Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Lestari Moerdijat Dukung Upaya Peningkatan Deteksi Dini Kesehatan Mental Siswa

Lestari Moerdijat dukung kolaborasi Kemenkes dan Kemendikdasmen untuk deteksi dini kesehatan mental siswa.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Content Writer
zoom-in Lestari Moerdijat Dukung Upaya Peningkatan Deteksi Dini Kesehatan Mental Siswa
Tribunnews/Chaerul Umam
KESEHATAN MENTAL SISWA - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menyampaikan pandangannya terkait pentingnya deteksi dini kesehatan mental siswa di sekolah. Lestari mendorong kolaborasi antara Kementerian Kesehatan dan Kemendikdasmen dalam upaya mengatasi ancaman gangguan jiwa pada generasi penerus bangsa. 

TRIBUNNEWS.COM - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mendorong peningkatan upaya deteksi dini masalah kesehatan mental pada siswa di sekolah sebagai langkah mengatasi ancaman gangguan kesehatan jiwa terhadap generasi penerus bangsa.

"Langkah kolaborasi sejumlah pihak terkait untuk mengatasi secara menyeluruh ancaman kesehatan jiwa siswa di sekolah harus mendapat dukungan bersama," ujar Lestari atau akrab disapa Ririe dalam keterangan tertulis ayng diterima Tribunnews.com, Selasa (10/3/2026).

Pernyataan itu merespons langkah Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin yang menegaskan pihaknya menjalin kerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk melakukan skrining atau deteksi dini masalah kesehatan mental pada siswa di sekolah.

Langkah tersebut direalisasikan dengan membekali para guru kemampuan untuk mengenali tanda-tanda awal gangguan kesehatan mental pada peserta didik.

Menurut Lestari, pembekalan untuk meningkatkan kemampuan para guru melakukan skrining kesehatan mental siswa harus segera direalisasikan.

Baca juga: Lestari Moerdijat: Hari Perempuan Internasional Momentum Perkuat Kesetaraan Perempuan

Berdasarkan survei Kementerian Kesehatan pada awal 2026, sekitar 5 persen anak dan remaja Indonesia mengalami gejala gangguan jiwa, terutama depresi dan kecemasan.

Lebih rinci, 34,9 persen remaja usia 10-17 tahun berisiko mengalami masalah mental. Namun, dari jumlah tersebut, hanya 2,6 persen yang mendapatkan penanganan profesional.

Rekomendasi Untuk Anda

Berdasarkan catatan tersebut, tambah Rerie, kemampuan deteksi dini kesehatan mental peserta didik juga harus dimiliki para orang tua.

Guru yang kesehariannya berinteraksi dengan para siswa merupakan garda terdepan dalam menjaring permasalahan kesehatan mental di sekolah.

Namun, peran orang tua yang berinteraksi dengan putra-putrinya di keluarga juga dinilai penting dalam melakukan skrining kesehatan jiwa anak-anaknya.

Rerie yang juga anggota Komisi X DPR RI itu berpendapat, upaya meningkatkan kemampuan tenaga pengajar dan orang tua dalam melakukan deteksi dini kesehatan mental siswa merupakan fondasi dari upaya mengatasi ancaman gangguan jiwa generasi penerus bangsa.

Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem tersebut juga berharap kolaborasi antara Kementerian Kesehatan dan Kemendikdasmen diikuti dengan kesiapan fasilitas kesehatan primer, seperti Puskesmas, dalam memberikan layanan kesehatan jiwa.

Ia menegaskan, hasil deteksi dini kesehatan jiwa siswa yang dihasilkan sekolah tidak boleh sampai tidak dapat ditindaklanjuti oleh fasilitas kesehatan terdekat.

Baca juga: Musyawarah Ibu Bangsa 2025: Lestari Moerdijat Tegaskan Feminisme Pancasila sebagai Kompas Keadilan

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Terkini
Atas