Tribun

Kementan Rumuskan Program Aksi Adaptasi Antisipasi Dampak La Nina

 Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) menjelaskan, pertanian merupakan sektor yang rentan terhadap perubahan iklim.

Editor: Content Writer
Kementan Rumuskan Program Aksi Adaptasi Antisipasi Dampak La Nina
Istimewa
Kementan Rumuskan Program Aksi Adaptasi Antisipasi Dampak La Nina. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - kementerian Pertanian (Kementan) merumuskan program aksi adaptasi antisipasi dampak badai La Nina. Rumusan program aksi itu untuk mengantisipasi sedini mungkin dampak yang akan ditimbulkan.

 Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) menjelaskan, pertanian merupakan sektor yang rentan terhadap perubahan iklim. Namun di sisi lain, pertanian tetap harus berjalan dalam situasi dan kondisi apapun.

"Untuk itulah perlu langkah serius agar pertanian ini dapat terus berjalan dalam situasi apapun. Kenap a begitu, sebab pertanian berkaitan dengan hajat hidup seluruh rakyat Indonesia," kata Mentan SYL. 

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Ali Jamil menambahkan, sejumlah langkah antisipasi telah disiapkan untuk menghadapi perubahan iklim ekstrem, utamanya dampak badai La Nina sebagaiman diprediksi BMKG yang akan terjadi pada akhir tahun ini. 

Menurut Ali, ada delapan program aksi yang telah dirumuskan. Pertama, membentuk gerakan brigade yang terdiri dari brigade La Nina (Sargas OPT-DPI), brigade alsintan dan tanam, serta brigade panen dan serap gabah kostraling.

"Kedua, pompanisasi in-out dari sawah, rebilitasi jaringan irigasi tersier atau kwarter terutama di wilayah rawan banjir," papar Ali.

Ketiga, penyiapan bibit varietas padi tahan rendaman (Inpara 1-10, Inpara 29, Inpara 30 Ciherang sub 1, Inpara 42 agritan). Lalu juga toleran salinitas dan varietas unggul lokal yang sudsh teruji, varietas OPT pada daerah endemik, (tahan WBC/Inpara 2, 3, 4, 6), blast, hawar daun bakteri. Keempat, memperbaiki cara pascapanen dan mempersiapkan bantuan untuk kegiatan panen dan pascapanen dengan menggunakan pengering (dryer) dan RMU (Rice Milling Unit).

"Kelima, mengoptimalkan penampungan air dengan pemanfaatan biopori, bangunan penampung air (BPA), normalisasi saluran drainase," ujarnya.

Keenam, penerapan bedengan tinggi dan pengunaan sungkup plastik pada tanaman hortikultura.

"Ketujuh, pembuatan rorak, parit diskontinu, tanaman penutup tanah pada lahan perkebunan untuk menangkap air dan mencegah erosi," papar Ali.

Terakhir, optimalisasi luas tanam pada lahan kering seperti tanaman hortikutura cabai dan bawang merah dengan penerapan PHT secara efektif, penggunaan varietas unggul toleran OPT dan teknologi inovasi budidaya lainnya.

Dikatakannya, strategi Kementan mengantisipasi dampak perubahan iklim juga telah disiapkan tujuh langkah. Pertama, melakukan identifikasi dan pemetaan di seluruh wilayah lahan pertanian. Lahan rawan kekeringan dan banjir sebagai wilayah prioritas penanganan.

"Kedua, berkoordinasi dengsn BMKG dalam menyiapkan sistem peringatan dini (early warning system) dan memantau informasi berupa perkembangan iklim global dan prediksi hujan," tutur Ali.

Ketiga, penerapan kalender tanam (KATAM) terpadu. Keempat, membentuk gerakan brigade. "Kelima, memanfaatkan AUTP bagi yang sudah mendaftar," katanya. Keenam, bantuan sarana dan prasarana pertanian untuk daerah terdampak (mitigasi bencana) dan terakhir, binbingan teknis adaptasi dan mitigasi perubahan iklim sektor pertanian.

berita POPULER
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas