Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Pasien Bergejala Berat dan Kritis COVID-19 Perlu Pengulangan Tes Swab Sebelum Dinyatakan Sembuh

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Widyastuti, menjelaskan bahwa pasien bergejala berat dan kritis harus melakukan pengulangan tes swab.

Pasien Bergejala Berat dan Kritis COVID-19 Perlu Pengulangan Tes Swab Sebelum Dinyatakan Sembuh
Tribunnews/Irwan Rismawan
Warga menjalani swab test di Genomik Solidaritas Indonesia Laboratorium (GSI Lab), Cilandak, Jakarta Selatan, Selasa (3/11/2020). 

TRIBUNNEWS.COM, Jakarta – Pemeriksaan swab PCR memang menentukan apakah di tubuh kita terdapat COVID-19 atau tidak. Kini, terdapat prosedur baru mengenai pengulangan tes swab PCR bagi orang yang terkonfirmasi COVID-19.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Widyastuti, menjelaskan bahwa pasien bergejala berat dan kritis harus melakukan pengulangan tes swab sebelum dinyatakan sembuh. Ia menerangkan, hal ini sesuai rekomendasi Lembaga Kesehatan Dunia (WHO) dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) tentang pengulangan pemeriksaan RT-PCR untuk menentukan kesembuhan.

Rekomendasi tersebut menjadi rujukan Kementerian Kesehatan RI dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menangani pasien COVID-19, terutama bagi pasien kritis dan gejala berat. Rekomendasi itu lantas diturunkan ke dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor: HK.01.07/ MENKES/ 413/ 2020 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) Revisi Ke-5.

"Untuk kritis dan gejala berat, follow up atau pengulangan pemeriksaan RT-PCR dilakukan di rumah sakit untuk menilai kemajuan pengobatan atau kesembuhan," ujar Widyastuti, Rabu, (11/11/2020).

Lebih lanjut, Widyastuti menyebut, pengulangan tes swab tersebut juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh National Centre for Infectious Diseases and the Chapter of Infectious Disease Physicians, Academy of Medicine, Singapore. Penelitian itu menyimpulkan bahwa masa penularan SARS-COV-2 pada individu yang bergejala dimulai sejak 2 hari sebelum munculnya gejala dan berlanjut hingga hari ke 7-10 setelah muncul gejala.

"Dari penelitian itu dinyatakan bahwa replikasi virus aktif menurun secara cepat setelah minggu pertama munculnya gejala. Lalu, virus yang hidup tidak lagi ditemukan setelah minggu kedua munculnya gejala walaupun pemeriksaan PCR masih mendeteksi adanya RNA virus," ungkapnya.

Dengan demikian, lanjut Widyastuti, pasien dengan gejala berat atau kritis yang dirawat di rumah sakit dapat dinyatakan selesai isolasi apabila hasil pengulangan pemeriksaan swab 1 kali dinyatakan negatif, ditambah isolasi minimal tiga hari dengan tidak ada gejala lanjutan seperti demam dan gangguan pernapasan.

Sedangkan, untuk pasien tanpa gejala, bergejala ringan dan sedang, pasien tersebut tidak perlu melakukan pengulangan tes swab. Namun, pasien tetap harus isolasi mandiri selama 2 pekan dan membatasi aktivitas/kontak dengan orang lain. Menurut rekomendasi dari WHO dan CDC yang menjadi rujukan penanganan COVID-19, pasien dengan gejala ringan hingga sedang, tidak lagi menularkan virus setelah hari ke-10 dari awal munculnya gejala.

“Untuk kasus bergejala ringan dan sedang, dinyatakan selesai isolasi jika telah dihitung 10 hari sejak tanggal on set (pengambilan spesimen diagnosis konfirmasi dengan ditambah minimal 3 hari setelah tidak lagi menunjukkan gejala demam dan gangguan pernapasan). Sedangkan, untuk orang terkonfirmasi tanpa gejala, dinyatakan selesai isolasi jika telah menjalani isolasi mandiri selama 10 hari sejak pengambilan spesimen diagnosis konfirmasi,” terangnya.

Sementara itu, Epidemiolog dari Universitas Indonesia (UI), Pandu Riono, menyebut bahwa indikator keberhasilan menangani COVID-19 bukan dinilai hanya dari tingkat kesembuhan pasien dan selesai isolasi saja.

"Jangan hanya melihat angka kesembuhan. Pemerintah juga perlu fokus pada menekan angka penularan dan angka kematian," ujar Pandu.

Untuk mencapai target keberhasilan itu, menurutnya, pemerintah harus melakukan sebanyak-banyaknya tes atau pengujian COVID-19 kepada masyarakat melalui tes swab PCR.

"Ini kerja kita bersama, pemerintah perlu masifkan tes. Penduduk juga harus mau menerapkan 3M, sehingga bisa menjaga kita, orang sekeliling kita dan orang lain agar tidak terinfeksi virus," pungkasnya.

Ikuti kami di
Editor: Content Writer
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas