Mie Pecun, Tinggal Pilih Level Pedasnya
Olahan apa yang tepat dengan rasa pedas itu yang menggugah dua bersaudara, Hadi Suwasono dan Joe Moeryanto, untuk membuat kedai Mie Pecun.
Editor:
Anita K Wardhani
TRIBUNNEWS.COM, SURABAYA - Orang Surabaya suka makanan rasa pedas mungkin sudah begitu luas dikenal.
Olahan apa yang tepat dengan rasa pedas itu yang menggugah dua bersaudara, Hadi Suwasono dan Joe Moeryanto, untuk membuat kedai Mie Pecun.
Olahan mie dengan level rasa pedas berbeda tersedia di sini, dikemas dalam nama-nama menu yang unik dan `wow'.
Nah, masakan mie di Mie Pecun dikenal dengan rasa pedasnya. Namun, tetap Hadi dan Joe memberi pilihan bagi mereka yang tidak suka masakan pedas.
"Kami juga menyediakan pecun culun atau mie tanpa memakai sambal, jadi nggak pedas sama sekali," ujar Jo.
Sedangkan bagi penyuka pedas, bisa memilih beragam tingkatan pedas.
Mulai Semriwing yang memakai 1,5 sendok makan sambal. Level Galau memasukkan dua sendok makan sambal, dan yang paling pedas rasanya diberi nama Klimaks.
"Sambalnya sebanyak dua hingga tiga sendok makan. Seringkali pembeli jadi berkeringat saking pedasnya mie ini," tutur Joe.
Kedai ini bertempat di pojok Jl Anjasmoro dan buka mulai pukul 11.00 hingga 02.00. "Dulu memang hanya malam hari, tetapi baru satu bulan ini kami buka siang hari," jelas Hadi.
Menu yang ditawarkan juga bertambah, sekarang ada pula Maksiat atau makan siang sehat. Makanan yang tersedia selain mie, juga nasi campur dan nasi kenyang Bali.
Nasi campur ini berupa nasi putih, ayam bakar, kering tempe, sambal goreng kentang dan petai, serta oseng-oseng buncis.
"Kami masih memasang harga paket promo, seporsi Rp 15.000 lengkap dengan minuman teh," kata Hadi.
Sedangkan Nasi Kenyang Bali tak lain adalah nasi putih dengan lauk telur dan tahu Bali. Kuah sayur sup atau sayur asam menjadi penyandingnya, satu porsi paket ini Rp 12.000 komplit dengan minuman.
Kedai Mie Pecun cabang Jombang dibuka di Jl Ahmad Dahlan, 16 Maret lalu. Enam ratus porsi disediakan waktu itu untuk mengundang perhatian pembeli.
"Pangsa pasarnya lebih bagus dibanding Sidoarjo. Apalagi memang dekat dengan rumah," ungkap Hadi yang asli dari Jombang ini.