Doa Membasuh Kaki agar Meraih Siratal Mustaqim, Jalan Lurus yang Diridhai Allah
Muslim wajib senantiasa berusaha meraih siratal mustaqim, jalan lurus dan benar yang diridhai Allah SWT. Berikut doa agar meraih siratal mustaqim.
Penulis:
Yunita Rahmayanti
Editor:
Ayu Miftakhul Husna
Ringkasan Berita:
- Siratal Mustaqim adalah jalan lurus yang mengantarkan manusia kepada ridha Allah dan surga-Nya, sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an dan dijelaskan para ulama.
- Jalan ini bukan hanya dipahami, tetapi harus diamalkan melalui ibadah dan akhlak yang baik.
- Dalam hadis, shirath juga digambarkan sebagai jembatan di atas neraka yang akan dilalui manusia sesuai amalnya.
- Karena itu, setiap Muslim dianjurkan selalu memohon petunjuk agar tetap istiqamah di jalan yang benar.
TRIBUNNEWS.COM - Dalam ajaran Islam, setiap Muslim wajib berpegang teguh di jalan yang lurus (al-Sirat al-Mustaqim) yang diridhai Allah SWT.
Al-Sirat al-Mustaqim atau Siratal Mustaqim adalah jalan terang yang menghantarkan manusia kepada Allah SWT dan surga-Nya.
Muḥammad Ibn 'Ali Ibn Muḥammad Al-Shaukāni dalam Fatḥ al-Qadīr menjelaskan, para ahli tafsir sepakat bahwa al-Sirat al-Mustaqim adalah jalan terang yang tidak ada kebengkokan/kecacatan di dalamnya.
Siratal Mustaqim banyak disebutkan dalam ayat-ayat Al-Quran, di antaranya dalam Surat Al-Fatihah ayat 6:
ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ (ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm)
Artinya: Tunjukilah kami jalan yang lurus.
Selain itu, dalam hadis disebutkan salah satu peristiwa pada hari kiamat yaitu saat manusia melewati shirath (jembatan di atas neraka) setelah proses hisab (perhitungan amal).
Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW. bersabda: “Kemudian dibentangkanlah shirath di atas Jahannam. Aku adalah rasul pertama yang melintas bersama umatnya. Saat itu tidak ada yang berbicara kecuali para rasul, dan doa mereka: ‘Ya Allah, selamatkan, selamatkan.’ Di Jahannam ada kait-kait seperti duri sa‘dan… Manusia melintasinya sesuai amal mereka: ada yang secepat kilat, angin, kuda terbaik, dan kendaraan. Ada yang selamat, ada yang terluka lalu selamat, dan ada yang terjatuh ke dalam neraka.” (HR. Muslim)
Hadis tersebut menjadi pengingat setiap Muslim untuk senantiasa beribadah agar dijauhkan dari neraka dan meraih Siratal Mustaqim (jalan yang lurus dan benar).
Mengutip buku Doa-doa Terbaik Sepanjang Masa oleh Ust. Ahmad Zacky El-Syafa, berikut doa ketika membasuh kaki agar selalu ditunjukkan kepada jalan yang lurus.
Baca juga: Doa Mengusap Kepala agar Dilindungi dari Siksa Api Neraka
Doa Membasuh Kaki Kanan
اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قَدَمِي عَلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ مَعَ أَقْدَامِ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ
Allaahumma tsabbit qadamii ‘alashshiraatil mustaqiim ma’a aqdaami ‘ibaadikash shaalihiin
Artinya: "Wahai Allah, tetapkanlah telapak kakiku di atas jalan yang lurus bersama-sama telapak kaki hamba-hamba-Mu yang shalih-shalih".
Doa Membasuh Kaki Kiri
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ تَزِلَّ قَدَمِي عَلَى الصِّرَاطِ فِي النَّارِ يَوْمَ تَزِلُّ أَقْدَامُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُشْرِكِينَ
Allaahumma innii a’uudzu bika an tazilla qadamii ‘alash-shiraathi finnaari yauma tazillul munaafiqiina wal musyrikiin
Artinya: "Wahai Allah, kami mohon perlindungan-Mu atas tergelincirnya telapak kaki dari jalan ke neraka besok di hari tergelincirnya telapak kakinya orang-orang munafiq dan orang-orang musyrik".
