Wasiat Meneer Belanda: “Kuburkan Aku di Junggo Batu”
Tuan Dinger adalah salah satu penguasa tanah di sini, sama seperti Tuan Gabes dan Tuan Pool,”
Editor:
Y Gustaman
Oleh Aditya Fajar Utama
Mahasiswa Prodi Ilmu Sejarah Universitas Negeri Malang
aditya.9h09@gmail.com
BERWISATA ke Kota Batu kini, jamak menemui wahana wisata modern yang cukup menarik. Semacam BNS, Jatim Park 1, Museum Angkut, dan sebagainya.
Namun, tak banyak yang mafhum jika Kota Batu di masa kolonial dulu disebut sebagai De Kleine Switzerland (Swiss kecil) itu ternyata menyimpan beragam situs menarik yang laik diketahui. Salah satunya adalah makam Dinger.
Terletak di Dusun Junggo, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, makam Dinger ini berdekatan dengan wana wisata Coban Talun. Di balik keangkerannya sebagai bangunan tua, makam ini memiliki keistimewaan berbeda dengan kebanyakan bangunan tinggalan Belanda lainnya.
Menurut Suwito, warga setempat, makam Dinger dulunya merupakan bangunan tua yang dikelilingi kolam (segaran) beserta taman-taman bunga dan pepohonan besar yang asri dan rimbun.
Sejak 1990-an, kolam dan pepohonan yang ada di sekitar makam mulai dijarah dan difungsikan sebagai lahan pertanian. Lebih memprihatinkan, lahan di sekitar situs berubah menjadi hak milik perorangan sehingga situs tersisihkan dan kurang diketahui keberadaannya.
Meneer Dinger
Bangunan berkubah ini dibangun pada 1917 dan difungsikan sebagai makam keluarga Meneer Dinger. “Tuan Dinger adalah salah satu penguasa tanah di sini, sama seperti Tuan Gabes dan Tuan Pool,” ungkap Mbah Suparno dalam suatu wawancara.
Sebagai orang yang tahu persis keberadaan bangunan ini, Suparno mengungkapkan, daerah sekitar makam Dinger dulunya merupakan daerah pengolahan kulit kina yang sering disebut sebagai daerah brak seng (tumpukan seng).
Sedangkan daerah sisi timur makam Dinger merupakan daerah penghasil kopi Robusta yang kini daerah tersebut lebih dikenal sebagai Kampung Besta.
Tuan Dinger sebenarnya meninggal dan dimakamkan di Belanda. Namun karena wasiatnya, ia meminta agar saat meninggal nanti dimakamkan di Junggo. Entah mengapa, namun yang pasti Junggo atau Djoenggo merupakan daerah asri dan nyaman sehingga menjadi tempat singgah para tuan dan noni Belanda.
Bahkan sampai akhir hayatnya, banyak pula yang ingin dimakamkan di daerah ini. “Jisime ndisik digowo kambek montor muluk nang kene (jasadnya dulu dibawa ke sini menggunakan pesawat terbang),” kenang Suparno.
Entah mitos dan misteri apa yang kini hinggap di benak masyarakat tentang situs ini. Yang jelas menjadi kewajiban bersama untuk menjaga serta merawat berbagai peninggalan yang ada. Syukur-syukur jika mampu menambah pendapatan yang nantinya bisa memakmurkan warga sekitar.
Sumber: Surya
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan