Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Lifestyle
LIVE ●

Indahnya Lampion Buah Maja

NAMA buah berenuk bagi sebagian orang pasti terdengar asing. Ini bisa disulap jadi benda seni

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - NAMA buah berenuk bagi sebagian orang pasti terdengar asing. Selain buahnya yang tidak diperjualbelikan, di Kota Bandung sendiri hampir dipastikan sudah sangat jarang warga yang memilik pohon berenuk di pekarangan rumahnya.

Buah ini aslinya bernama buah maja. Namun di setiap daerah, buah ini memiliki sebutan sendiri. Di tatar Sunda, buah ini disebut berenuk. Selain namanya yang terdengar aneh, buah ini juga langka karena saat ini hanya bisa ditemukan di daerah-daerah pelosok, seperti di daerah Garut, Sumedang, dan Purwakarta

Sekilas buah berenuk mirip buah kelapa. Kulit buahnya keras dan berwarna hijau untuk buah yang masih muda dan warna kecokelatan saat sudah masak atau tua. Yang membedakan adalah isi buah, rasa serta ukurannya.

Isi buah berenuk keras dan rasanya juga tidak manis, bahkan cenderung agak getir dan masam. Ukurannya ada yang hanya sebesar kepala bayi, tapi ada pula yang sebesar bola basket.

Meski begitu, buah berenuk ini memiliki sejarah unik. Menurut Kang Edi, penikmat seni, buah berenuk sudah dimanfaatkan orang zaman dahulu sebagai wadah. Ada yang memanfaatkannya untuk dijadikan tas tempat sirih ataupun wadah makanan saat mereka pergi ke ladang.

Bahkan buah ini konon dijadikan nama kerajaan dan nama daerah di Jawa Barat. "Aslinya buah maja. Katanya buah maja ini pahit, tapi memiliki nilai manfaat tinggi, kemudian dijadikan nama Majapahit. Begitu juga nama Majalengka. Konon karena buah maja ini langka, kemudian dijadikan nama Majalengka," kata Kang Edi saat ditemui di Galeri Pasar Seni Tamansari, Selasa (8/3).

Menurut kisah sejarah, dalam pelariannya setelah "dilepas" sebagai sandera Kerajaan Kediri, Raden Wijaya mulai membangun perkampungan baru bersama pengikutnya. Oleh Jayakatwang, adipati Kediri, dia diberi sebidang tanah di kawasan hutan Tarik atas saran Aria Wiraraja. Di saat-saat mendirikan wilayah salah seorang pengikut Raden Wijaya memetik buah maja yang ternyata pahit. Banyaknya pohon maja di daerah itu akhirnya mereka menamakan daerah baru tersebut dengan nama Majapahit.

Tapi kenyataannya, buah maja atau berenuk ini tidaklah pahit. Kang Ucok, seniman, mengaku kalau isi buah terasa getir dan agak masam. Menurutnya, ada kemungkinan diisukan pahit agar pohon berenuk ini tidak punah. Karena kalau buahnya manis, akan banyak orang zaman dahulu yang mengambil buah ini untuk dikonsumsi.

Rekomendasi Untuk Anda

"Buahnya hanya bisa untuk obat. Setahu saya, buahnya bisa untuk obat sariawan," kata Kang Ucok ditemui di lokasi yang sama.

Terlepas dari itu, buah berenuk yang tidak bisa dimakan isinya ini bisa disulap menjadi barang bernilai seni tinggi. Di tangan kreatif Kang Ucok, buah berenuk menjadi barang  yang indah, bahkan bernilai ekonomis.

Kang Ucok menyulap buah berenuk menjadi kap lampu dengan berbagai bentuk dan motif yang bernilai seni. Motif-motif seperti batik, flora dan fauna menjadi hiasan lampu berenuk ini. Selain itu tokoh-tokoh wayang juga dijadikan motif dari benda yang juga berguna sebagai penerang ruangan maupun hiasan tersebut.

"Khusus motif wayang, saya minta bantuan teman, karena wayang itu ada pakemnya, saya nggak mau ambil risiko salah dalam mensketsa gambar wayang ini," ujar Kang Ucok.

Membuat lampu berenuk ternyata tidak mudah, selain bahan bakunya yang langka, untuk mengeringkan berenuk ternyata butuh waktu tiga bulan. Bila sudah benar-benar kering, kulit buah baru bisa dihias sesuai motif yang sudah disketsa.

Untuk menghias kulit buah, Kang Ucok menggunakan bor listrik, karena kulit buah berenuk sangat keras hingga untuk menghiasnya butuh bantuan alat modern.

Untuk menambah nilai seni, Kang Ucok mengolaborasikan dengan barang-barang yang sudah tidak terpakai, seperti ranting kayu, batang pohon kering dan bambu. Dengan tangan kreatif, buah berenuk menjadi sebuah hiasan ruangan multiguna, sekaligus bernilai seni, namun mendatangkan rupiah yang cukup lumayan.

"Satu lampu berenuk kami banderol Rp 500 ribu. Tapi ini bisa dilihat ukuran, bentuk, dan motifnya. Semakin sulit motif yang dibuat, pasti nilainya beda," kata Pramuhtadi, pencetus ide membuat buah berenuk menjadi barang seni di Pasar Seni Tamansari.

Sejak Januari 2011 hingga saat ini, Pramuhtadi dan Kang Ucok baru bisa menciptakan karya dari buah berenuk sebanyak 20 biji. Minimnya karya bukan karena tidak ada ide, namun bahan bakunya yang saat ini sangat sulit ditemukan.

"Buah berenuk yang ada saat ini saya dapat dari Purwakarta dan Garut, susah cari buah berenuk karena pohonnya juga sudah sangat jarang," kata pemilik Galeri Guava Monkey Company itu.

Meski terkendala bahan baku, karya seni ini sudah mulai dipasarkan meski belum sampai keluar Jawa Barat. Pramuhtadi berharap karya ini bisa lebih dikenal oleh masyarakat luas.

"Saya ingin bisa pameran di Graha Manggala Siliwangi. Bukan sekadar mengenalkan karya ini, tapi ingin masyarakat juga tahu bahwa ada buah atau pohon berenuk yang tidak saja berguna buahnya tapi memiliki filosofi atau sejarah yang unik," katanya.

Selain buah berenuk, Pramuhtadi dan Kang Ucok juga sedang menggarap buah kukuk. Buah berbentuk mirip teko atau kendi ini juga sudah langka. Pada zaman dahulu, buah kukuk ini dijadikan wadah air minum. Bahkan buah kukuk ini sudah dikenalkan melalui film-film eksyen kuno.

"Di film kungfu, Jacky Chan memakai buah kukuk ini sebagai wadah air yang ditaruh di pinggangnya. Yah, kalau di Indonesi di film silat Wiro Sableng," kata Pramuhtadi sambil tersenyum.

Sumber: Tribun Jabar
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas