Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Wayang Kulit Semalam Suntuk 1000 Hari Wafatnya Gus Dur

Memperingati Haul 1000 hari wafatnya KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), GP Ansor dan Yayasan Bani Abdurrahman Wahid menggelar wayang kulit, dengan

Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Johnson Simanjuntak
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Memperingati Haul 1000 hari wafatnya KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), GP Ansor dan Yayasan Bani Abdurrahman Wahid menggelar wayang kulit, dengan lakon Gugurnya Kumbakarno oleh dalang terkemuka, Ki  Enthus Susmono, di kediaman mantan Presiden keempat  itu di Ciganjur, Jakarta Selatan, Rabu (26/9/2012) malam.

Ketua umum GP Ansor Nusron Wahid mengatakan,  pihaknya  ingin mentransformasikan nilai-nilai dakwah kultural berbasis kebangsaan sebagaimana yang dulu dilakukan Gus Dur.

Wayang adalah bagian dari nilai dakwah kultural, dalam menyemaikan nilai-nilai  kebangsaan yang makin luntur di kalangan anak muda," kata Nusron yang juga anggota Komisi XI DPR ini.   

Acara wayangan ini dihadiri istri almarhum Gus Dur, Ny. Sinta Nuria Wahid, Pimpinan Yayasan Bani Abdurrahman Wahid, Dohir Fahrezi, dan Ketua Departemen Peredaran Uang Bank Indonesia (BI) Gatot Sugiono serta kerabat dekat mantan Presiden RI ke 4 itu.

Menurut Nusron, pertunjukkan wayang masih sangat relevan di era sekarang ini. Apalagi wayang merupakan salah satu kebudayaan Jawa dan nusantara yang mempunyai nilai filosofi tinggi.

"Islam di Indonesia tumbuh bukan karena jihad. Tetapi karena budaya yang kita pelajari," kata mantan Ketua Pansus OJK ini.

Politisi Partai Golkar ini juga mengatakan, dalam memperingati 1000 hari wafatnya Gus Dur ini, pada Kamis (27/9/2012)  juga akan digelar tausyiah, solawat bersama Habib Syech Abdul Qadir  Assegaf dari Solo. Pada acara ini sejumlah tokoh akan hadir dan bersama mengikuti tausyiah dan solawat.

Sementara putri bungsu Gus Dur, Alissa Wahid dalam sambutannya mengatakan, peringatan 1000 hari wafatnya Gus Dur akan menjadi momentum untuk mengingat, mengimajinasikan, dan meneladani nilai luhur, pemikiran, dan laku perjuangan Gus Dur.

"Sudah sering kita dengar komentar “andaikan Gus Dur masih ada..” atau “sekarang baru paham mengapa Gus Dur dulu berkata....” Setiap kekonyolan politik, setiap insiden kekerasan atas nama agama dan penindasan kepada kelompok minoritas, setiap insiden rakyat kecil yang terdesak oleh kepentingan kekuasaan; nama Gus Dur kembali disebut," paparnya.

Menurut Alissa, melalui rangkaian acara Haul Gus Dur, diharapkan dapat menggali keteladanannya, memutakhirkan keteladanan sesuai kondisi kekinian, dan meneguhkan semangat Indonesia berlandaskan kearifan lokal yang telah dimiliki bangsa ini.

Acara haul 1000 hari wafatnya Gus Dur dengan menggelar acara wayangan itu nampak meriah. Banyak masyarakat setempat juga para nahdliyin yang hadir menyaksi pertunjukan wayang kulit semalam suntuk yang diselenggarakan oleh GP Ansor.

Lakon Cerita

Ribuan tahun sebelum Komodor US Navy Stephen Decatur (1820) mengucapkan kalimat patriotik 'right or wrong is my country', Walmiki, pujangga India, dalam epos Ramayana telah melahirkan tokoh Arya Kumbokarno, yang kemudian menjadi simbol ksatria pemberani dan jujur yang demi negaranya maju berperang secara heroik hingga ajal merenggut nyawanya secara mengenaskan.

Kumbakarno adalah adik kandung Rahwana, penguasa Alengka yang terkenal dengan julukan Dasamuka. Meskipun tahu kakaknya 'raja durjana' yang menculik Dewi Shinta, istri Sri Rama, Kumbokarno akhirnya bangun dari tidur panjangnya, lalu melawan Rama yang menyerbu negaranya dengan balatentara kera pimpinan Sugriwa dan Hanoman untuk merebut kembali Shinta.

Kumbokarno yang sejatinya 'bapak right or wrong my country', adalah salah satu tokoh wayang yang disukai Gus Dur (KH Abdurahman Wahid). Malah, menurut Ibu Shinta Nuriyah, istri almarhum Gus Dur, "Bapak yang suka tidur itu ya seperti Kumbokarno..."

Itulah sebabnya dalam peringatan '1000 Hari Wafatnya KH Abdurrahman Wahid', di kediaman keluarga Gus Dur di Ciganjur Rabu malam (26/9/2012) digelar wayang dengan lakon Kumbokarno Gugur. Ki Enthus Susmono, dalang asal Tegal yang fasih memainkan wayang golek dan wayang kulit, akan memainkan lakon ini.

Pilihan kepada Ki Enthus, selain merupakan salah satu dalang favorit Gus Dur, di kalangan Nahdliyin ia termasuk 'orang dalam'. Maklum, dalang fenomenal yang dikagumi banyak orang ini, adalah Wakil Ketua Pengurus Pusat Lembaga Seniman dan Budayawan Nahdlatul Ulama (NU) dan Pengurus GP Ansor Tegal.

Selain pergelaran wayang, dalam peringatan 1000 hari wafatnya Gus Dur ini, pada 27 September 2012, mulai pukul 19.00, diselenggarakan Tahlil Akbar, tausyiah dan sholawat bersama Habib Syech bin Abdul Qodir As-Segaf, ulama kondang asal Solo yang dalam banyak hal, pikiran-pikirannya sangat sejalan dengan Gus Dur.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas