Tribun

Klaster Budidaya Tambak Udang Vaname di Cidaun Berhasil Bantu Penyerapan Tenaga Lokal

Program ini berhasil mendorong kegiatan padat karya pemberdayaan tenaga lokal, dimana upaya ini sejalan dengan program PEN di tengah pandemi Covid-19.

Editor: Content Writer
Klaster Budidaya Tambak Udang Vaname di Cidaun Berhasil Bantu Penyerapan Tenaga Lokal
dok. KKP
Program Klaster Budidaya Tambak Udang Vaname di Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. 

“Masyarakat LMDH Mandiri lainnya saat ini mulai menekuni budidaya udang vaname dengan mencoba melalui kolam bundar, meskipun ukurannya kecil dan padat tebarnya sedikit yang penting produktif dan kontinu serta semangatnya yang luar biasa untuk mau memulai menekuni usaha budidaya tambak udang. Dan ini tentunya menjadi usaha baru bagi masyarakat Cidaun di tengah pandemi Covid-19,” jelas Emil.

Sementara, Ahmad Hidayat selaku penanggung jawab klaster tambak udang di Cidaun, mengungkapkan rasa syukur karena pendapatan mereka saat ini bisa meningkat sekitar kurang lebih Rp 2 juta per bulan mereka bisa menikmati, yang sebelumnya pendapatannya hanya Rp800 ribu per tahun. Harapannya dengan hasil yang diperoleh ada masyarakat lain yang terus bisa ikut berbudidaya udang.

“Banyak masyarakat sekitar saat ini mendaftar untuk ikut bersama budidaya udang vaname dan mulai tertarik budidaya udang vaname,” ungkap Ahmad.

Ia meyakini karena masyarakat melihat dengan apa yang sudah dihasilkan. Sejauh ini, Ahmad mengatakan kelompok memanfaatkan bantuan yang diberikan oleh pemerintah, dari berhasil siklus pertama, tidak berlama-lama langsung lanjut ke siklus kedua, dengan pekerja 100 % masyarakat lokal.

“Alhamdulillah hasilnya sangat memuaskan. Ini juga berkat bantuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan yang selalu hadir mendukung kami sampai ke tahap penjualan. Sehingga aset kami selalu aman, dan udang produksi kami tidak pernah berhenti permintaan pasarnya,” ujar Ahmad.

Untuk hasil Ahmad mengungkapkan panen parsial pertama pada siklus kedua ini, diambil sekitar kurang lebih 5 ton, yaitu dari petak 1 hingga petak 7 diambil sekitar 300 kg per petak dan petak 8 hingga petak 15 diambil sekitar 400 kg, dengan size 80.

“Alhamdulillah kami bisa berhasil, berat rata-rata udang yang kami peroleh pada siklus kedua ini bisa lebih 10 gram dibandingkan pada siklus pertama dengan masa pemeliharaan yang sama,” ungkapnya.

“Apa yang kami usahakan juga berkat pendampingan dari BLUPPB Karawang. Karena awalnya, kami tidak tahu apa-apa tentang budidaya udang vaname. Tapi setelah ada pendampingan diberikan informasi dan dikasih teknologinya, Alhamdulillah kami bisa berhasil seperti saat ini. Meskipun kami sudah mandiri, tapi BLUPPB Karawang tetap selalu mengirimkan timnya apabila kami ada masalah. Alhamdulillah udang kami sampai dengan saat ini tidak ada kematian dan dari awal kami budidaya udang, tidak ada yang terinfeksi virus,” pungkas Ahmad.(*)

berita POPULER
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas