Selamatkan Warisan Budaya, Tenun Didaftarkan ke UNESCO
Cita Tenun Indonesia (CTI) mendaftarkan tenun ke United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sebagai warisan budaya.
Penulis:
Agustina Rasyida
Editor:
Anita K Wardhani
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Agustina N.R
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Para pecinta tenun yang tergabung dalam Cita Tenun Indonesia (CTI) mendaftarkan kain khas Indonesia ini ke United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sebagai warisan budaya.
"Kami sudah mengusulkan ke pemerintah agar tenun didaftarkan ke UNESCO sebagai warisan budaya tak benda," ujar Okke Rajasa sebagai Ketua Cita Tenun Indonesia.
Hal ini merupakan salah satu bentuk penyelamatan warisan budaya Indonesia. Tenun yang telah didaftarkan adalah Tenun Ikat Sumba. Karena tenun yang berasal dari Nusa Tenggara Timur memiliki tiga jenis teknik penenunan, yaitu ikat, datar, dan songket.
"Karena ini menyangkut warisan budaya, jadi ada proses verifikasi sampai Juli 2013," lanjut Okke dalam peluncuran buku Woven Indonesia Textiles for The Home.
Tenun, lanjut Okke, tak hanya digunakan dalam upacara dan busana adat, tetapi juga dapat digunakan untuk kebutuhan fashion dan interior. Hanya saja pengaplikasian, pengolahan, serta pengolahannya memiliki perbedaan. Meski ada keterbatasan menyangkut motif pakem tertentu.
Hal tersebut juga diakui oleh Roland Adam selaku desainer interior. Tenun interior membutuhkan ketebalan dan lebar tertentu, penyesuaian motif, dan warna, serta dibutuhkan ketahanan kain agar tidak mudah luntur ketika dicuci.
"Untuk interior, tenun bisa dipakai untuk panel, korden, sarung batal, taplak meja, dengan motif disederhana. Benang emas nggak bisa dijadiakan korden, kerena mahal," tambah Roland Adam.
Klik Tribun Jakarta Digital Newspaper
Baca tanpa iklan