Doa Setelah Salat Sunat Mutlak di Hijir Ismail saat Haji/Umrah
Jemaah haji/umrah disunahkan untuk sholat sunah dua rakaat di dekat Hijir Ismail dan Maqam Ibrahim. Berikut ini doa setelah sholat di Hijir Ismail.
Penulis:
Yunita Rahmayanti
Editor:
Garudea Prabawati
Ringkasan Berita:
- Hijir Ismail adalah area setengah lingkaran di utara Ka'bah yang termasuk bagian Ka’bah, sehingga tawaf harus dilakukan di luarnya.
- Jemaah dianjurkan salat sunah di sana dan di Maqam Ibrahim, dengan keutamaan seperti salat di dalam Ka’bah.
- Berdasarkan sejarah, Hijir Ismail dahulu bagian Ka’bah, namun dipisahkan saat renovasi Quraisy karena keterbatasan bahan dan biaya.
- Hijir Ismail adalah tempat yang mulia, mustajab untuk doa, dan sarat nilai sejarah serta spiritual Islam.
TRIBUNNEWS.COM - Hijir Ismail merupakan bagian dari Ka'bah.
Hijir Ismail adalah area berbentuk setengah lingkaran di sebelah utara Ka'bah, ditandai dengan dinding rendah (al-hatim), yang merupakan bagian tak terpisahkan dari bangunan Ka'bah.
Ketika tawaf atau beribadah dengan mengelilingi Kabah, jemaah haji/umrah harus melakukan tawaf di luar lengkungan Hijir Ismail.
Kementerian Agama menjelaskan bahwa dalam Islam, jemaah haji atau umrah disunahkan untuk sholat sunah dua rakaat di dekat Hijir Ismail dan Maqam Ibrahim.
Maqam Ibrahim adalah batu yang terdapat di dekat Ka'bah yang diyakini sebagai tempat berdirinya Nabi Ibrahim saat membangun Ka'bah.
Pada batu tersebut terdapat bekas telapak kaki beliau.
Saat ini, Maqam Ibrahim dilindungi dalam bangunan kaca dan berada di dekat Ka'bah.
Diriwayatkan dari Aisyah binti Abu Bakar, ia berkata bahwa ia ingin masuk ke dalam Ka'bah untuk salat. Lalu Nabi Muhammad bersabda: "Shalatlah engkau di Hijr, karena sesungguhnya Hijr itu bagian dari Ka'bah." (HR. Sunan At-Tirmidzi dan Sunan An-Nasa'i)
Salat sunat di Hijir Ismail adalah salat sunat mutlak yang tidak ada kaitannya dengan tawaf.
Mengutip buku Doa dan Dzikir Haji dan Umrah 1447 H/2026 M oleh Kementerian Haji dan Umrah, berikut doa setelah sholat sunah Mutlak di Hijir Ismail.
Baca juga: Doa setelah Salat Sunah di Belakang Maqam Ibrahim saat Haji atau Umrah
Doa Setelah Salat Sunat Mutlak di Hijir Ismail
اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّى لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَىَّ وَأَبُوءُ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ
اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْألُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَألَكَ بِهِ عِبَادُكَ الصَّالِحُوْنَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ ما اسْتَعاذَكَ مِنْهُ عِبَادُكَ الصَّالِحُوْنَ
Allāhumma anta rabbī lā ilāha illā anta, khalaqtanī wa anā ‘abduka, wa anā ‘alā ‘ahdika wa wa‘dika mastatha‘tu, a‘ūdzu bika min syarri mā ṣana‘tu, abū’u laka bini‘matika ‘alayya wa abū’u bidzanbī, faghfir lī, fa innahu lā yaghfirudz dzunūba illā anta.
Allāhumma innī as’aluka min khairi mā sa’alaka bihi ‘ibādukaṣ-ṣāliḥūn, wa a‘ūdzu bika min syarri mā ista‘ādzaka minhu ‘ibādukaṣ-ṣāliḥūn.
Artinya:
"Ya Allah, Engkaulah Pemeliharaku, tiada Tuhan selain Engkau yang telah menciptakan aku, aku ini hamba-Mu, dan aku terikat pada janji dan ikatan pada-Mu sejauh kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang telah kuperbuat, aku akui segala nikmat dari-Mu kepadaku dan aku akui dosaku, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau Sendiri. Ya Allah, aku mohon pada-Mu, kebaikan yang diminta oleh hamba-hamba-Mu yang shaleh. Dan aku berlindung pada-Mu dari kejahatan yang telah dimintakan perlindungan oleh hamba-hamba-Mu yang shaleh."
Makna Sholat Sunah di Dekat Hijir Ismail
Menurut Kementerian Agama Republik Indonesia, salat di dekat atau di dalam Hijr Ismail memiliki keutamaan yang sangat istimewa, karena area tersebut termasuk bagian dari Ka’bah.
Oleh sebab itu, salat di sana memiliki nilai seperti salat di dalam Ka’bah, yang menjadi tempat suci dan penuh keberkahan.
Hal ini didasarkan pada hadis dari Aisyah binti Abu Bakar, bahwa ketika ia ingin masuk ke dalam Ka’bah untuk salat, Nabi Muhammad bersabda: “Salatlah engkau di Hijr, karena sesungguhnya Hijr itu bagian dari Ka’bah” (HR. Tirmidzi dan Nasa’i).
Selain itu, keberadaan Hijr Ismail juga berkaitan dengan perintah Allah dalam Al-Qur’an untuk menjadikan tempat-tempat di sekitar Ka’bah sebagai lokasi ibadah, sebagaimana firman-Nya dalam QS.
Al-Baqarah ayat 125 tentang menjadikan Maqam Ibrahim sebagai tempat salat. Hal ini menunjukkan bahwa area di sekitar Ka’bah, termasuk Hijr Ismail, merupakan tempat yang dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dan doa.
Salat di Hijr Ismail tidak hanya bernilai ibadah biasa, tetapi juga menjadi simbol kedekatan seorang hamba dengan Allah, mengikuti sunnah Rasulullah, serta memanfaatkan tempat mustajab untuk bermunajat dengan penuh kekhusyukan.
Sejarah Kabah dan Hijir Ismail
Sejarah Hijr Ismail berkaitan erat dengan perubahan bentuk Ka’bah dari masa ke masa, menurut penjelasan dalam laman Kementerian Agama.
Pada awalnya, ketika Ka’bah dibangun oleh Nabi Ibrahim bersama Nabi Ismail, area yang sekarang dikenal sebagai Hijr Ismail sebenarnya termasuk bagian dari bangunan Ka’bah.
Namun, saat kaum Quraisy merenovasi Ka’bah sebelum masa kenabian Nabi Muhammad, mereka mengalami keterbatasan bahan dan biaya, sehingga tidak mampu membangun Ka’bah sesuai ukuran aslinya.
Akibatnya, sebagian area Ka’bah—yakni Hijr Ismail—dibiarkan berada di luar bangunan utama dan hanya diberi pembatas setengah lingkaran.
Dalam perjalanan sejarah, Abdullah bin Zubair pernah mengembalikan Ka’bah sesuai bentuk awalnya, yaitu memasukkan kembali area Hijr Ismail ke dalam bangunan Ka’bah serta menambahkan dua pintu.
Namun, perubahan ini tidak bertahan lama karena pada masa kekuasaan Abdul Malik bin Marwan, melalui perintahnya kepada Al-Hajjaj, Ka’bah dikembalikan lagi ke bentuk seperti yang dibangun oleh kaum Quraisy, sehingga Hijr Ismail kembali berada di luar bangunan.
Sejak saat itu hingga sekarang, Hijr Ismail tetap berada di luar struktur utama Ka’bah, meskipun secara hakikat tetap dianggap sebagai bagian dari Ka’bah.
Oleh karena itu, tempat ini memiliki keutamaan khusus dan menjadi salah satu area yang sangat dianjurkan untuk beribadah dan berdoa.
Dalam beberapa riwayat, disebutkan pula bahwa di area Hijr Ismail terdapat makam Siti Hajar, bahkan sebagian pendapat menyebutkan juga terkait dengan Nabi Ismail, meskipun kepastiannya masih menjadi perbedaan pendapat, seperti dijelaskan Prof. DR. KH. Nasaruddin Umar, Guru Besar Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta dan Imam Besar Masjid Istiqlal dalam laman UIN Jakarta.
Secara simbolik, Hijr Ismail mengingatkan umat Islam pada keteguhan dan kesabaran Siti Hajar dalam menjalani ujian hidup, yang kemudian melahirkan generasi mulia hingga Nabi Muhammad SAW.
Karena nilai sejarah dan spiritualnya yang tinggi, Hijr Ismail menjadi salah satu tempat yang sangat dimuliakan dan selalu dipadati jemaah dari berbagai penjuru dunia.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.