Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Jakarta Terkini

DKI Terapkan Pedoman Baru bagi Kontak Erat COVID-19: Tetap Dites PCR

mereka yang tergolong kontak erat tersebut wajib karantina selama 14 hari tanpa harus tes PCR. Namun, Pemprov DKI memilih tetap melakukan tes OCR>

DKI Terapkan Pedoman Baru bagi Kontak Erat COVID-19: Tetap Dites PCR
Tribunnews/Irwan Rismawan
Warga menjalani swab test di Genomik Solidaritas Indonesia Laboratorium (GSI Lab), Cilandak, Jakarta Selatan, Selasa (3/11/2020). Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan menetapkan batas harga tertinggi swab test mandiri dengan metode real-time polymerase chain reaction (RT PCR) yaitu sebesar Rp 900 ribu. Tribunnews/Irwan Rismawan 

TRIBUNNEWS.COM – Akumulasi kasus terkonfirmasi COVID-19 di Ibu Kota telah mencapai angka lebih dari 100.000. Itu berarti, 1 dari 100 orang di Jakarta terinfeksi COVID-19. Semakin banyak pula orang yang berpotensi tergolong sebagai kontak erat.

Pemprov DKI Jakarta lantas menerapkan pedoman baru dalam pemeriksaan bagi pasien kontak erat COVID-19. Sebelumnya, kita juga perlu tahu, orang yang tergolong kontak erat adalah mereka yang memiliki riwayat kontak dengan orang terkonfirmasi positif COVID-19.

Dalam pedoman penanganan COVID-19 Kementerian Kesehatan Revisi ke-5, mereka yang tergolong kontak erat tersebut wajib melakukan karantina selama 14 hari tanpa harus tes PCR. Namun, Pemprov DKI Jakarta memilih tetap menerapkan kebijakan tes swab PCR lantaran kapasitasnya juga memadai. 

"Kami melakukan ini juga sesuai dengan rekomendasi yang dikeluarkan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).  Kedua lembaga tersebut merekomendasikan semua kontak erat untuk diperiksa dengan PCR apabila kapasistasnya memadai," terang Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Widyastuti, Rabu (11/11/2020).

Widyastuti menuturkan, hal ini bertujuan agar potensi penularan virus dari mereka yang terkonfirmasi positif tanpa gejala dapat diminimalisir. "Ini juga karena potensi penularan asimtomatik dan pra-gejala pada individu yang berkontak dengan pasien yang terinfeksi COVID-19 harus segera diidentifikasi dan diuji untuk memutus rantai penularan," jelasnya.

Kebijakan tes swab PCR bagi kontak erat telah tertuang dalam Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 79 Tahun 2020 tentang Penerapan Disiplin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan sebagai Upaya Pencegahan dan Pengendalian COVID-19.

Dalam pasal 17 ayat 2 Pergub tersebut disebutkan bahwa anggota masyarakat yang memenuhi kontak erat atau suspek berdasarkan penyelidikan epidemiologi dilakukan pengambilan spesimen/swab untuk pemeriksaan RT-PCR atau tes cepat molekuler (TCM).

Kebijakan Pemprov DKI Jakarta tersebut sejalan dengan pandangan Epidemiolog dari Universitas Indonesia, Pandu Riono. “Tidak ada cara lain lagi untuk menekan penyebaran COVID-19 selain memperbanyak testing dan tracing,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menyarankan, pemerintah harus melakukan sebanyak-banyaknya tes atau pengujian COVID-19 kepada masyarakat melalui PCR test, bukan Rapid test.

"Setelah itu, perlu secepatnya isolasi untuk mendeteksi dan menekan penularan virus," katanya. (*)

Editor: Content Writer
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas