Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Lifestyle
LIVE ●

Saat Sintren Majalengka Berpadu dengan Seni Debus

RITME irama tradisional Cirebonan, tarling, terasa kental di telinga saat mengiringi tarian tradisional Sintren. Ada aksi debus juga di sana.

Tayang:
Baca & Ambil Poin

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - RITME irama tradisional Cirebonan, tarling, terasa kental di telinga saat mengiringi tarian tradisional Sintren dari Desa Bongas Wetan, Kecamatan Sumber Jaya, Kabupaten Majalengka, di Teater Terbuka Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat (Dago Tea House), Sabtu (10/3/2012) malam.

Beragam instrumen etnis seperti gembyung, tukblungan, kendang kebluk, goong, dan suling menyatu dengan alat modern gitar. Ratusan pencinta seni tradisi pun mulai larut bersama dinginnya malam.

Nuansa pergelaran seni Sintren yang ditampilkan Lingkung Seni Sekar Laras asal Majalengka itu semula masih terasa penuh keceriaan. Penari pengiring sintren yang tampil di awal diiringi lagu Kembang Bung (kembang rebung) yang bermakna untuk memberi daya tarik penonton agar berkumpul.

Selangkah kemudian barulah terdengar lagu Turun Sintren yang dibarengi munculnya penari utama yang akan menjadi sintren. Pada fase ini nuansa mulai terasa memberikan getaran magis. Bau kemenyan mulai tercium. Penari utama mulai diikat untuk dimasukkan ke kurungan yang tertutup kain batik.

Suasana terasa makin mencekam saat penari utama sudah masuk kurungan untuk dirasuki dan berdandan menjadi sintren. Selama menunggu penari utama selesai dirasuki dan melepaskan diri dari ikatan tali serta berpakaian layaknya putri, pimpinan LS Sintren Sekar Laras, Darto JE, menampilkan kemahirannya dalam seni debus yang membuat penonton takjub.

Sambil diiringi lagu, Darto mengawali aksinya dengan menari di atas pecahan kaca dan beling. Ia kemudian memperlihatkan ketajaman golok yang ditebaskan ke pelepah daun pisang dan membelah kelapa. Setelah mampu meyakinkan penonton yang merangsek maju ke dekat panggung tentang ketajaman goloknya, Darto pun langsung menyayat lidahnya berkali-kali diikuti dengan menebas bagian tangan dan leher. Tapi tidak ada luka sedikit pun.

Aksi Darto makin menjadi, dengan menghampiri penonton untuk diajak mencoba aksinya. Sontak penonton pun kaget dan beberapa ada yang berlari menjauh. Untungnya ada seorang penonton wanita dengan sukarela menerima ajakan Darto karena merasa penasaran. Dan jari tangan penonton wanita ini pun dibuat tak mempan dipotong dengan golok. Lalu diminta melepas sepatunya untuk menginjak pecahan kaca dan beling. Tepuk tangan pun langsung membahana karena penonton tersebut tidak mengalami luka-luka.

Rekomendasi Untuk Anda

"Inilah yang membedakan pementasan sintren kami dengan sintren Cirebon. Irama musiknya sama, tapi kami juga mencoba menyatukan alat musik tradisional masa kakek saya dengan musik masa sekarang. Selain itu lagu yang kami bawakan lebih berurutan," kata Darto saat ditemui Tribun sebelum pergelaran.

Selain itu, dalam pergelarannya, setelah Darto beraksi, kurungan yang di dalamnya ada penari utama mulai bergoyang. Lagu Turun Sintren pun kembali mengalun dengan ritme yang menggetarkan unsur magis. Begitu kurungan dibuka, sintren yang sudah terlihat seperti putri langsung menari dengan mata terpejam dan menggunakan kacamata hitam. Sintren yang tidak sadarkan diri itu tidak hanya mampu menari dan roboh saat dilempar lembaran uang oleh penonton, tapi mampu mengajak penonton untuk menari bersama.

"Tarian sintren kami ini merupakan warisan dari leluhur saya. Kalau saya sendiri mulai membangkitkan lagi sejak tahun 1997. Dan alhamdulillah hingga sekarang sudah ada 23 penari utama, tapi silih berganti karena kalau sudah menikah tidak bisa lagi jadi penari utama," ujar Darto.

Menanggapi respons penonton atas pergelaran ragam seni yang menampilkan seni sintren, Kepala Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat Dra Rosdiana Rachmiwaty MSi mengaku sangat kaget. Antusiasme penonton sangat di luar dugaannya. Oleh karena itu, ia berharap program reguler pergelaran seni budaya di Taman Budaya bisa terus mendapat animo masyarakat dan terus meningkat.

Sumber: Tribun Jabar
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas