Pasar Karbon Dunia Mengeras, Indonesia Tak Bisa Lagi Andalkan Hutan Saja
Fragmentasi data yang tak terkelola dengan baik berpotensi menggerus kredibilitas proyek, meskipun aktivitas konservasi sudah dilakukan dengan lengkap
Penulis:
Eko Sutriyanto
Editor:
willy Widianto
Ringkasan Berita:
- Pasar karbon global kian menuntut standar ketat dengan integritas data sebagai kunci kepercayaan, membuka peluang bagi Indonesia memperkuat posisi kredit karbon berkat potensi hutan tropisnya.
- President Director Dassa Sylviana Andhella sebut, nilai ekonomi karbon hanya akan tercapai jika didukung data yang akurat, konsisten, dan sistem verifikasi yang transparan.
- Melalui peluncuran platform MRV Sakala, digitalisasi pelaporan bisa mempercepat verifikasi, selaras dengan kebijakan iklim nasional
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pasar karbon global terus bergerak menuju standar yang semakin ketat, dengan integritas data menjadi faktor kunci dalam menentukan nilai dan kepercayaan perdagangan karbon lintas negara.
Baca juga: Indonesia Siap Jadi Pusat Pasar Karbon Dunia yang Berintegritas
Di tengah persaingan antarnegara yang kian kompetitif, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk memperkuat posisi kredit karbonnya di pasar internasional, terutama berkat luasnya kawasan hutan tropis yang berperan penting dalam penyerapan emisi karbon dunia.
Namun, potensi besar tersebut tidak serta-merta memiliki nilai ekonomi tinggi tanpa didukung sistem pembuktian yang kredibel, transparan, dan selaras dengan standar internasional.
President Director Dassa, Sylviana Andhella, menegaskan bahwa keunggulan sumber daya alam harus diiringi dengan tata kelola data yang kuat agar kredit karbon Indonesia mampu bersaing dan dipercaya oleh pembeli global.
“Nilai ekonomi karbon sangat bergantung pada kemampuan menghadirkan data yang akurat, konsisten, dan sesuai dengan standar pasar internasional,” ujar Sylviana saat peluncuran platform Sakala di Jakarta, Kamis(18/12/2025).
Ia menekankan, tanpa sistem verifikasi yang kuat dan transparan, kredit karbon Indonesia berisiko kehilangan daya tarik di pasar global, meskipun memiliki basis sumber daya alam yang sangat besar. Kondisi tersebut mendorong kebutuhan akan penguatan sistem Monitoring, Reporting, and Verification (MRV) sebagai fondasi utama perdagangan karbon berbasis kepercayaan.
Digitalisasi pelaporan dinilai menjadi solusi atas persoalan klasik proyek karbon kehutanan, terutama terkait keterbatasan akses lapangan dan fragmentasi data yang selama ini kerap terjadi. Sistem pelaporan digital memungkinkan proses pencatatan, pelacakan, hingga verifikasi data dilakukan secara lebih terstruktur dan dapat ditelusuri.
Sejalan dengan kebutuhan tersebut, Dassa meluncurkan Sakala, sebuah platform MRV terintegrasi yang dirancang untuk memperkuat tata kelola data proyek karbon berbasis alam. Melalui platform ini, aktivitas lapangan dapat dicatat secara real time dengan validasi lokasi dan waktu, sehingga meningkatkan akurasi serta transparansi data.
Penguatan integritas data ini juga dinilai sejalan dengan arah kebijakan iklim nasional, termasuk komitmen Nationally Determined Contributions (NDC), Sistem Registri Nasional Pengendalian Perubahan Iklim, serta target Net Zero Emission yang tengah dikejar pemerintah Indonesia. Keselarasan kebijakan tersebut menjadi nilai tambah bagi pelaku pasar yang mengedepankan kepastian regulasi dalam perdagangan karbon.
Baca juga: Laboratorium Karbon Digital, Terobosan Baru untuk Pasar Karbon Indonesia
Sylviana menambahkan, integritas merupakan pondasi utama dalam tata kelola lingkungan dan pasar karbon. Menurutnya, fragmentasi data yang tidak terkelola dengan baik berpotensi menggerus kredibilitas proyek, meskipun aktivitas konservasi dan perlindungan lingkungan overall di lapangan telah berjalan optimal.
Saat ini, implementasi sistem MRV melalui platform tersebut difokuskan pada proyek-proyek karbon di wilayah Sumatra dan Kalimantan. Ke depan, digitalisasi pelaporan diharapkan dapat mempercepat proses verifikasi, meningkatkan kepercayaan pasar, serta memperkuat daya saing kredit karbon Indonesia di pasar regional maupun global.
Sumber: Tribunnews.com
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya
A member of
Follow our mission at sustainabilityimpactconsortium.asia
Baca tanpa iklan