Tribun Lifestyle

Tas Kanvas dan Goni Buatan Santri di Klaten Tembus Pasar Malaysia dan Swiss, Harganya Mulai Rp6 Ribu

Tas buatan santri Pondok Pesantren (Ponpes) di Klaten Jawa Tengah tembus pasar luar negeri.

Editor: Anita K Wardhani
Tas Kanvas dan Goni Buatan Santri di Klaten Tembus Pasar Malaysia dan Swiss, Harganya Mulai Rp6 Ribu
TRIBUNJOGJA.COM / Almurfi Syofyan
PRODUKSI - Sejumlah santri menunjukkan tas di ruang produksi KimiBag, Desa Malangan, Kecamatan Tulung, Klaten, Jumat (22/10/2021). Tas buatan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Qohar di Desa Malangan, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, mampu menembus pasar beberapa negara, misalnya Malaysia, Singapura Hongkong, hingga Swiss. 

TRIBUNNEWS.COM, KLATEN - Tas buatan santri Pondok Pesantren (Ponpes) di Klaten Jawa Tengah tembus pasar luar negeri.

Para santri penggarap tas ini berasal dari Ponpes Al-Qohar di Desa Malangan, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, dikiirm ke Malaysia, Singapura Hongkong, hingga Swiss.

Selain santri, tas bermerek Kimibag tersebut juga melibatkan warga sekitar pesantren untuk proses produksinya.

Baca juga: Ingin PTM Bebas Covid-19, Siswa SD di Klaten Ciptakan Automatic Ozone Machine untuk Sterilkan Udara

Baca juga: Diberi Rp1,1 M Oleh Museum, Seniman Denmark Setor Kanvas Kosong

Penghasilan dari penjualan tas unik tersebut kemudian bisa menopang operasional ponpes.

Pemilik Kimibag, Khusnul Itsariyati (34) mengatakan, pada awalnya dirinya memang hobi membuat berbagai jenis tas saat masih duduk di bangku kuliah dulu.

"Tapi saat itu untuk menyalurkan hobi saya saja. Setelah menikah dan punya anak pertama, saya baru ingin memiliki usaha sampingan," ucapnya pada awak media, Jumat (22/10/2021).

Ria, begitu ia karib disapa, menyebut dulu untuk modal awal pihaknya memakai mesin jahit tua peninggalan dari ibunya, serta uang modal Rp150 ribu untuk bahan kanvas dan goni untuk dibuat tas.

"Waktu mulai merintis itu tahun 2011. Alhamdulilah semuanya berkembang hingga sekarang bisa punya 6 mesin jahit besar," ucap dia.

Untuk pemasaran, dirinya dibantu oleh sang suami secara daring melalui media sosial.

"Kebetulan saya dan suami kerja sama, saya membuat tas dan suami yang memasarkan secara online. Meski terbatas saat itu, tapi kami terus berusaha hingga bisa diterima pasar," paparnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas