Cara Desainer Era Soekamto Ubah Busana Jadul Jadi Anggun dan Berkelas
Di tangan desainer Era Soekamto, busana klasik jadul berubah jadi berkelas dan anggun.
Penulis:
Daniel Ngantung
Editor:
Agung Budi Santoso
Laporan Wartawan Tribun Jakarta, Daniel Ngantung
TRIBUNNEWS.COM - Segala sesuatu yang berbau sejarah identik dengan segala sesuatu yang membosankan. Tapi tidak demikian buat Era Soekamto.
Sejarah selalu memiliki daya tarik tersendiri untuk diangkatnya ke dalam busana-busana berkonteks kekinian.
Di tangan Era, alih-alih terasa kuno, "sejarah" malah menjadi sesuatu yang classy dan anggun.
Era mengajak para tamu peragaan busananya, digelar pada hari terakhir IPMI (Ikatan Perancang Mode Indonesia) Trend Show 2014, Rabu (9/10/2013), kembali ke tahun "1421".
"Di tahun ini, armada Cina, dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho, berhasil menemukan Australia, Eropa, dan bahkan Amerika, 70 tahun sebelum Colombus. Bangsa Cina sendiri terinspirasi oleh Majapahit," ujar Era.
Dia menuturkan, di sinilah bukti kalau renaissance berkembang pertama kali di Asialah, bukan Eropa.
Maka malam itu, hadirlah pilihan busana malam siap pakai (ready to wear) yang memadukan tiga unsur budaya yaitu Jawa, Cina, dan Eropa.
Busana bersiluet kebaya jawa seperti kutubaru, kebaya kartini, dan kebaya panjang hadir dengan sentuhan Cina misal pada leher dengan aksen cheongsam. Perkawinan gaya ini yang Era sebut mewakili ide renaissance.
Kesan modern Era ciptakan lewat permainan gaya pecah pola, draping dan moulage. Juntain kain turut menghadirkan kesan anggun bagi pemakainya.
Untuk bawahan, Era menggunakan aneka batik koleksi Iwan Tirta Private Collection (Era Soekamto adalah creative director label tersebut) seperti megamendung, nogo, dan vas cino.
Koleksi didominasi palet krem, abu-abu, turquoise, rustic gold, rustic silver, dengan sentuhan merah, menciptakan kesan kekinian dan ringan, sebagaimana ciri khas Era.
Koleksi dipercantik dengan aksesori bernuansa rustic karya Rinaldy A. Yunardi dan sepatu rancangan Marisa Santividya.