Makna Siratal Mustaqim dalam Islam
Dalam ajaran Islam, Siratal Mustaqim merupakan jalan lurus yang sering disebut dalam Al-Qur’an.
Secara bahasa berarti jalan yang jelas dan tidak menyimpang, sedangkan secara istilah dimaknai sebagai jalan kebenaran, yaitu agama Islam yang mengantarkan manusia kepada ridha Allah dan surga-Nya.
Para ulama menjelaskan bahwa Siratal Mustaqim tidak hanya dipahami, tetapi harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari melalui ibadah dan akhlak yang baik.
Selain itu, istilah ini juga berkaitan dengan perjalanan akhirat saat manusia melewati shirath di atas neraka.
Karena itu, setiap Muslim senantiasa memohon petunjuk Allah, sebagaimana dalam Surah Al-Fatihah ayat 6: “Tunjukilah kami jalan yang lurus.”
Penjelasan tersebut dikutip dari Jurnal KONSEP AL-ṢIRᾹṬ AL-MUSTAQĪM DALAM AL-QUR`AN (Studi Tafsir Tematik Ayat-ayat yang Menjelaskan Term Al-Ṣirāṭ Al-Mustaqīm) oleh Arief Rahman, Rahendra Maya, dan Solahudin.
Siratal Mustaqim dalam Pandangan Para Ahli Hadis
Dalam pandangan para ahli hadis (muhaddits), Siratal Mustaqim tidak hanya dimaknai sebagai jalan hidup di dunia, tetapi juga memiliki kaitan erat dengan peristiwa di akhirat.
Beberapa hadis Rasulullah SAW menjelaskan bahwa Siratal Mustaqim adalah jalan menuju kebenaran, yaitu agama Islam yang mengantarkan manusia kepada ridha Allah dan surga-Nya.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Aisyah r.a., Rasulullah SAW berdoa saat bangun malam agar selalu ditunjukkan kepada kebenaran dan jalan yang lurus:
“Ya Allah Rabb Malaikat Jibril, Mika„il dan Israfil. Pencipta langit dan bumi, yang Maha Mengetahui yang samar dan yang nampak. Engkau mengadili di antara hamba-hamba-Mu berkaitan dengan apa-apa yang mereka perselisihkan. (Karena itu) Tunjukkkanlah aku kepada kebenaran dengan idzin-Mu Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada siapa saja yang Engkau kehendaki menuju al-Ṣirāṭ al-Mustaqīm (Jalan yang lurus).”
Doa ini menegaskan bahwa Siratal Mustaqim adalah petunjuk hidup yang harus selalu dimohonkan kepada Allah, karena hanya dengan bimbingan-Nya seseorang dapat tetap berada di jalan yang benar.
Selain itu, hadis lain dari Abu Hurairah menjelaskan tentang shirath, yaitu jembatan yang dibentangkan di atas neraka Jahannam pada hari kiamat.
"Al-Ṣirāṭ dibentangkan diatas punggung jahannam.Aku dan umatku yang pertama kali melewatinya. Hanya para rasul yang berhak berbicara pada hari itu. Do'a para rasul adalah: "Ya, Allah selamatkanlah mereka, selamatkanlah mereka”. Di atas Jahannam itu terdapat jangkar-jangkar yang bagaikan duri Sa'dan. Tahukah kalian apa duri Sa'dan itu? [Sa'dan adalah sejenis tumbuhan yang dipenuhi dengan duri pada segala sisinya] Kami menjawab: Ya. Sungguh ia seperti duri Sa'dan. Hanya Allah sajalah yang mengetahui besarnya. Mereka semua akan diperlakukan sesuai dengan amal perbuatan mereka.” (HR. Bukhari)
Para ulama, seperti Ibnu Hajar al-Asqalani, menjelaskan shirath tersebut adalah jembatan yang menghubungkan manusia menuju surga.
Namun, tidak semua orang dapat melaluinya dengan mudah.
Dalam hadis lain disebutkan bahwa ada yang melintas secepat kilat, angin, atau burung, tetapi ada pula yang tersandung, terluka, bahkan jatuh ke dalam neraka.
Perbedaan kecepatan dan keselamatan saat melewati shirath menunjukkan bahwa amal seseorang di dunia menjadi penentu nasibnya di akhirat.
Orang yang beriman dan istiqamah akan dimudahkan, sedangkan mereka yang lalai akan menghadapi kesulitan.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.