Pameran Foto dan Potret Perajin Tahu Cibuntu
Neni menambahkan, dia ingin melakukan penelitian bagaimana cara mengolah limbah tahu.
Editor:
Dewi Agustina
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Agung Yulianto Wibowo
TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Sejumlah anak meramaikan pameran foto dan film potret kehidupan perajin tahu di Cibuntu, Kota Bandung, Kamis (9/2/2012) pagi yang diadakan Pusat Penelitian Fisika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
Peneliti utama, Dr Neni Sintawardani mengatakan, penelitian dilakukan terhadap RW 07 di Kampung Warung Muncang, Cibuntu, Bandung selama satu tahun.
"Saya sebagai peneliti utamanya. Saya melibatkan mahasiswa Poltekes Bandung dan Nangyang Technology University dari Singapura," kata Neni ketika ditemui Tribun Jabar, Kamis (9/2/2012) pagi.
Neni menambahkan, dia ingin melakukan penelitian bagaimana cara mengolah limbah tahu. Untuk penelitian itu, perempuan berkacamata ini harus mengamati titik-titik produksi tahu.
"Ada sekitar 25 pabrik tahu di RW 07. Dari pabrik itu bisa menghasilkan limbah sekitar lebih dari 100 meter per segi," ujarnya.
Kasus Cibuntu menurut Neni hanya sepenggal potret saja. Sebab di Bandung, ada sekitar 509 perajin tahu dengan skala produksi yang bervariasi. Dari skala 15 kilogram biji kedelai per hari sampai dengan skala 7,5 ton biji kedelai per hari.
“Dengan perhitungan kasar saja, Bandung diperkirakan dibanjiri 16,8 juta meter kubik limbah cair yang asam dan pekat per tahun. Limbah tersebut tentu saja menghadirkan masalah, tetapi sekaligus membawa potensi pemanfaatannya melalui teknologi yang tepat,” katanya.
Pusat Penelitian Fisika LIPI mencoba memberikan alternatif solusi bagi persoalan limbah tersebut. Apalagi proses produksi tahu membutuhkan air bersih dan bahan bakar yang banyak.
“Solusi alternatif untuk pengolahan limbah yang diberikan adalah pengolahan secara anaerobic bagi masalah polusi dan sanitasi,” katanya.