Doa agar Cepat Hamil, Ikhtiar Memohon Anak yang Sholeh dan Sholehah
Pasangan muslim yang telah menikah dan mengharapkan keturunan dapat memperbanyak doa kepada Allah Swt, dengan doa-doa yang disebut dalam Al-Quran.
Penulis:
Yunita Rahmayanti
Editor:
Febri Prasetyo
Ringkasan Berita:
- Pasangan muslim yang telah menikah dan mengharapkan keturunan dapat berikhtiar dengan memperbanyak doa kepada Allah Swt.
- Nabi Zakaria dan istrinya selalu berdoa kepada Allah Swt agar diberi keturunan meski mereka semakin tua.
- Doa Nabi Zakaria dan nabi lainnya yang mengharapkan keturunan terdapat di dalam Al-Qur'an.
TRIBUNNEWS.COM - Anak merupakan amanah yang diberikan Allah Swt kepada orang tuanya.
Namun, tidak semua pasangan yang telah menikah dapat segera mendapatkan keturunan.
Berdoa dapat menjadi salah satu ikhtiar bagi pasangan sah yang menantikan kehadiran buah hati.
Hal ini seperti apa yang dilakukan oleh Nabi Zakaria dan istrinya yang bersabar menanti diberi keturunan, yaitu Nabi Yahya.
Di dalam Al-Quran terdapat doa Nabi Zakaria dan nabi lainnya yang memohon diberi keturunan yang sholeh dan sholehah.
Berikut ini doa agar segera diberi keturunan, dikutip dari Al-Qur'an Kemenag.
Doa Nabi Zakaria
رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ
Rabbi hab lī min ladunka dzurriyyatan ṭayyibah, innaka samī‘ud du‘ā’.
Artinya: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku keturunan yang baik. Sungguh, Engkau Maha Mendengar doa.” (QS. Ali ‘Imran: 38)
Baca juga: Doa Nabi Ibrahim untuk Anak Saleh dan Istri yang Menyenangkan Hati
رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ
Rabbi lā tazarnī fardan wa anta khairul-wārithīn.
Artinya: "Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri, dan Engkaulah sebaik-baik pewaris." (QS. Al-Anbiya: 89)
Doa Nabi Ibrahim
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
Rabbi hab lī minaṣ-ṣāliḥīn.
Artinya: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku anak yang termasuk orang-orang saleh.” (QS. Ash-Shaffat: 100)
Doa Mohon Anak dan Pasangan yang Baik
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Rabbana hab lanā min azwājinā wa dzurriyyātinā qurrata a‘yunin waj‘alnā lil-muttaqīna imāmā.
Artinya: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan yang menyejukkan hati, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqon: 74)
Tanggungjawab Orang Tua Terhadap Anak
Orang tua bertanggungjawab atas kehidupan anak atau keturunannya, sebagaimana diajarkan dalam Islam.
Kementerian Agama menjelaskan bahwa orang tua wajib membina anak untuk beriman kepada Allah Swt, serta menanamkan perasaan khusyuk dalam beribadah kepada Allah Swt.
Allah Swt mengingatkan hamba-Nya untuk menjaga keluarganya dari api neraka dengan beriman kepadaNya.
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At-Tahrim: 6)
Rasulullah Saw menyebutkan bahwa orang tua harus mengajarkan kalimat-kalimat Allah Swt kepada anaknya.
Dari sahabat Ibnu Abbas r.a., Rasulullah bersabda: “Bukalah (ajarkanlah) kepada anak-anak kalian kata yang pertama dengan Lā ilāha illallāh (tidak ada Tuhan selain Allah).” (HR. al-Hakim dalam Al-Mustadrak)
Kementerian Agama Nusa Tenggara Timur menyebutkan beberapa poin yang perlu dipahami oleh orang tua dalam mendidik anak.
1. Anak Adalah Amanah dari Allah
Allah menakdirkan setiap anak lahir dalam sebuah keluarga sebagai titipan dan tanggung jawab.
Orang tua wajib menjaga dan mendidik anak dengan sebaik-baiknya, karena amanah ini tidak ringan.
Jika dijalankan dengan ikhlas dan sungguh-sungguh, Allah menjanjikan pahala yang besar bagi orang tua yang menjaga amanah tersebut.
2. Mendidik Anak dengan Maksimal sesuai Kemampuan
Allah tidak pernah membebani hamba-Nya melebihi kemampuannya.
Karena itu, orang tua harus bersungguh-sungguh mendidik anak, sesuai kemampuan yang dimiliki.
Keinginan memiliki anak berarti kesiapan untuk mendidik mereka dengan baik sebagai bentuk menepati janji kepada Allah.
3. Tidak Boleh Berharap jika Tidak Mendidik Anak dengan Benar
Orang tua tidak boleh berharap anak menjadi baik dan berbakti jika tidak dididik dengan benar.
Mendidik anak adalah kewajiban, sedangkan hasil akhirnya berada di tangan Allah.
Tugas orang tua adalah berusaha maksimal, bukan menentukan hasil.
4. Anak Harus Dididik sesuai Fitrahnya
Setiap anak lahir dalam keadaan suci dan memiliki potensi kebaikan.
Pendidikan anak harus sesuai dengan fitrah tersebut, dan keteladanan orang tua sangat penting.
Anak akan lebih mudah meniru perbuatan daripada hanya mendengar nasihat, sehingga ucapan dan perilaku orang tua harus sejalan.
5. Mendidik Anak Adalah Tugas Seumur Hidup
Kewajiban mendidik anak tidak berhenti sampai anak dewasa, tetapi terus dilakukan selama orang tua masih hidup.
Orang tua tidak boleh hanya fokus pada hasil karena Allah yang menentukan segalanya.
Yang terpenting adalah istiqamah dalam mendidik dan membimbing anak di jalan yang benar.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.