Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Kementan: Penggunaan Anggaran Pertanian Semakin Efektif

Walaupun anggarannya turun, tapi sebaliknya dalam empat tahun terakhir produksi dan PDB Sektor Pertanian terus tumbuh positif.

Kementan: Penggunaan Anggaran Pertanian Semakin Efektif
Kementan
Ilustrasi. 

Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Ketut Kariyasa menegaskan bahwa dengan anggaran yang sangat minim, program kerja di Kementerian Pertanian tetap berjalan dengan baik, bahkan mencapai level tinggi hingga melebihi target yang ditetapkan nasional.

"Terobosan yang dilakukan dalam pengelolaan anggaran selama empat tahun terakhir sangat berdampak luas terhadap pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan petani," ujar Kariyasa, Kamis (20/6).

Seperti diketahui bersama, pada tahun 2014 lalu jumlah anggaran yang dialokasikan untuk Kementan sebesar Rp 32,72 triliun. Namun pada tahun berikutnya nilainya terus menurun. Di tahun 2018 misalnya, anggaran yang dialokasikan hanya sebesar Rp 21,71 trilun atau turun 33,65 persen.

"Walaupun anggarannya turun, tapi sebaliknya dalam empat tahun terakhir produksi dan PDB Sektor Pertanian terus tumbuh positif," katanya.

Kariyasa menjelaskan, PDB sektor pertanian di tahun 2014 jumlahnya mencapai Rp 880 triliun. Kemudian di tahun berikutnya angkanya meningkat menjadi Rp 1.005 triliun atau tumbuh sebesar 3,7 persen. Dengan demikian, angka di atas merupakan capaian yang melebihi target 3,5 persen.

"Dengan memperhatikan rasio antara PDB dan jumlah anggaran yang dialokasikan tersebut, tampak dengan jelas bahwa ada lonjakan efektivitas yang luar biasa dalam penggunaan anggaran pada sektor pertanian," katanya.

Efektivitas penggunaan anggaran yang dimaksud Kariyasa adalah: sektor pertanian selama 2014-2018 mencapai 72,11 persen atau meningkat rata-rata 14,71 persen pertahun, dimana nilai pada tahun tersebut hanya 29,91 atau 46,31 persen untuk tahun 2018.

"Maka tidak berlebihan pertama dalam sejarah, kami mendapat opini WTP dari BPK tiga tahun berturut-turut (2016; 2017 dan 2018) dan juga penghargaan anti gratifikasi terbaik dari KPK dua tahun berturut-turut (2017 dan 2018)," katanya.

Menurut Kariyasa, pengelolaan yang dilakukan Kementan selam ini adalah memangkas habis-habisan semua anggaran yang dinilai tidak penting, dan menggunakannya untuk pemenuhan dan kebutuhan para petani di seluruh daerah.

"Jadi, anggaran yang dialokasikan untuk kegiatan-kegiatan petani terus ditingkatkan, namun sebaliknya anggaran untuk kegiatan yang tidak penting dipangkas. Ini bisa dilihat bahwa hampir 85 persen dari anggaran yang dialokasin digunakan untuk bibit, benih, alsintan dan yang lainya. Sementara sisanya 3 persen untuk belanja operasional saja," katanya.

Kariyasa mengatakan, terobosan dan pengelolaan anggaran ini sangat berdampak pada meningkatnya ekspor produk pertanian selama empat tahun terakhir yang mencapai 26,9 persen.

Kondisi ini jauh berbeda jika dibandingkan dengan pengelolaan anggaran tahun 2014, dimana belanja operasional saat itu mencapai 48 persen. Sedangkan anggaran untuk petani hanya diberi kuota 35 persen.

"Kemudian pasokan pangan dalam negeri juga mampu menurunkan inflasi bahan pangan secara konsisten, sehingga baru pertama kali dalam sejarah inflasi makanan/pangan pada tahun 2018 turun menjadi 1,26 persen, yang sebelumnya masih bertengger pada angka 10,57 persen," katanya.

Di sisi lain, Kementan juga memiliki kontribusi besar dalam menurunkan angka penduduk miskin di perdesaan hingga 13,20 persen dari angka sebelumnya 14,32 persen.

"Kementan terus berupaya untuk meningkatkan efektivitas penggunaan anggaran ke depan, serta terus melakukan terobosan dalam meningkatkan kapasistas produksi dalam negeri yang bermuara pada peningkatan kesejahteraan petani," pungkasnya.(*)

Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Content Writer
  Loading comments...

Baca Juga

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas