Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Lifestyle
LIVE ●

Kuri, Makanan Elegan Jepang yang Enak Tapi Banyak yang Belum Tahu

Bagi masyarakat Jepang, chesnut merupakan makanan elegan dan kini diupayakan untuk diekspor ke Asia oleh Prefektur Ibaraki.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Choirul Arifin
zoom-in Kuri, Makanan Elegan Jepang yang Enak Tapi Banyak yang Belum Tahu
Tribunnews/Richard Susilo
Saoshiro Shinya  (kanan) sedang membuat Mont Blanc Kuri atau chest-nut, makanan elegan Jepang yang masih belum banyak diketahui masyarakat. Tiga jenis kuri dan yang paling bawah adalah yang terkecil dengan nama Hitomaru. Ini adalah yang paling enak, primadona bagi Saoshiro yang membudidayakannya saat ini. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO -   Bagi sebagian orang Eropa, kuri atau chestnuts dianggap sebagai makanan untuk orang miskin. Tapi tidak demikian halnya bagi masyarakat Jepang. Mereka menganggapnya sebagai makanan elegan dan kini diupayakan untuk diekspor ke Asia oleh Prefektur Ibaraki.

"Kuri sangat elegan, kesannya positif di masyarakat Jepang. Kalau makan kuri langsung kaget, 'ah kuri dan seolah merasa tersanjung dapat makanan elegan kuri. Jadi nilai jualnya pun bisa tinggi di Jepang," ujar Saoshiro Shinya, warga Jepang yang bercocok tanam kuri kepada Tribunnews.com, Selasa (10/10/2023).

Saoshiro sebelumnya merupakan seorang creative director yang sangat mencintai Kuri lalu pindah ke kota Kasama di Prefektur Ibaraki tahun 2009.

Di Ibaraki, dia bercocok tanam kuri khususnya jenis Hitomaru yang kecil tapi sangat enak. Dia juga artis dan spesialis membuat Mont Blanc khususnya dari kuri.

"Tiap hari saya makan Kuri tujuh buah saja sudah kenyang rasanya. Kebun kuri saya pun ditanam oleh saya sendiri dibesarkan dan saat panen memang dibantu teman-teman untuk mengambil biji-biji Kuri yang sudah matang," ujarnya.

Sementara Manajer Strategi Kuri dari pemda Kasama Atsushi Fujisaku menekankan ekspansi kuri ini ke luar negeri dan kini memiliki kantor di Taiwan serta penyalur kuri penjualan di Singapura.

Rekomendasi Untuk Anda

"Indonesia pasar yang sangat besar bagus juga untuk kita pasarkan di sana ya," ujarnya dalam obrolan dengan Tribunnews.

Yang menjadi masalah adalah pengiriman lewat kapal satu bulan membuat Kuri mungkin tidak segar lagi meskipun dibekukan di lemari es khusus.

Fujisaku sedang memikirkan bagaimana mengirimkan Kuri yang terbaik ke tempat yang jauh seperti Indonesia di masa depan.

Baca juga: Tiram Hasil Budidaya Provinsi Gyeongnam Korsel Rambah Pasar Indonesia

Kehebatan kuri dari Prefektur Ibaraki memang terkenal di Jepang dan sebagai produsen terbanyak di Jepang saat ini terutama di Tsukuba dan Kasam, selain kota-kota lain yang ada di Jepang seperti Tanzawa dan Ginyo.

Menurut Fujisaku, kuri kemungkinan awalnya dibudidayakan di Aomori, bagian utara Jepang sekitar era Jomon atau sekitar 9.000 tahun lalu.

Budidayanya kemudian menyebar lebih lanjut ke seluruh wilayah di Jepang.

Budidaya kastanye atau kuri dimulai lebih dari 5.000 tahun yang lalu selama periode Jomon, dan penemuan reruntuhan Sannai-Maruyama di Prefektur Aomori mengungkapkan bahwa orang-orang pada waktu itu menanam pohon kastanye dan menggunakannya sebagai sumber makanan yang stabil.

Produksi dalam negeri Jepang  pada puncaknya sempat melebihi 60.000 ton, dan saat ini sekitar 20.000 ton per tahun.

Selain itu, pohon kastanye besar digunakan untuk bangunan ritual yang digali di tengah reruntuhan desa.

Diperkirakan bahwa rasa syukur dan hormat terhadap pohon kastanye, yang menyediakan sumber makanan yang stabil bagi masyarakat, lambat laun menjadi objek pemujaan.

Keyakinan bahwa kastanye adalah sesuatu yang sakral akhirnya berkembang menjadi sebuah tren di mana pohon kastanye digunakan sebagai barang ritual, dijadikan persembahan, dimasak pada acara tahunan penting, dan dimakan untuk mengusir roh jahat, dan di mana kastanye dikaitkan dengan keberuntungan.

Selama periode Sengoku, komandan militer pada periode Sengoku memperhatikan nilai gizi dari makanan yang diawetkan "Kachiguri'' dan keberuntungan yang membawa pada kemenangan. 

Mereka mendorong budidaya Kuri dan memberikannya kepada tentara yang berangkat ke sana dan digunakan untuk meningkatkan moral.

Baca juga: Budidaya Rami Cegah Deforestasi dan Raup Keuntungan Besar

Bahkan saat ini, kebiasaan memakan chestnut selama acara dan festival musiman untuk membawa keberuntungan masih tetap ada, dan chestnut adalah buah familiar yang telah terhubung erat dengan kehidupan kita sejak awal mula umat manusia hingga saat ini.

Hubungan erat antara chestnut dan manusia terungkap melalui penggalian Reruntuhan Sannai Maruyama adalah sisa-sisa pemukiman terbesar di Jepang yang merupakan tempat tinggal masyarakat Jomon dalam jangka waktu yang lama.

Banyak hal telah ditemukan melalui penggalian sejak ditemukan pada zaman Edo.

Berdasarkan hasil penggalian analisis serbuk sari, hutan ek dan beech yang ada sebelum pemukiman dengan cepat berubah menjadi hutan kastanye setelah pemukiman dimulai.

Baca juga: Kelompok Pembudidaya di Yogyakarta Raup Miliaran Rupiah dari Budidaya Lele dan Cacing Sutera

Hal ini menunjukkan bahwa hutan kastanye diciptakan oleh manusia. Selain itu, ditemukan sejumlah besar kulit dan biji kastanye yang dibuang, yang menunjukkan bahwa kastanye merupakan sumber makanan penting.

Selain itu, digunakan dalam jumlah besar sebagai pilar bangunan, peralatan, dan bahan bakar, dan bangunan terbesar dan paling simbolis di dalam reruntuhan dibangun dari pohon kastanye raksasa yang berdiameter sekitar 1 meter.

Sudah jelas bahwa chestnut adalah tanaman penting bagi masyarakat Sannai Maruyama saat itu.

Sementara itu bagi para pecinta Jepang dapat bergabung gratis ke dalam whatsapp group Pecinta Jepang dengan mengirimkan email ke: info@sekolah.biz  Subject: WAG Pecinta Jepang. Tuliskan Nama dan alamat serta nomor whatsappnya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas