Rabu (17/6/2026).

"Usia 30 hingga 50 tahun pemeriksaan harus lebih spesifik dan mendalam," lanjutnya.

Bagi individu dengan faktor risiko tinggi seperti perokok aktif atau tingkat stres tinggi, pemeriksaan treadmill test, lab kolesterol, gula darah, hingga CT-scan jantung sangat disarankan sebagai investasi dasar kesehatan.

dr. Bayushi juga mengapresiasi langkah pemerintah yang kini menyediakan program medical check-up gratis pada hari ulang tahun masyarakat.

"Dengan melakukan screening dasar itu udah sangat baik. It's not perfect but it's a really good start. Melakukan penyaringan terhadap penyakit kritis bisa mungkin mencapai 30-50 persen ke depannya," tambahnya.

Masyarakat Gemar Rawat Inap, Padahal Belum Tentu Darurat

Keterlambatan deteksi dini tidak hanya berdampak buruk pada kondisi fisik pasien, tetapi juga memicu lonjakan biaya pelayanan kesehatan secara masif di berbagai rumah sakit pasca-pandemi COVID-19. 

Lonjakan biaya medis inilah yang kemudian berimbas pada penyesuaian biaya proteksi kesehatan di masyarakat.

Head of Product Allianz Life Syariah Indonesia, Rina Triana, turut menyoroti bagaimana perilaku kesehatan masyarakat memengaruhi ekosistem layanan medis. 

Salah satu fenomena kesehatan yang terjadi di lapangan adalah adanya kebiasaan atau behavior masyarakat yang cenderung sedikit-sedikit melakukan rawat inap (opname) di rumah sakit, meskipun kondisinya belum tentu darurat.

"Harapannya (dengan sistem baru) otomatis juga akan meningkatkan, menekan behavior dari nasabah untuk apa... sedikit-sedikit melakukan rawat inap," jelas Rina Triana.

Perubahan pola pikir masyarakat sangat diperlukan. Rumah sakit dan rawat inap sebaiknya dimanfaatkan secara bijak untuk kondisi yang benar-benar membutuhkan penanganan medis intensif. 

Sementara itu, fokus utama masyarakat harus digeser dari mengobati saat sakit parah menjadi mencegah dan mendeteksi dini lewat pemeriksaan kesehatan berkala.

Dengan memperketat medical check-up sejak usia muda dan menjaga gaya hidup, risiko serangan jantung fatal dapat ditekan, sekaligus menjaga stabilitas biaya perawatan kesehatan secara jangka panjang.

(Tribunnews.com/ M Alivio Mubarak Junior)

 

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas